Saturday, January 29, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 030

Sang ayah bangkit dari duduknya mengambil arang yang diletakkan di pojok ruangan, sambil memasukkan arang ke pendiangan ia menawari imam itu untuk bergabung dengan mereka. Namun, si imam itu menjawab, "Mungkin sebaiknya kita berbincang di ruangan yang lain." Wajahnya memerah malu. "Baiklah, mari kita ke ruang atas," Ozias menjawabnya dan beranjak mengajak imam canggung itu menaiki tangga yang menghubungkan ruang tengah itu ke atas.

 

Udara malam mengalir lembut di atap rumah Ozias menebarkan kesejukan, bukan hanya di tubuh sang pemuda itu, tetapi juga jantungnya. Ia tahu dirinya tidak mendapat malu, bukan hanya karena udara sejuk itu, tetapi cara berjalan dan tatapan mata orang tua yang ia ikuti: lembut dan tenang. Walau mungkin ia tidak mendapatkan hasil apa-apa dengan usahanya yang terlalu berani itu, ia tahu kehormatannya bakal masih terjaga.

 

"Bagaimana anak muda?" Ozias membuka percakapan sesampai di bubungan rumah itu. Kelipan pelita-pelita membentuk barisan dalam rumah-rumah yang menembus sela-sela jendela-jendela di desa Betania, menciptakan siluet-siluet dan bayangan-bayangan yang sedap dipandang. Pemuda itu masih saja terdiam terpesona memandang sekitarnya. Ia teringat masa-masa di Yuta saat umurnya belum akil balig.

 

"Ini adalah tempat favoritku jika aku mulai jenuh dengan segala tetek bengek dunia ini," seakan Ozias dapat membaca pikiran imam muda itu. "Aku percaya Adonailah yang menciptakan semua pemandangan ini." Ozias melanjutkan. "Dalam malam-malam menjelang Perayaan Tujuh Minggu[1] ini, angin mulai menghangat, cuaca sangat cerah, dan seperti yang engkau lihat: pelita yang bersinar sangat menenteramkan hati."

 

"Ya," jawab pemuda itu singkat, seakan-akan dirinya tidak lagi bersatu dengan tubuhnya, melayang mengikuti semua pemandangan yang menyedot perhatian dan jiwanya. Suasana sangat hening dan terasa khidmat. Aliran-aliran udara yang lembut menggeser kulit mereka mengisi ruang batin mereka dengan getaran-getaran yang tanpa mereka percakapkan sudah dapat terpahami. Mereka tahu bahwa kehadiran Adonai di Bait Allah di sebelah barat desa itu menguasai bubungan rumah itu. Sejurus kemudian saat perasaan hormat yang sangat kuat melanda, mereka pun langsung bersujud dan melakukan gerakan menyembah ke arah barat. Mereka sangat menghormati Sang Mahaagung mereka dan hati mereka yang dipenuhi rasa haru, menyebabkan air mata menetes. Akhirnya menit-menit penyembahan itu berlalu dan kedua laki-laki itu pun beranjak berdiri.

 

"Engkau memiliki tempat yang sempurna Bapa," komentar imam muda itu setelah rasa hanyut dalam keheningan berakhir. "Ya, apalagi jika waktu fajar tiba dan cuaca cerah, kilauan Rumah-Nya dapat terlihat dari sini. Penyangga-penyangganya yang bersalut emas seakan-akan menjadi tiang-tiang api. Apabila aku melihatnya, seakan-akan perjalanan nenek moyang kita keluar dari Mesir terulang kembali" ungkap orang tua itu. "Pada saat itu aku tahu Dia selalu menyertai kami, Dia sang Immanuel," lanjutnya.

 

"Jadi, apa sesungguhnya tujuan kedatanganmu kemari?" lelaki yang sudah tumbuh uban itu mengingatkan.

"Aku ingin meminang putrimu, Bapa," imam itu mengaku. "Namaku Yeshua, anak imam Eleazar," ia melanjutkan.

"Berarti engkau cucu Imam Besar Hanas?" si orang tua menyahutnya.

"Bukan, Eleazar yang lain,"

"Kita pernah berjumpa pada Paskah bulan lalu," ia berusaha menerangkan.

"… ya, ya, kami datang terlambat," Ozias memotong, "Memang, sejak peristiwa itu, anak perempuanku tingkahnya menjadi sangat aneh. Sifat pendiamnya mendadak hilang, ia ceria dan senang bersenandung. Sebenarnya ini adalah perkembangan yang menyenangkan di rumah kami."

Hati imam itu makin mantap saat mendengar cerita ayah gadis yang diidamkannya itu. Keyakinannya membubung dipenuhi mimpi-mimpi indah.

"Rahasia keceriaannya sekarang ada di depan mataku ternyata," sambung Ozias sambil tersenyum.

 

Bersambung...



[1] Pentakosta –red.