Monday, February 7, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 032

Ia membayangkan sebagai mempelai laki-laki yang memakai kittel[1]. Jubah putih bersih yang juga dipakai jenazah di hari pemakamannya menjadi tanda baginya bahwa ia akan melewati hari baru dengan kesucian. Hana sebagai mempelai perempuan dengan gaun pengantinnya yang menjadi lambang kemurnian surga dan kebebasan dari dosa. Bau semerbak narwastu yang didatangkan khusus dari pegunungan Himalaya. Dan ia, mempelai perempuannya, orangtuanya, orangtua mempelai perempuan, segenap kerabat, tetangga, dan teman-temannya akan berpesta dengan makan, minum, menari, berpantun nasihat, dan berteka-teki yang ramai dan menggembirakan.

 

Dan saat yang paling ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga: malam hari. Malam itu ia akan membuktikan cintanya pada sang kekasih. Ia sudah membayangkan malam itu ribuan kali dalam mimpinya. Ia hendak meyakinkan dirinya sendiri bahwa malam kali ini bukan sekadar mimpi. Ini adalah kenyataan. Ia ingin membuktikan bahwa mimpi-mimpinya akan tampak tidak indah; kenyataan jauh lebih indah daripada seluruh fantasinya.

Lalu, ia masuk ke kamar pengantin, menyingkap kerudung pengantin perempuannya dan menatap wajahnya. Pada saat ia membuka kerudung itu, ia berkata, "Dalam nama Adonai sang pengasih dan penyayang." Kemudian ia memberi salam kepada kekasihnya itu, "Diberkatilah malam ini," yang dengan malu-malu dijawab istrinya, "Kiranya Adonai memberkati Tuan."

 

Saat itu ia terpekik gembira karena hatinya senang melihat kecantikan mempelainya. Suaranya yang kencang dan sudah seharusnya pekikannya keras terdengar keluar sehingga para perempuan pengiring pengantin dan sahabat-sahabatnya yang tengah menanti pekikan itu menyambut gembira. Mereka bersendau gurau dan bercanda-canda di luar. Namun, ia tidak lagi peduli dengan keadaan di luar kamar. Perempuan yang bagai bidadari inilah yang sekarang menjadi satu-satunya perhatiannya.

 

Pagi hari, hari kedua pesta adalah saat-saat mendebarkan bagi dirinya dan bagi mempelainya. Namun dalam bayangannya, mereka berdua akan cukup percaya diri. Saat itu adalah saat menunjukkan kain perawan kepada seluruh tamu. Waktu untuk membuktikan kesucian cinta sang mempelai perempuan. Walau ia sendiri yakin dengan kesucian mempelainya, tetapi adat itu harus dilewati agar pesta tidak menjadi bencana dan enam hari selanjutnya menjadi saat yang paling menggembirakan, bukan hanya bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi seluruh kerabat yang datang ke pesta itu.

 

***

 

 

Bersambung...



[1] Jubah pengantin pria