Tuesday, January 18, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 027

Betania

Mei 14 M

 

Pelita rumah-rumah berkelap-kelip seperti bintang tampak dari kejauhan. Hati lelaki itu lebih riang. Ia tahu rumah itu makin dekat. Perjalanannya hampir mencapai tujuan. Desa Betania sudah tampak di depan mata. Ia mempercepat jalannya dan berharap tidak kemalaman.

 

Ia menyusuri jalan-jalan berbatu dan melihat-lihat di sekitarnya. Ladang-ladang yang dipenuhi bulir-bulir gandum tampak makin indah saat petang itu; siluet-siluet kemerahan matahari yang menimpa bulir kuning dan berpadu dengan bayangan-bayangan yang makin panjang ke barat membentuk barisan warna hitam. Ia tergoda untuk memetik salah satu butir gandum itu; mengisarnya dengan batu dan mulai memakan gandum itu. Ia lapar.

 

Bintang-bintang mulai menampakkan wajahnya; sesaat ia terpesona. Namun kemudian, ia buru-buru berbelok ke jalan setapak yang sejajar dengan jalan berbatu itu. Ada beberapa orang yang lewat membawa obor. Saat itu ia tidak ingin ada orang yang melihatnya. Apalagi dengan keadaannya yang sedemikian rupa; sedapat mungkin ia menghindari mereka. Ia tidak ingin menimbulkan pertanyaan-pertanyaan orang-orang yang berpapasan dengannya. Ia tidak mau menjadi bahan tertawaan.

 

Ia berhenti sejenak mengamati orang-orang itu, mungkin mereka sedang menjenguk ladang-ladang mereka untuk membuat persiapan pesta hari raya tujuh minggu. "Bukankah sudah empat puluh sembilan hari sesudah Paskah," batinnya mengingatkan. Mengingat Paskah, ia mempercepat langkah kakinya. Jalan setapak yang ia lewati sudah menyatu lagi dengan jalan berbatu, tetapi ia beruntung, hari sudah malam dan bulan bersinar hanya sepertiga bagian. Ia bersyukur, "Heach![1]". Ia terus berjalan hingga sampai pada rumah yang terletak paling dekat dengan rumah ibadat. Itulah rumahnya. Ia teringat lagi peristiwa pada Paskah itu.

 

Pada Paskah itu ia sedang bertugas di Bait Suci; ini memang giliran kaumnya. Saat itu ia menolong ayahnya yang bertugas mempersembahkan kurban bakaran di ruang kudus. Ruangan di dalam pelataran orang Yahudi waktu itu sangat sesak sehingga ia harus melewati orang-orang yang berdesakan untuk mempersembahkan kurban bakaran. Ia harus mengatur mereka agar lebih tertib dan jalannya upacara dapat berlangsung khidmat. Sering kali mereka tergesa-gesa agar kurban mereka segera dibakar oleh imam sehingga kerap terjadi keributan dalam Bait Suci. Ia bertekad saat ia bertugas tidak ada keributan apa pun yang menyebabkan pekerjaan mereka berdua, ia dan ayahnya, dapat terancam. Imam Besar Hanas sangat tegas, walaupun baginya kata "tegas" sangat tidak cocok dengan Imam Besar itu. Ia lebih suka menyebutnya menakutkan, tetapi kata itu hanya terucap dalam hati saja. Ia tahu, Imam Besar dan keluarganya sangat berpengaruh dalam seluruh kehidupan imam-imam dan budak-budak yang bertugas di Rumah Suci ini. Kelima anak-anak lelakinya bertugas di tempat ini dan mereka menempati jabatan-jabatan strategis. Apabila mereka mendengar sesuatu yang merendahkan orangtuanya, bisa-bisa imam serta seluruh keluarganya langsung jatuh miskin. Setidaknya ia berharap pekerjaan ayahnya tidak terancam oleh kesalahannya kali ini.

 

Mereka yang datang merayakan Paskah di Bait Tuhan ini datang dari berbagai penjuru bumi. Kadang-kadang ia mendengar orang-orang yang datang tidak berbahasa sama dengan bahasa orang-orang Yerusalem. Biasanya mereka memakai bahasa Yunani. Ia tidak dapat berbahasa Yunani dan bangga dengan itu. "Bahasa Yunani, bahasa kafir," sungutnya.

 

Tiba-tiba, tergopoh-gopoh sekeluarga datang dengan membawa domba yang telah tersembelih. "Maaf, apakah kami masih dibolehkan untuk menghaturkan kurban bakaran?" tanya sang kepala keluarga. Ia sedikit kaget dan memandang keluarga itu. "Kami datang dari Betania, sebenarnya sangat dekat. Namun domba yang kami siapkan dari rumah tiba-tiba sakit lemas di tengah perjalanan sehingga kami harus menyuruh bujang kami kembali ke rumah. Kami tidak membeli domba di sini karena kami ingin menyembah dengan hasil murni pekerjaan kami," si ayah menjelaskan.

 

Bersambung...



[1] Syukurlah! - bhs. Ibrani