Monday, January 31, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 031

Wajah imam itu kembali kemerahan karena menahan malu.

"Walau saya percaya engkau—sebab pekerjaanmu melayani Tuhan seumur hidupmu—mengetahui semua tradisi kita." Pria tua itu menambahkan, "Termasuk tentang perkawinan. Saya harus menceritakan sesuatu kepadamu."

"Ya Bapa, silakan," lawan bicaranya menyetujui.

"Tradisi yang diturunkan para leluhur kita beribu tahun sejak zaman Abraham, bapa dari seluruh bapa orang Israel, mengajarkan bahwa mula-mula pria dan wanita adalah satu kesatuan makhluk hidup. Adam dan Hawa diciptakan pada hari keenam kisah penciptaan sebagai manusia yang kembar dempet. Adonai—Sang Nama—kemudian memisah manusia menjadi dua: membentuk Hawa dari tulang rusuknya. Jadi, suami dan istri yang bersatu dalam daging menjadi lambang keberadaan yang tunggal, mengembalikan manusia kembali ke fitrah penciptaannya. Kesatuan adalah hal yang alami; cinta mereka terbangun karena kecenderungan mereka ingin menjadi satu."

 

Saat Ozias mengulangkan segala sesuatu tentang keberadaan laki-laki dan perempuan di alam semesta ini, sebenarnya imam muda itu sudah tidak mendengarkan lagi. Pikirannya sudah melambung kembali ke rumahnya. Ia sudah tahu semua itu; Ia sudah menyelesaikan semua pelajaran yang terdapat dalam Targum[1] dan Mishna[2]. Selain demi menghormati orang tua yang begitu ia sukai sejak pertama kali bertatap di tempat ini—ia tahu bahwa tugas sang calon mertua pada menantunyalah yang membuat orang tua itu menerangkan panjang lebar kisah tersebut—setiap kata yang terucap memberinya rasa damai dalam hati.

 

Angan-angannya membawa seluruh pikiran kembali ke depan rumah sang ayah. Ia mengetuk pintu dan begitu Eleazar membuka pintu ia langsung berucap, "Bapa, aku ingin Bapa meminang bagiku seorang gadis sebagai istriku." Sang ayah dengan muka terkejut akan bertanya, "Masuklah ke dalam rumah dulu dan jelaskan panjang lebar segala sesuatu yang tidak kuketahui sebelumnya." Dan ia pun menjelaskan awal mula pertemuan mereka Paskah lalu, segala sesuatu tentang gundah hatinya dan terutama tentang pertemuannya yang sangat mengesankan dengan Ozias. Ia memberi tahu segala sesuatu tentang keluarga Ozias: kebaikannya, keberadaan mereka, dan pengetahuan mereka yang kental tentang adat istiadat Yahudi.

 

Ia tidak sabar menunggu saat-saat itu. Ketika Ozias masih melanjutkan ceritanya tentang setiap kelahiran manusia yang berarti kehadiran setengah jiwa ke dalam dunia dan pada perkawinan kedua jiwa itu akan bersatu lagi dengan sempurna, pikirannya sudah jauh melampaui penjelasan Ozias.

 

Bapanya (sayang sekali ibunya telah tiada—ia pasti akan sangat gembira) akan datang ke rumah Ozias; mereka meminang Hana untuk dirinya sedangkan ia sendiri, dengan berharap-harap, menunggu di rumah. Saat rombongan peminang kembali ke Yerusalem, ia sudah berdiri di muka pintu dan siap menanti jawaban mereka (sebenarnya ia sudah tidak memerlukan jawaban itu, tetapi jika ucapan kepastian itu meluncur dari mulut ayahnya, rasanya lebih sahih) dan mengharap tanggal pernikahan mereka diresmikan. Ia membayangkan pada awal bulan Kizlev[3] nanti—tujuh bulan lagi—ada arak-arakan mempelai perempuan, Hana. Ia diselubungi dan dihiasi dan diarak dari rumah orang-tuanya di Betania. Dan, ia sendiri mempelai pria yang dihiasi dengan "mahkota", "Seharusnya mahkota itu disematkan oleh ibunya," batinnya sedih lalu ia mengingat ibunya sudah bahagia. Ia melanjutkan lamunannya. Ia, diiringi para tamu dan sahabat, pergi menemui Hana kemudian mereka bersama-sama beriringan menuju rumah orangtuanya di Kota Bawah Yerusalem. Dan akhirnya, mereka berdua, ia dengan Hana, akan berdiri di bawah Cuppah[4] di hadapan imam yang akan menikahkan mereka; di rumah ini, ya di rumah ini mereka akan memadu kasih.

 

Bersambung...



[1] Ulasan dalam bahasa Aram atau terjemahan disertai tafsiran atas suatu bagian dari Kitab Taurat Musa, Kitab Sejarah Israel, Kitab Mazmur, dan Kitab Nabi-nabi.

[2] Hukum lisan, peraturan-peraturan penjelas, dan perinci Taurat.

[3] Bulan Desember –red.

[4] Kanopi yang digunakan untuk menaungi pengantin laki-laki dan pengantin perempuan pada upacara pemberkatan nikah orang Yahudi.