Tuesday, January 25, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 028

Ia tidak mendengar penjelasannya, ia memerhatikan salah satu anggota keluarga yang dombanya tiba-tiba sakit itu. Tiba-tiba jantungnya berhenti berdetak, napasnya sesak seperti kekurangan udara. Ia berusaha berkonsentrasi untuk menjawab pertanyaan itu, tetapi gagal. Ia seperti tersihir dan tiba-tiba salah tingkah.

"Ah...eh... uh...,"

"Apakah kami boleh?"

"Boo... apa maksud bapak tadi?"

Mereka sekeluarga sudah membawa daging persembahan beserta lemak-lemak dan seluruh isi perut di dalam wadah-wadah. Ia sedikit berhasil menenangkan jantungnya. Ia mulai jelas melihat seluruh anggota keluarga yang datang itu. Mereka berenam, sang ayah yang kepala keluarga, si ibu, dan tiga orang anaknya serta seorang bujang laki-laki. Saat ia melihat anak sulung perempuan keluarga itu, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang lagi seakan-akan berhenti. Gadis itu menunduk dan menata kerudungnya berusaha menyembunyikan wajahnya. Merona ada pada wajahnya.

 

"Adown, tuan, bisakah kami masuk? Dapatkah kami bersujud di hadapan-Nya?" bapak itu kembali mengulangi pertanyaannya.

"Bisa, bi.... sa... silakan bapak masuk bersama anak laki-laki. Apakah bujang bapak juga orang Yahudi? Dia boleh masuk sampai pelataran dalam kalau begitu. Ibu dan siapakah nama adik? ... Hana... Ya Ibu dan Hana dapat diantar oleh petugas wanita supaya berkumpul di pelataran para wanita. Apakah semua sudah melewati upacara pembasuhan anggota tubuh?" akhirnya ia berhasil mengendalikan dirinya.

 

Namun matanya tak lepas mengawasi gadis itu ("Hana, nama yang sangat indah," pikirnya) saat mereka berenam masuk ke dalam Bait Allah. Tubuhnya bagaikan patung tak bergerak membeku.

 

"Hei... mengapa kamu hanya berdiri di situ?" tepuk salah satu teman seniornya yang saat itu lewat dengan membawa beberapa perhiasan perak yang hendak dimasukkan ke dalam perbendaharaan.

"Akh, Ukh, Ikh, yah...,"

"Eh, bolehkah aku tahu? Keluarga yang baru masuk itu namanya siapa?"

"Oh itu... Ozias, mereka sangat taat. Apakah kamu belum pernah berjumpa dengan mereka sebelumnya? Tiap tahun mereka pasti datang ke Rumah Suci ini."

"Mereka keturunan Yehuda?"

"Engkau tertarik dengan gadisnya?"

Wajahnya tiba-tiba memerah, berusaha mengelak pertanyaan itu namun ia tidak berhasil. Ia malu mengakui jika jantungnya sudah terikut gadis itu.

 

"Tidak apa-apa engkau tertarik padanya, ia gadis yang baik dan taat. Aku kira ayahmu akan setuju dengan pilihanmu itu,"

"Apakah ia belum terikat dengan lelaki lain?"

"Jika bertindak cepat, aku kira engkau masih mempunyai kesempatan. Bukankah ia datang ke sini masih bersama orangtuanya?"

 

"Lalu apa yang harus aku lakukan?"

"Datanglah ke tempatnya! Mintalah pada ayahnya supaya ia kau jadikan istri," orang tua itu memberi saran.

 

Jadi, petang ini ia berada di desa ini demi menenangkan jantungnya. Sebab sejak peristiwa Paskah itu wajah gadis berkerudung itu ("Walau sebenarnya nama Hana lebih indah, tetapi sekarang ia terus saja mematri pikirannya dengan kata gadis berkerudung," ia berpikir) menghantui mimpi-mimpinya. Ia sangat gelisah mimpi-mimpinya menyebabkannya beberapa kali tidak dapat bertugas di Bait-Nya. Ia tidak kudus. Jika sebelumnya, kehidupan mimpinya dipenuhi oleh rancangan-rancangan masa depannya, lukisan-lukisan hasrat merengkuh cita, ia tahu masa depannya ada di Bait Allah ini; namun sejak hari itu, mimpi-mimpinya hanya berisi tarian-tarian satu wajah yang tidak mampu ia hapus dengan mimpi citanya. Tarian-tarian yang menggelorakan seluruh jasmani menyebabkannya tidak dapat mengendalikan diri. Bahkan ia tak mampu lagi mengenal dirinya dan seluruh hasrat jiwanya hingga di waktu pagi akhirnya ia dinyatakan najis hari itu dan tak dibolehkan melakukan tugas melayani-Nya.

 

Bersambung...