Friday, January 28, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 029

Gangguan-gangguan itu tidak mereda; malahan meraja. Ia bingung mengenali tubuhnya sendiri. Ia tahu semuanya disebabkan gadis itu, tetapi ia tidak mengerti mengapa akibatnya sedemikian hebat. Ia sering melihat perempuan yang lebih cantik darinya dan kadang-kadang ia tertarik dengan salah satu dari mereka. Namun, jika ia memutuskan untuk berhenti tertarik, rasa itu hilang. Ia tahu tugasnya di Rumah Allah lebih berharga dari apa pun di dunia ini. Bukankah Daud pernah berkata, "khawsah no'am Adonai bawqar heykal.[1]" Namun, ayahnya mengatakan ada masanya seorang laki-laki harus keluar dari rumah orangtuanya dan menjadi satu dengan istrinya. "Apakah sekarang ini waktunya?" ia bertanya-tanya. "Mungkin sekarang waktunya," batinnya berusaha tenang. Setidaknya sekarang ia hendak memastikan gadis berkerudung itu mau menemani hidup citanya; atau tidak mau?

 

Apa pun yang terjadi, Ia bertekad menenangkan jantungnya. Apabila ia menghadapi penolakan, setidaknya ia masih mendapat kesempatan melihat tarian wajahnya sekali lagi. Ia tahu, ia melanggar adat dengan mendatangi gadis itu sendiri; seharusnya ayahnya mendatangi orangtua si gadis, meminangnya untuk dirinya. Namun, hasrat hatinya sudah tidak dapat ia tahan lagi, ia ingin memastikan bahwa si gadis masih belum terikat. Ia tak hendak kecewa, bahkan jika pujaannya sudah dimiliki orang lain.

 

Laki-laki itu terus mengendap-endap di antara pepohonan. Hari sudah malam; pelita di rumah itu sudah menyala benderang. Bau semerbak minyak zaitun terbakar bersumber dari pelita-pelita itu. Ia sangat mengenal kualitas minyak zaitun hanya dengan membaui uapnya yang terbakar. Sudah lima tahun hidup di Bait Allah yang selalu menggunakan minyak zaitun terbaik bahkan hanya untuk menyalakan pelita-pelita di Rumah Allah itu. Ia, seorang imam, hanya mengenakan, menyantap, dan bahkan melihat hal-hal yang terbaik—bukankah ia tinggal di Rumah-Nya? Awalnya ia terkaget-kaget dengan bau harum yang sangat berbeda dengan bau minyak lampu di desanya.

 

Sekelebat ia melihat gadis itu melangkah keluar. Jantungnya berdebar lagi, ia berpikir cepat, menimbang apakah ia akan menemui gadis itu malam ini atau ditundanya sampai esok hari. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui gadis itu. Ia tidak peduli apa yang dikatakan orang mengenai dirinya. Ia melanggar adat dan itu dapat berbahaya bagi pekerjaannya, tetapi bagaimanapun kesempatan yang sempit ini harus diambil. Si gadis yang sedang membawa buyung di tangannya terkejut saat melihat seorang laki-laki muda keluar dari semak-semak di tengah kegelapan malam. "Ah," pekiknya. Saat laki-laki itu mendekat. "Adown, mengapa malam-malam datang ke sini," ucap gadis itu sedikit gemetar. Ia tahu tamunya; walau ia tidak mengenakan pakaian keimaman. Gadis itu merasa jika seorang imam yang bertugas di Bait Allah tiba-tiba datang ke desa kecil ini, ke rumah mereka, pasti ada sesuatu yang sangat penting. Ia berharap bukan bencana. Menanggapi pertanyaan itu, si laki-laki hanya mengucap, "Aku ingin meminangmu." "Bolehkah?" ia mengharap.

 

Tergagap menghadapi pertanyaan sang imam muda tadi, si gadis hanya tertunduk dan terdiam. Akhirnya setelah terjadi kekakuan beberapa saat (apalagi sang imam itu, ia merasa ucapan tergesa tadi seakan menghancurkan semua reputasinya sebagai imam), si gadis menjawab, "Tuan, silakan masuk. Tuan sebaiknya bertemu langsung dengan ayahku."

 

Imam muda, wajahnya yang sangat kemerahan menahan malu, mengiyakan dengan suara tidak jelas lalu masuk ke dalam rumah itu. Penahan pintu geser rumah itu yang cukup tinggi tidak ia lihat hampir saja ia tabrak karena perasaan groginya. Untung ia masih dapat menjaga kesadarannya, ia tahu ia harus menjaga martabatnya.

 

Ruangan dalam lebih terang dengan bau harum minyak zaitun kualitas tinggi. Ia melihat beberapa pelita menempel tembok. Pendiangan yang terletak di tengah ruangan dikitari beberapa anggota keluarga tersebut. "Hana, apakah kau membawa adas manisnya?" sang kepala keluarga menyahut suara geseran pintu itu. Si gadis pun menjawab, "Ya ayah." "Ayah, kita kedatangan tamu, ia hendak menemui ayah," lanjutnya. Sang ayah, ibu, dan orang-orang yang sedang mengelilingi pendiangan itu menoleh ke arah pintu geser itu. Si imam muda sangat kikuk dan salah tingkah, "Apakah saya dapat bertemu dengan Bapa Ozias sebentar?" Akhirnya ia berhasil mengucapkan kata-kata.

 

Bersambung ...



[1] "melihat kemuliaan TUHAN dan berdiam dalam bait-Nya" (bhs. Ibrani)