Thursday, February 10, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 033

Betania

Mei 30 M



Bibir laki-laki tersungging senyum mengingat kejadian enam belas tahun lalu. Semua yang ia impikan sejak pertemuan pertama dengan calon ayah mertuanya menjadi kenyataan. “Semuanya? Ah...,” pikirannya bertanya dan tiba-tiba mukanya panas; merah; malu.

Benar, setelah ia keluar dari rumah Ozias dan pulang ke Yerusalem, ia menemui bapanya dan memohon agar dipinangkan Hana baginya. Bapanya pun dengan senang hati meminang, ternyata nama Ozias memang sudah dikenal di kalangan para imam senior karena ketaatan dan berperan penting bagi sinagoga Betania, yang berarti pemasukan besar bagi Bait Allah dan imam-imamnya.

Anak perempuan sulungnya pun kecantikannya sudah terkenal di antara para pemuda di sana. Untung saja anak-anak Hanas sudah beristri, kalau tidak, ia tidak akan mendapat kesempatan kata bapanya. Namun walau senang, bapanya sedikit marah karena anak lelakinya melanggar adat dengan lancang langsung menemui Ozias malam-malam.

Keberuntungannya pun bertambah karena Ozias tidak mau anaknya dijodohkan sewaktu ia masih kecil. Ozias berprinsip, biarlah anaknya sendiri yang menemukan cinta sejatinya. Keputusan yang berbeda dengan kebiasaan masyarakatnya itu ia pegang teguh walau banyak keluarga berusaha menjodohkan anak mereka dengan Hana—anak gadisnya.

Untung pria tua dari Betania itu baik hatinya, ia berhak untuk mengusirnya malam itu. Dan ia pun menjawab bapanya, “Aku tak mampu menahan diri lagi, berkali-kali aku gagal dalam tugas keimamanku karena bermimpi tentang gadis itu, lebih baik aku diusir, tetapi puas dengan usaha yang dilakukannya.” Dan bapanya pun hanya menghela napas, “Yah, seandainya ibumu masih ada.”

Benar, acara peminangan berhasil sempurna dan hari-hari yang selalu ia idam-idamkan pun berlangsung juga. Mereka akan menjemput mempelai perempuan dari rumah orangtuanya untuk dibawa ke rumah orangtua laki-laki; pesta akan berlangsung di sana. Walau mempelai laki-laki sudah tidak sabar untuk menjemput mempelai perempuan, tetapi berdasar adat mereka ‘harus’ datang terlambat ke rumah mempelai perempuan. Orangtua mempelai laki-laki tidak ingin anaknya dikira terlalu bernafsu dan tidak menjaga sopan santun. Jadi walau jantungnya sudah tidak sabar ingin bertemu pujaannya, demi adat, si laki-laki harus bersabar.

Pesta berlangsung sangat meriah dan semua orang bersuka ria walau ibunya tidak hadir secara fisik (ia percaya ibunya hadir melihat anak laki-lakinya menikah). Dan, Hana tampil cantik sekali dengan pakaian pengantinnya; ia benar-benar terkesima olehnya. Matanya tidak dapat lepas memandangnya, padahal wajah pengantin perempuan tertutup cadar. Para tamu yang duduk terpisah antara pria dan wanita pun tahu kecantikan di balik cadar itu.

Benar semuanya berjalan lancar seperti yang ia bayangkan. Namun, ada satu masalah kecil (mulanya ia tidak terlalu memikirkannya; ia terlalu bersemangat): malam hari. Ia baru sadar kalau ia belum pernah bersatu dengan perempuan sebelumnya—bagaimana mungkin ia melakukannya, bukankah ia adalah umat pilihan Allah yang jelas-jelas tidak boleh berbuat zina. Ia hanya tahu dari pembicaraan antar imam-imam itu di sela-sela tugas mereka. Ia juga hanya tahu dari mimpi-mimpinya. Namun, ia sama sekali belum pernah menyentuh perempuan; menyentuh ibunya pun hanya sampai umur sepuluh tahun. Namun, pikiran itu ditekannya dalam-dalam; ia sangat percaya diri dengan nalurinya. Pikirnya, “Asal ia mencintai, ia mampu melakukannya dan pesta pun berlangsung lagi keesokan harinya.”

Bersambung...