Monday, February 28, 2011

Hari ini ulang tahun Almarhum Bapakku

Tepat hari ini ayahku berulang tahun ke-63. Sayang beilau sudah meninggal pada 10 Januari lalu. Awalnya terasa gamang. Sekarang-sekarang ini baru terasa kehilangan.
Kemarin Jumat saat sempat mampir ke Solo, aku menemukan buku harian Bapak. Ada rasa haru melihat isi hati dan pemikiran beliau.

Bapak, Soewito lahir di Solo. Banayak pelajaran berharga yang kudapat. Terutama pelajaran untuk mengasuh anakku. Terima kasih Bapak.

Sunday, February 27, 2011

Pakai AC di Salatiga



Jumat lalu saya diundang mewakili perusahaan untuk mengisi acara Senat Mahasiswa UKSW di Salatiga. Pagi itu Salatiga habis diguyur hujan, jadi suasana lumayan segar. Memasuki aula utama di belakang Gedung Administrasi Pusat UKSW, saya melihat sudah banyak mahasiswa hadir dalam Sarasehan Literatur Kristen Indonesia. Saya lihat Pak Xavier Quentin Pranata (XQP)— penulis produktif yang punya banyak penggemar— sedang menjelaskan kondisi literatur Kristen. Para hadirin tampak antusias dan banyak pertanyaan menarik dari mahasiswa.

Saya duduk di antara hadirin dan memperhatikan bahwa hampir seluruh pengatur suhu ruang (AC-- air conditioner)dihidupkan. Wah ampuh juga orang Salatiga ini. Suhu di luar sudah dingin, masih ditambah AC, brrrr.

Makan siang tiba, panitia menyuguhi kami (XQP, Purnawan Kristanto, Palar Gandhi Aya Sophia, dan Bayu Probo) dengan masakan yang sangat nikmat. Timlo, ayam goreng, dan tempe mendoan -- wuih nikmatnya. Teh hangat yang disajikan pun tiada duanya (Wah laper atau pengen nih he he he).

Habis makan siang, dengan perut penuh, aku sharing tentang asiknya menjadi penulis. Mas Gandhi — kepala promosi BPK Gunung Mulia — berkisah tentang cara-cara mengorbitkan penulis menjadi selebritis. Mas Purnawan, yang biasa disapa Mas Wawan berbagi tentang langkah-langkah menjadi penulis yang efektif.

Karena kami berempat (Bayu, Wawan, Gandhi, Xavie) punya satu kesamaan, otomatis terjadi reuni singkat. Apa ya kesamaan di antara kami — selain perut kami yang mulai buncit?

Thursday, February 24, 2011

Twiteran

Bersamaan dengan era facebook muncul twiter. Sebuah microblog yang ternyata punya banyak penggemar juga. Sejauh ini beberapa kicauan di twitter cukup membuat heboh media massa Indonesia. Misalnya tentang twit dari Luna Maya. Twit dari Tfatul Sembiring. Bahkan beberapa pejabat menggunakan twitter sebagai sarana untuk propaganda, misalnya Fauzi Bowo. TMC Polda Metro pun juga menggunakan sarana Twitter untuk mengabarkan keadaan lalu lintas.

Di bawah ini ada twiter yang mengabarkan istrinya jadi korban tabrak lari. Apakah twitter bakal memberikan solusi? Entahlah.

Merayakan 10.000 hit

Terima kasih teman-teman yang sudah support aku sehingga hari ini, setelah hampir 3 tahun ngeblog. Blogku sudah dibuka/di-hit 10.000 kali. Sekali lagi terima kasih.

Kesenjangan Sosial



The Habibie Institut merefleksikan dengan tajam empat masalah utama Indonesia. Yaitu, kesenjangan sosial yang melebar, menurunnya kepercayaan pada lembaga dan kepemimpinan negara, komersialisasi dan politisasi hukum, serta melemahnya tata nilai kehidupan.

Di atas kertas pendapatan perkapita penduduk Indonesia adalah US$2.000 atau setara Rp 18 juta per tahun. atau Rp 1,5 juta per bulan. Namun, sayangnya tidak berarti dari sabang sampai merauke tiap kepala warga negara Indonesia berpendapatan segitu. Kalau ya, wah alangkah makmurnya negara ini (walau $2.000 tidak ada apa-apanya dibandingkan pendapatan perkapita tetangga-tetangga kita).

Menurut Rheinald Kasali di "9 Fenomena Bisnis" 4% penduduk Indonesia menguasai aset 75%. Jadi perhitungannya ada 8 juta orang indonesia berpendapatan rata-rata pertahun $37.500 (Rp 367,5 juta) dan sisanya yang 192 juta berpendapatan sekitar $520 per tahun. $520 per tahun berarti tiap bulan pendapatan tidak sampai Rp 500 ribu. Kalau mereka masih bisa bertahan hidup, orang Indonesia benar-benar hebat.

Anda termasuk yang hebat atau termasuk yang 4%?

Wednesday, February 23, 2011

Majalah INSPIRASI voume 18


Telah terbit majalah INSPIRASI INDONESIA Maret. Majalah yang Inspirasional, Spiritual dan motivasional
Musisi senior, Fariz RM, menyanyi di di gereja. Pulang dari gereja, ia malah makin rajin menjalankan ibadah agamanya. Adakah jalan damai bagi meruncingnya perbedaan antar golongan dan kekerasan yang merebak sekarang ini? Simak, Inspirasi Maret 2011 yang mengupas tuntas: “Menghormati Keragaman, Menghargai Kemanusiaan”.
Si cantik imut, Tiffany “Indonesian Idol” kehilangan motor andalan keluarga dan kecelakaan yang dialami mamanya menjadi awal suatu mukjizat.
Artikel psikologi, “Ternyata bukan cuma anak-anak, Orang dewasa pun perlu bermain”.
Baca juga tulisan nakal, tapi mendalam, khas Andar Ismail di rubrik esensi.
Dan, jangan lupa rubrik baru Sehat Bugar dan komik rohani manga “Sejarah Gereja”.
Dapatkan majalah INSPIRASI Maret 2011. Hanya Rp 17.000, di Toko BPK Gunung Mulia, Immanuel, Haleluya, Metanoia, Visi, Victory, Pondok Mazmur, Pondok Daun, Kalam Hidup, Gramedia. Facebook: Inspirasi Indonesia. Untuk berlangganan silakan hubungi 0813-991-999-30 atau inspirasi@bpkgm.com.
Nyatakan iman melalui perbuatan bagi sesama dan Indonesia.
Salam Inspirasi

Perubahan Iklim di Indonesia

Sekarang kita sama-sama merasakan. Musim kemarau menjadi makin ganas. Musim penhujan menjadi tak terkendali. Iklim di Indonesia telah menjadi lebih hangat selama abad 20. Suhu rata-rata tahunan telah meningkat sekiitar 0,3 oC sejak 1900 dengan suhu tahun 1990an merupakan dekade terhangat dalam abad ini dan tahun 1998 merupakan tahun terhangat, hampir 1oC di atas rata-rata tahun 1961-1990. Peningkatan kehangatan ini terjadi dalam semua musim di tahun itu. Curah hujan tahunan telah turun sebesar 2 hingga 3 persen di wilayah Indonesia di abad ini dengan pengurangan tertinggi terjadi selama perioda Desember- Febuari, yang merupakan musim terbasah dalam setahun. Curah hujan di beberapa bagian di Indonesia dipengaruhi kuat oleh kejadian El Nino dan kekeringan umumnya telah terjadi selama kejadian El Nino terakhir dalam tahun 1082/1983, 1986/1987 dan 1997/1998.

Tuesday, February 22, 2011

Forum Kajian "Menyikapi Krisis Iklim dalam Iman Kristiani"



Beberapa waktu lalu saya hadir dalam forum yang diselenggarakan oleh The Climate Project bekerja sama dengan Dewan Nasional Perubahan Iklim. Acara berlangsung di Sekretariat DNPI, di Kementrian BUMN. Dari Gedung yang pemandangan ke Monas terlihat sangat indah ini saya berharap tercipta peran aktif keagamaan guna meningkatkan kesadaran perubahan iklim. Kabarnya acara ini sudah terselenggara di kalangan umat Islam, tahun lalu pada bulan Ramadhan. Semoga para pemuka mulai disadarkan tentang artinya menjaga lingkungan bagi generasi-generasi mendatang.




Pada pembukaannya, Rahmat Witoelar, Ketua Pelaksana Harian DNPI ini mengharapkan dari forum ini ada banyak masukan dari kalangan Kristen tentang berbagai terobosan dari kalangan pemuka agama untuk menolong umat menyikapi dan mencegah perubahan iklim makin dahsyat.

Forum dibuka dengan wawasan yang diberikan Mgr. Agustinus Agus Uskup Sintang, Gereja Katolik. Mgr. Agus mengungkapkan bahwa perubahan iklim merupakan realitas yang secara luas dan dengan cara-cara yang beragam memengaruhi penduduk bumi. Romo Agus juga mengungkapkan tentang kondisi terakhir di Sintang, berkaitan dengan perubahan iklim tersebut juga berbagai cara yang diberdayakan gereja untuk menyelamatkan alam di Sintang.

Pemakalah kedua adalah Al. Andang L. Binawan, S.J. yang memberikan pandangan dari sudut pandang teologis tentang perlunya umat memelihara lingkungan hidup. Rohaniwan yang dijuluki Romo Sampah ini mengungkapkan bahwa gereja menjadi ujung tombak dari perubahan perilaku umat Kristen terhadap lingkungan hidup.

Pdt Evangeline Pua dari GKI Kemang Pratama, membagikan berbagai cara kreatif gereja memelihara lingkungan demi generasi mendatang. Acara dilanjutkan dengan interaksi antara hadirin dan pemakalah. Dan, kiranya forum ini tidak hanya berhenti di tataran wacana, tetapi juga dalam penerapannya.

Mimpi

Ketika ketik kata "mimpi" di google ada sekitar 1.460.000 hasil. Entah itu artinya orang Indonesia begitu peduli dengan mimpi atau memang sebenarnya mimpi itu memang harus ditanggapi serius. Beberapa kosa kata dan kalimat di ndonesia memakai kiasan mimpi. Misal, "bagai mimpi di siang bolong" atau "entah mimpi apa dia semalam". Mimpi juga dianggap sebagai firasat tertentu. Di Indonesia banyak buku beredar tentang tafsir terhadap mimpi tertentu.

Jadi, mimpi apa Anda semalam?

Monday, February 21, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 036

Tirus
Agustus 30 M


Ibunya dibantai , ia ditelanjangi, diperkosa, dan bersama adik laki-lakinya dijual sebagai budak di pasar. Sekarang ia berada di rumah asing, menjadi gundik sang tuan rumah, dan ia masih ketakutan. Bila saja tidak bermimpi bertemu ibunya dan mengingat belum tahu nasib adiknya, Samuel—yang tidak ikut dibeli majikannya, mungkin ia sudah tidak bertahan. Namun, ia tidak tahu bencana apa lagi yang bakal menimpanya di depan.

Kehidupannya berubah sangat cepat sejak lima bulan lalu. Pada malam jahanam itu, sekelompok prajurit Roma tiba-tiba mendobrak rumahnya. Mereka berteriak-teriak mencari ayahnya, “Mana Barabbas, sembunyi di mana ia?”
“Ia tidak pernah pulang sejak enam bulan lalu,” sahut ibunya.
“Lalu sekarang di mana ?” bentak salah satu serdadu yang tampaknya mulai kesal.
“Kami tidak tahu, ia tidak pernah memberi tahu keberadaannya.”
“Bohong kamu, tidak mungkin kunyuk jelek itu menghilang begitu saja!” serdadu itu membentak. “Aku pernah melihatnya berkeliaran di sekitar sini tiga hari lalu.”

Percakapan selanjutnya sudah tidak menjadi jelas karena tiba-tiba prajurit lain sudah membekap mulutnya dan menyeretnya ke sudut ruangan.
“Jangan sentuh anakku, ia tidak tahu apa-apa,” ibunya menjerit begitu anak perempuannya ada di tangan prajurit itu.
Dan itu kalimat terakhir yang ia dengar dari ibunya sebelum tiba-tiba dunia menjadi gelap.

***
Saat siuman dengan seluruh tubuh terasa sakit. Ia ada di dalam gerobak, berdesak-desakan dan dirantai. Begitu ia menyadari keadaan dirinya, air mata pun menetes, tetapi berusaha ia sembunyikan. Ia melihat banyak perempuan lain yang bernasib sama dengannya. Seorang perempuan yang tergolek di pojokan gerobak, meraung-raung begitu ia mengetahui, nasibnya tidak lebih baik daripada kuda yang sekarang menarik gerobak itu.

bersambung ...

Saturday, February 19, 2011

Blog-ku Sudah Do Follow

Kata para pakar blogger, supaya blognya dikunjungi banyak orang, setingan harus diubah dari nofollow menjadi do follow. Walau tidak terlalu ngeh dengan maksudnya, aku ngikut saja. Kira-kira mengubahnya begini kalau di blogspot.


  • Login ke dashboard blogspot anda, kemudian klik menu Layout masuk ke tab Edit HTML sehingga akan kelihatan kode HTML dari blog anda, jangan lupa untuk mencentang pada kotak disebelah tulisan “Expand Widget Templates”
  • Cari kode HTML yang yang menyusun komentar di blog anda, kalo tidak salah kodenya seperti ini :

    Kalo susah mencarinya, tekan F3 kemudian kopi kode di atas dan paste di Find
  • Langkah selanjutnya hapus tulisan rel='nofollow' sehingga kode HTML blog anda menjadi :
  • Simpan perubahan yang telah anda lakukan dengan menekan “SAVE TEMPLATE”.
  • Setiap Anda mengganti Template, dan Anda menginginkan setting blog tetap Dofollow, maka setting ulang dari Nofollow menjadi Dofollow harus dilakukan.


Antiokhia


Antakya atau Antiokhia (Turki), kota di Turki selatan, ibukota Provinsi Hatay, di Sungai Orontes, dekat Laut Mediterania. Kota modernnya merupakan pusat perdagangan dan pengolahan pertanian di sekitarnya. Buah jeruk sitrus dan anggur melimpah; tanaman penting lainnya adalah zaitun, melon, gandum, dan kapas. Produk manufaktur termasuk sabun, sutra dan barang-barang kulit, dan kerajinan logam.

Kota kuno Antiokhia jauh lebih besar daripada kota modernnya. Ini adalah ibukota dinasti Seleukus di Syria dan provinsi dalam Kekaisaran Romawi. Kota ini didirikan pada 301 sM oleh Seleukus I, salah satu jenderal dan penerus Alexander Agung. Karena letaknya yang strategis di persimpangan rute penting para kafilah, kota ini segera menjadi pusat perdagangan. Dan, arsitekturnya yang megah hanya mampu disaingi oleh Roma dan Alexandria. Ketika Syria ditaklukkan oleh Roma pada 64 sM, Antiokhia menjadi ibukota timur kekaisaran Romawi. Bangsa Romawi menambahkan kemegahan arsitektur kota, kuil-kuil, istana, dan teater, memperluas saluran air, dan paving jalan-jalan utama dengan marmer.

Antiokhia adalah pusat kekristenan di luar Palestina. Para rasul berkhotbah di kota ini sebelum memulai perjalanan misi mereka. Di Antiokhia inilah istilah Kristen, menunjuk pada pertobatan Rasul Paulus, pertama kali digunakan. Pada tahun 260 kota jatuh ke Persia. Selama 13 abad berikutnya ditaklukkan oleh orang Arab, Bizantium, Turki Seljuk, Tentara Salib, dan Mesir. Karena tertimpa perang dan gempa bumi terus-menerus, termasuk pada tahun 526 yang kabarnya menewaskan 250.000 orang, membuat peran Antiokhia berkurang sekali. Dari kota besar menjadi daerah yang relatif tidak penting.

Antiokhia, yang dikenal sebagai Antakya dalam sejarah modern, direbut oleh Dinasti Utsmani (Ottoman) pada tahun 1516, dan tetap menjadi bagian dari Kekaisaran Ottoman sampai tak lama setelah Perang Dunia I (1914-1918), ketika itu diberikan kepada Suriah di bawah mandat Prancis. Provinsi Hatay, dengan ibukota Antakya, menjadi otonom pada tahun 1938, dan tahun berikutnya itu menggabungkan diri ke Turki.

Meskipun hanya sedikit yang tertinggal dari kota kuno, bagian-bagian dari dinding tinggi yang disandang kota dan Katakombe dan saluran air masih berdiri. Sebuah rumah museum arkeologi koleksi luar biasa diawetkan dari mosaik yang berasal dari abad 2 dan 3. Dekatnya adalah Gua Rasul Petrus, di mana rasul yang berkhotbah, sebuah gereja dibangun di dalam gua oleh Tentara Salib pada abad ke-12 dan 13. Penduduk Antiokhia (1990) 123.871 orang.

Friday, February 18, 2011

Ahmadiyah seperti Saksi Yehovah?



Akhir-akhir ini saya sedang dibombardir berita televisi tentang polemik keberadaan Ahmadiyah di Indonesia. Tentu saja media sedemikian rupa berusaha menampilkan pihak korban Ahmadiyah supaya terlihat menyentuh hati. Tentu saja saya pun jatuh kasihan dengan jemaat minoritas yang dianiaya oleh sesamanya.

Namun, tidak adil rasanya jika saya tidak berusaha memahami kemarahan orang-orang yang "menghajar" sesamanya yang dianggap sesat. Dalam kekristenan, sebenanrnya banyak aliran yang dianggap menyimpang. Bahkan ada gereja yang mengaku menyembah Setan. Atau, yang sering ditulis di blog-blog Kristen, Ahmadiyah di Islam seperti Saksi Yehova di Kristen.

Hanya karena di Indonesia umat Kristen adalah umat minoritas, sehingga terhadap aliran-aliran yang dianggap sesat ini tidak diperlakukan dengan kasar. Coba seandainya orang Indonesia Kristen punya kekuasaan yang cukup, belum tentu aliran-aliran Kristen yang dianggap sesat akan dibiarkan hidup damai begitu saja.

Indikasinya ada. Di daerah-daerah kantong Kristen di Indonesia pun terjadi kekerasan terhadap orang yang dianggap menodai agama. Misal, di berita ini. Saya pun akan marah jika ada orang yang memperlakukan agama saya seenaknya.

Jadi, apa pun agamanya, paling enak minum t*h b*t*l S*sr*. Eh, apa pun agamanya, sebenarnya orang Indonesia (Tentu saja termasuk saya. Saya orang Indonesia) mengalami kesusahan untuk hidup berdampingan dengan orang yang di mata kita sesat. Padahal Indonesia sejak dahulu bukan negara yang homogen. Ah entahlah.

Thursday, February 17, 2011

Orang Indonesia Perlu Katarsis


Seluruh penduduk Indonesia sepertinya perlu katarsis nih. Lihat saja kekerasan yang akhir-akhir ini terjadi. Ini adalah bentuk penyaluran perasaan tertekan yang selama ini menumpuk. Terapi katarsis mungkin akan membebaskan orang-orang yang selama ini melakukan kekerasan kepada sesamanya yang minoritas.

Katarsis (katharsis Yunani, "pemurnian"), dalam psikologi, istilah pertama diterapkan pada tahun 1895 untuk terapi melepas emosi penyebab ketegangan atau kecemasan. Dalam karya awal mereka pada kasus-kasus histeris, Sigmund Freud dan Josef Breuer menggunakan hipnosis sebagai sarana pengobatan. Dalam hipnosis beberapa pasien mampu berhubungan dan mengalamiulang konflik yang ditekan ke bawah sadar atau emosi-menghasilkan insiden. Membawa pengalaman ini ke permukaan memungkinkan pasien untuk melepaskan ketegangan dan mengurangi gejala penyakit mereka. Freud menyebut "terapi katarsis." Dia kemudian mencapai efek tanpa hipnosis dengan menggunakan asosiasi bebas dengan pasien-pasiennya.

Proses katarsis selalu melibatkan membawa emosi-tertekan ke tingkat sadar. Membicarakan perasaan mengganggu dan peristiwa memberi pertolongan semu, namun katarsis melalui beberapa bentuk terapi dapat mengeliminasi gejala secara tahan lama.

Wednesday, February 16, 2011

Sudah 4 tahun

Anakku sudah umur 4 tahun hari ini. Empat tahun yang lalu, saya teringat perasaan tegang karena menunggu istri yang berjuang untuk melahirkan bayi yang ia kandung.

Sekarang, sudah empat tahun kami berdua mengasuh si jabang bayi yang sekarang sudah menjadi kanak-kanak. Kami terus berdoa supaya dimampukan mengasuh dengan baik anak lelaki kami ini.

Ah, jadi teringat ucapan Paulus di 1 Korintus 3:6 "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan." Ya, kami sekarang "menanam dan menyiram" dalam kehidupan Miktam Lilo Radityo. Allahlah yang memberi pertumbuhan. Amin.

Tuesday, February 15, 2011

Memahami Kehendak Allah

Saat membaca majalah rohani Kristen saya tertarik dengan wawancara artis yang mengisahkan hidupnya. Dia berkisah tentang penyakit ibunya dan kariernya. Si ibu pada suatu kali terjatuh di kamar mandi dan mengalami patah tulang. Dokter memvonis si ibu artis tersebut tidak mungkin kembali berjalan. Kalau pun dapat berjalan, si ibu seumur hidup harus memakai kruk. Saat si artis itu bertemu dengan si dokter ia menyahut, “Dokter memang pandai dalam ilmu pengetahuan, namun Allah akan menyembuhkan ibuku.” Dalam benak si artis itu timbul keyakinan bahwa Allah menghendaki semua penyembah-Nya itu hidup sehat dan hidup sukses. Dan benar, ibunya pun dapat sembuh. Bahkan dapat berjalan tanpa bantuan tongkat penolong.

Saya ikut bergembira dengan si artis tersebut. Sungguh beriman dia. Namun, di luar si artis itu ada jutaan orang yang punya iman setara, tetapi tidak mendapat keistimewaan seperti artis itu. Bahkan tokoh-tokoh Alkitab seperti Yohanes Pembaptis, Yeremia, Yesaya, Paulus, Petrus, Yakobus, Yohanes, dan banyak lagi punya akhir hidup yang tragis. Paulus sendiri (penginjil terbesar yang mengubah wajah dunia Romawi), memohon kepada Allah untuk menyembuhkan penyakitnya, mendapat penolakan halus dengan jawaban, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

Saya tidak tahu siapa yang mengajarkan si artis tentang kehendak Allah itu. Namun, cukup ampuh juga. Hanya, mungkin karena Rasul Paulus tidak punya pengalaman yang mirip artis itu, akhirnya ia menyimpulkan: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”

Monday, February 14, 2011

Lebih dari Cinta Valentine Day



Hari ini, banyak orang menganggap sebagai hari istimewa. Yaitu hari Valentine. Hari kasih sayang. Nah, di kantorku hari kebaktian karyawan juga mengambil tema tentang kasih. Pengkhotbahnya adalah Pdt Adri Samsudin dari GPIB Kasih Setia Ciledug.

Pdt Adri mengungkapkan bahwa Allah telah menunjukkan kasih yang sempurna pada manusia dengan memberikan penebusan melalui Yesus Kristus. Sekarang, adalah waktu yang tepat bagi para pengikut Kristus untuk menunjukkan kasih sejati kepada sesama manusia.

Tentang hari kasih sayang, aku teringat anakku yang senang nonton VCD Diego dan Dora. Salah satunya adalah episode tentang hari Valentine ini. Kisahnya tentang Diego yang berusaha menolong salah satu binatang yang hendak mengirim kartu Valentine.

Jadi, selamat menikmati Hari Valentine bersama orang-orang terkasih dan jangan lupa dengan kasih sayang Allah ya.

Sunday, February 13, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 035

Kalau laki-laki itu ditanya bagaimana ia dapat memuaskan rasa ingin tahu para tetua itu, pasti ia tersenyum saja. Sejauh ini tidak ada laki-laki yang menanyakannya. Mereka mungkin memiliki masalah yang sama. Ia bersyukur Hana berhati lembut; dan dengan kesabarannya yang seakan tanpa batas akhirnya ia berhasil.

Namun, rasa malu yang menjalar dengan cepat berubah menjadi kesedihan mendalam. Matanya memandang ke pemandangan di depannya. Pelita rumah-rumah masih berkelap-kelip seperti bintang tampak dari kejauhan. Ia juga tahu rumah itu makin dekat. Perjalanannya hampir mencapai tujuan. Ladang-ladang yang dipenuhi bulir-bulir gandum masih tampak makin indah saat petang itu. Walau sekilas rumah yang terletak paling dekat dengan rumah ibadat itu terlihat sama, tetapi sebenarnya roh yang ada di dalamnya berbeda. Laki-laki itu merasa tidak ada lagi Roh Allah yang menghangati rumah itu; rumah itu dingin.

Ia terus melangkah meneruskan perjalanannya, bertekad untuk sampai ke rumah itu. seluruh petunjuk keberadaan anak-anaknya ada di rumah itu walau sebenarnya ia ragu apakah masih ada hal yang dapat ia gunakan untuk menemukan kembali di mana mereka. Namun, perasaannya mengatakan bahwa kedua anaknya masih hidup; istrinya pun mengatakan demikian sebelum terangkat ke surga.
Rumah dekat dengan tempat ibadah itu gelap. Ia mendekatinya dan mencari pintu gesernya; masih sama seperti waktu ia tinggalkan terakhir kali. Ia membuka pintu, bau pengap menyerbu hidungnya; tetapi ia bertekad masuk ke dalam. Ia berjalan meraba-raba seperti orang yang buta.

Walau dari luar rumah itu tidak terlihat ada yang aneh, tetapi dalam kegelapan lelaki itu tahu bahwa isi rumah mertuanya telah hancur berantakan; tidak berbeda dengan rumahnya di Kota Bawah. Pecahan-pecahan perabot rumah berserakan di dalam ruang itu dan membuatnya tersandung-sandung. Sambil tangannya meraba ia mencari jendela yang dapat dibuka agar sinar bulan dapat masuk dan sedikit memberinya sinar. Ia tidak akan menyalakan api dan menyulut kecurigaan pada penduduk sekitar rumah itu.

Ia bergegas mencari petunjuk secepatnya. Sebenarnya ia tahu dari istrinya mereka semua dibantai tanpa ampun. Ozias dan istrinya, dan Hana. Dan setelah para prajurit Romawi itu pergi dengan membawa dua anaknya, tetangga mereka segera menguburkan tiga mayat itu secepatnya, oleh karena siksaan kejam pada tubuh mereka menyebabkan mayat mereka rusak dan membusuk cepat. Jadi sebelum kerusakan makin parah, mereka cepat-cepat menguburkannya ke pekuburan terdekat. Namun, menurut istrinya, dirinya tidak usah menjenguk pekuburan itu; sia-sia katanya. Ia dan orangtuanya telah terangkat ke surga. Jadi tugas laki-laki itu hanyalah mencari dua anaknya.

Matanya sekarang sudah terbiasa dengan kegelapan malam. Ia mulai melihat ke sudut-sudut ruangan berharap ada satu petunjuk yang dapat memberinya arah. Namun nihil. Dan, itu membuatnya hampir putus asa.

***
Bersambung...

Saturday, February 12, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 034

Dan, malam itu pun tibalah. Teman-temannya dan teman-teman Hana mengantar mereka berdua sampai ke pintu kamar pengantin. Hana terlihat malu-malu, ia tidak tahu apa yang ada di dalam benak perempuannya itu. Teman-teman Hana tersenyum terkikik penuh arti yang menambah suasana menjadi meriah penuh tawa. Hana hanya menunduk jika teman-temannya mulai menggoda. Malahan beberapa teman-temanya dan teman-teman Hana mulai saling berpandangan penuh arti. “Ternyata pernikahan kami juga membawa berkah bagi teman-teman juga,” batinnya tersenyum.

Akhirnya mereka berdua sendirian di kamar itu. Dan, ia mulai berbisik pada kekasihnya: “Engkau cantik jelita, manisku, sungguh, engkau cantik jelita. Matamu di balik cadarmu bagaikan merpati; rambutmu seperti kawanan kambing yang menuruni bukit-bukit Gilead.” Dan pengantinnya menjawab, “Kekasihku gagah dan tampan, unggul di antara sepuluh ribu orang. Begitulah kekasih dan sahabatku, hai putri-putri Yerusalem!”

Bisikan mereka bersahut-sahutan dan menggelora. Gerakan-gerakan lembut yang mereka lakukan tampak menunjukkan kerinduan besar mereka bersatu. Seperti manusia pertama dan perempuan pertama yang diciptakan dalam satu daging mereka seperti hendak mewujudkan kesucian kembali Taman Eden.

***



Pagi hari di depan kamar pengantin sudah berkumpul ayah laki-laki itu, Ozias, dan para tua-tua lain. mereka menunggu-nunggu proses selanjutnya dari pesta pernikahan. Mereka akan memeriksa kain kesucian yang menjadi tanda penting bagi martabat Ozias dan seluruh keturunannya. Terutama juga bagi keselamatan nyawa Hana. Mereka menunggu-nunggu lama dan pintu kamar itu tidak juga dibuka. Menunggu adalah cara terbaik untuk mereka, tidak jalan lain.

Akhirnya pintu pun terbuka dan pengantin laki-laki keluar bagaikan seorang pahlawan yang hendak melakukan perjalanan: girang. Keluarga Ozias terlihat sedikit lega. Para tetua masih menunggu pengantin wanita keluar dari tempat peraduannya.

Beberapa menit kemudian pengantin perempuan keluar dari kamar itu tidak lagi dengan pakaian perawan. Ia sekarang adalah seorang istri dan memakai pakaian perempuan yang sudah bersuami yang sudah disiapkan sesuai dengan aturan nenek moyang Israel. Kerudung yang ia pakai bukan lagi kerudung perawan, melainkan kerudung seorang perempuan terhormat yang menjadi istri seorang laki-laki yang bermartabat.

Suara lega terdengar di ruangan itu dan akhirnya setelah dipersilakan oleh Eleazar dan dengan persetujuan Ozias, para tetua masuk ke dalam kamar untuk mengambil kain itu. Saat tetua keluar dengan kain putih yang berbecak merah, seluruh hadirin terpekik gembira dan napas lega keluar dari seluruh keluarga Hana; terutama Ozias dan istrinya. Nyawa anak perempuannya menjadi taruhan jika tidak dapat membuktikan dirinya masih perawan di malam pertamanya.

Rombongan keluarga pengantin wanita berpamitan pada Eleazar. Bapa dan ibu Hana mendatangi anak perempuannya yang sekarang menjadi bagian dari keluarga Lewi. Laki-laki itu mendorong istrinya untuk bertemu orangtuanya. Mereka bertiga kemudian sedikit menjauh terlihat bercakap-cakap diringi isak tangis sang ibu dan Hana. Pengantin perempuan itu kemudian cepat-cepat menghapus air matanya dan membiarkan orangtuanya menemui mertuanya. Mereka berdua kemudian berpamitan dengan seluruh keluarga Lewi yang hadir di situ. Dan, setelah rombongan keluarga pengantin perempuan telah berjalan jauh dan hilang dari pandangan mata, pesta pun berlanjut lagi. Pesta masih berlangsung lima hari lagi.

***

Bersambung...

Friday, February 11, 2011

Untungnya Jakarta Macet





Jakarta makin hari makin macet dan membikin frustrasi warganya. Namun, ada satu keuntungan yang menarik menghadapi kemacetan Jakarta ini. Saya tidak berbicara keuntungan yang diperoleh para biro-biro iklan yang memasang panel outdoor ukuran 10x10 meter yang menjadi untung karena waktu tayang menjadi makin lama seiring dengan kecepatan rata-rata kendaraan yang makin rendah.

Saya berbicara tentang kerendahhatian. Makin kinclong kendaraan yang dia pakai makin harus rendah hati di jalan. Mereka harus memberi jalan kepada yang lain yang mengendarai dengan "membabi buta". Jika tidak rendah hati, tentu saja makin frustrasi.

Yang lain, tentu saja kemacetan di Jakarta adalah sarana terbaik untuk melatih kesabaran seseorang. Jika mendatangi sudatu tempat yang secara normal bisa ditempuh dalam waktu 15 menit, jika macet, kita bisa di jalan sampai lebih dari 1 jam (wow).

Sayangnya, latihan-latihan ini tidak berlaku bagi para pejabat yang memakai vooreider he he he. Bagaimana mau sabar dan rendah hati. Vooreider sudah ada di depan membuka jalan serapat apa pun dan dengan risiko apa pun. Jadi, selamat rendah hati dan bersabar. Atau, selamat menjadi pejabat.

Thursday, February 10, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 033

Betania

Mei 30 M



Bibir laki-laki tersungging senyum mengingat kejadian enam belas tahun lalu. Semua yang ia impikan sejak pertemuan pertama dengan calon ayah mertuanya menjadi kenyataan. “Semuanya? Ah...,” pikirannya bertanya dan tiba-tiba mukanya panas; merah; malu.

Benar, setelah ia keluar dari rumah Ozias dan pulang ke Yerusalem, ia menemui bapanya dan memohon agar dipinangkan Hana baginya. Bapanya pun dengan senang hati meminang, ternyata nama Ozias memang sudah dikenal di kalangan para imam senior karena ketaatan dan berperan penting bagi sinagoga Betania, yang berarti pemasukan besar bagi Bait Allah dan imam-imamnya.

Anak perempuan sulungnya pun kecantikannya sudah terkenal di antara para pemuda di sana. Untung saja anak-anak Hanas sudah beristri, kalau tidak, ia tidak akan mendapat kesempatan kata bapanya. Namun walau senang, bapanya sedikit marah karena anak lelakinya melanggar adat dengan lancang langsung menemui Ozias malam-malam.

Keberuntungannya pun bertambah karena Ozias tidak mau anaknya dijodohkan sewaktu ia masih kecil. Ozias berprinsip, biarlah anaknya sendiri yang menemukan cinta sejatinya. Keputusan yang berbeda dengan kebiasaan masyarakatnya itu ia pegang teguh walau banyak keluarga berusaha menjodohkan anak mereka dengan Hana—anak gadisnya.

Untung pria tua dari Betania itu baik hatinya, ia berhak untuk mengusirnya malam itu. Dan ia pun menjawab bapanya, “Aku tak mampu menahan diri lagi, berkali-kali aku gagal dalam tugas keimamanku karena bermimpi tentang gadis itu, lebih baik aku diusir, tetapi puas dengan usaha yang dilakukannya.” Dan bapanya pun hanya menghela napas, “Yah, seandainya ibumu masih ada.”

Benar, acara peminangan berhasil sempurna dan hari-hari yang selalu ia idam-idamkan pun berlangsung juga. Mereka akan menjemput mempelai perempuan dari rumah orangtuanya untuk dibawa ke rumah orangtua laki-laki; pesta akan berlangsung di sana. Walau mempelai laki-laki sudah tidak sabar untuk menjemput mempelai perempuan, tetapi berdasar adat mereka ‘harus’ datang terlambat ke rumah mempelai perempuan. Orangtua mempelai laki-laki tidak ingin anaknya dikira terlalu bernafsu dan tidak menjaga sopan santun. Jadi walau jantungnya sudah tidak sabar ingin bertemu pujaannya, demi adat, si laki-laki harus bersabar.

Pesta berlangsung sangat meriah dan semua orang bersuka ria walau ibunya tidak hadir secara fisik (ia percaya ibunya hadir melihat anak laki-lakinya menikah). Dan, Hana tampil cantik sekali dengan pakaian pengantinnya; ia benar-benar terkesima olehnya. Matanya tidak dapat lepas memandangnya, padahal wajah pengantin perempuan tertutup cadar. Para tamu yang duduk terpisah antara pria dan wanita pun tahu kecantikan di balik cadar itu.

Benar semuanya berjalan lancar seperti yang ia bayangkan. Namun, ada satu masalah kecil (mulanya ia tidak terlalu memikirkannya; ia terlalu bersemangat): malam hari. Ia baru sadar kalau ia belum pernah bersatu dengan perempuan sebelumnya—bagaimana mungkin ia melakukannya, bukankah ia adalah umat pilihan Allah yang jelas-jelas tidak boleh berbuat zina. Ia hanya tahu dari pembicaraan antar imam-imam itu di sela-sela tugas mereka. Ia juga hanya tahu dari mimpi-mimpinya. Namun, ia sama sekali belum pernah menyentuh perempuan; menyentuh ibunya pun hanya sampai umur sepuluh tahun. Namun, pikiran itu ditekannya dalam-dalam; ia sangat percaya diri dengan nalurinya. Pikirnya, “Asal ia mencintai, ia mampu melakukannya dan pesta pun berlangsung lagi keesokan harinya.”

Bersambung...

Wednesday, February 9, 2011

Cerita Bersambung

Cerita bersambung (kalau tidak salah, dalam bahasa Inggris disebut contiuned story) adalah kisah yang panjang (fiksi atau nonfiksi) yang disajikan terpotong-potong (berseri) dalam media massa (koran atau majalah) karena terbatasnya tempat. Selain itu cerita bersambung juga merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan pembaca media tersebut. Dalam blog ini, Bayu belajar menulis fiksi roman dana menyajikannya sebagai cerita bersambung.

Tuesday, February 8, 2011

Sekilas Literatur Kristen di Indonesia


Kedatangan Albert Conelisz Ruyl ke Nusantara pada 1600 bisa dianggap sebagai tonggak sejarah literatur Kristen. Sebagai seorang pedagang VOC, Ruyl melakukan perjalanan panjang dari tanah kelahirannya di Belanda untuk berdagang di wilayah Hindia Barat yang baru saja "ditemukan" orang-orang Eropa yang terkenal dengan rempah-rempahnya itu. Sebagai seorang pedagang pembantu, ia banyak berkesempatan belajar bahasa Melayu. Sebagai seorang Kristen, ia memakai pengetahuannya itu untuk mulai menerjemahkan Firman Allah.

Pada tahun 1612 Ruyl sudah mengerjakan Kitab Injil Matius. Hasil karyanya itu baru diterbitkan 17 tahun kemudian. Menurut catatan Lembaga Alkitab Inggris dan Luar Negeri, "Edisi ini mungkin sekali menandakan pertama kali dalam sejarah bahwa sebuah kitab dari Alkitab diterjemahkan dan dicetak dalam sebuah bahasa yang bukan bahasa Eropa, khusus sebagai alat pekabaran Injil." Kitab Suci Ruyl inilah dianggap sebagai dasar pengembangan Alkitab berbahasa Indonesia misalnya Leydekker (1733), Klinkert (1879), Melayu Baba (1913), Ende  (1968) hingga Alkitab yang kita pegang sekarang. Alkitab dan beberapa terbitan nyanyian rohani terutama berguna untuk penginjilan dan pemeliharaan umat.

Sebelum munculnya penerbit-penerbit Kristen sudah ada beberapa budayawan yang mempunyai latar belakang Kristen, misalnya Jan Engelbert Tatengkeng. Dia adalah sastrawan angkatan Pujangga Baru. Ia banyak berkarya pada tahun 1930-an. Selain Tatengkeng, bisa jadi ada budayawan lain yang berlatar belakang kristiani, tetapi jejaknya sulit ditelusuri. Pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya", W.R. Supratman, juga dikenal sebagai seorang Katolik.

Penerbitan kristiani pertama di Indonesia bisa disebut dimulai dari Bandung. Kalam Hidup adalah sebuah yayasan dan penerbit buku Kristen yang didirikan oleh Robert Alexander Jaffray yang berasal dari Kanada. Pada tahun 1913, Jaffray menerbitkan Bible Magazine dalam bahasa Tionghoa. Setelah itu pada bulan Oktober 1930, ia menerbitkan majalah yang sama dalam bahasa Melayu. Majalah ini kemudian diganti namanya menjadi Majalah Kalam Hidup. Dalam hal bahasa, ia dibantu oleh P.H. Pouw. Kemudian ia juga mulai menerbitkan buku-buku dalam bahasa Makassar, Bali, dan Sasak.

Disusul penerbit Kanisius yang berdiri pada Januari 1922. Mula-mula bernama Canisius Drukkerij, lembaga ini berkiprah untuk memberdayakan Indonesia melalui dunia pendidikan. Penerbit Kanisius didirikan di kota Yogyakarta. Tidak banyak orang tahu bahwa dahulu kala, tepatnya di tahun 1928, Canisius Drukkerij juga pernah menerbitkan surat kabar: Tamtama Dalem dan Swaratama. Kedua koran itu diterbitkan untuk mendukung cita-cita perjuangan kemerdekaan pemuda Indonesia kala itu.

Penerbit Gandum Mas berdiri di bawah naungan Gereja Kristus Tuhan merupakan hasil dari penginjilan John Sung pada tahun 1940-an bersaudara dengan SAAT dan Institut Teologia Aleitheia.

Sementara penerbit gunung Mulia berdiri dilatarbelakangi kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya soal politik. Untuk pembangunan bangsa, nilai-nilai spiritual dan rohani juga perlu ditanamkan. Sejalan dengan kearifan itu, Oktober 1946 didirikanlah Badan Penerbit Darurat dari Zending dan Gereja. Badan inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Badan Penerbit Kristen (BPK) pada tahun 1950. Dan dua puluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1971, namanya berganti menjadi BPK Gunung Mulia dan dipakai hingga sekarang. Sejarah penerbit Gunung Mulia tak bisa tidak terkait dengan nama seorang Belanda, Dr. Jo Verkuyl. Fridolin Ukur bisa dianggap sebagai budayawan yang lahir dari BPK Gunung Mulia ini dengan karyanya Malam Sunji.

Setelah itu lahir berbagai penerbit Kristen misalnya Immanuel (1967), ANDI (1980), Metanoia (1990-an), Kharisma (1990-an), Light Publishing (200-an), Pionir Jaya dan Visi (2000-an) dan sebagainya. Bahkan literatur Kristen makin marak dengan berlomba-lombanya penerbit-penerbit umum mempunyai divisi buku Kristen misalnya Gramedia, Agromedia, dan Erlangga. (Bayu Probo, dbs)