Saturday, February 12, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 034

Dan, malam itu pun tibalah. Teman-temannya dan teman-teman Hana mengantar mereka berdua sampai ke pintu kamar pengantin. Hana terlihat malu-malu, ia tidak tahu apa yang ada di dalam benak perempuannya itu. Teman-teman Hana tersenyum terkikik penuh arti yang menambah suasana menjadi meriah penuh tawa. Hana hanya menunduk jika teman-temannya mulai menggoda. Malahan beberapa teman-temanya dan teman-teman Hana mulai saling berpandangan penuh arti. “Ternyata pernikahan kami juga membawa berkah bagi teman-teman juga,” batinnya tersenyum.

Akhirnya mereka berdua sendirian di kamar itu. Dan, ia mulai berbisik pada kekasihnya: “Engkau cantik jelita, manisku, sungguh, engkau cantik jelita. Matamu di balik cadarmu bagaikan merpati; rambutmu seperti kawanan kambing yang menuruni bukit-bukit Gilead.” Dan pengantinnya menjawab, “Kekasihku gagah dan tampan, unggul di antara sepuluh ribu orang. Begitulah kekasih dan sahabatku, hai putri-putri Yerusalem!”

Bisikan mereka bersahut-sahutan dan menggelora. Gerakan-gerakan lembut yang mereka lakukan tampak menunjukkan kerinduan besar mereka bersatu. Seperti manusia pertama dan perempuan pertama yang diciptakan dalam satu daging mereka seperti hendak mewujudkan kesucian kembali Taman Eden.

***



Pagi hari di depan kamar pengantin sudah berkumpul ayah laki-laki itu, Ozias, dan para tua-tua lain. mereka menunggu-nunggu proses selanjutnya dari pesta pernikahan. Mereka akan memeriksa kain kesucian yang menjadi tanda penting bagi martabat Ozias dan seluruh keturunannya. Terutama juga bagi keselamatan nyawa Hana. Mereka menunggu-nunggu lama dan pintu kamar itu tidak juga dibuka. Menunggu adalah cara terbaik untuk mereka, tidak jalan lain.

Akhirnya pintu pun terbuka dan pengantin laki-laki keluar bagaikan seorang pahlawan yang hendak melakukan perjalanan: girang. Keluarga Ozias terlihat sedikit lega. Para tetua masih menunggu pengantin wanita keluar dari tempat peraduannya.

Beberapa menit kemudian pengantin perempuan keluar dari kamar itu tidak lagi dengan pakaian perawan. Ia sekarang adalah seorang istri dan memakai pakaian perempuan yang sudah bersuami yang sudah disiapkan sesuai dengan aturan nenek moyang Israel. Kerudung yang ia pakai bukan lagi kerudung perawan, melainkan kerudung seorang perempuan terhormat yang menjadi istri seorang laki-laki yang bermartabat.

Suara lega terdengar di ruangan itu dan akhirnya setelah dipersilakan oleh Eleazar dan dengan persetujuan Ozias, para tetua masuk ke dalam kamar untuk mengambil kain itu. Saat tetua keluar dengan kain putih yang berbecak merah, seluruh hadirin terpekik gembira dan napas lega keluar dari seluruh keluarga Hana; terutama Ozias dan istrinya. Nyawa anak perempuannya menjadi taruhan jika tidak dapat membuktikan dirinya masih perawan di malam pertamanya.

Rombongan keluarga pengantin wanita berpamitan pada Eleazar. Bapa dan ibu Hana mendatangi anak perempuannya yang sekarang menjadi bagian dari keluarga Lewi. Laki-laki itu mendorong istrinya untuk bertemu orangtuanya. Mereka bertiga kemudian sedikit menjauh terlihat bercakap-cakap diringi isak tangis sang ibu dan Hana. Pengantin perempuan itu kemudian cepat-cepat menghapus air matanya dan membiarkan orangtuanya menemui mertuanya. Mereka berdua kemudian berpamitan dengan seluruh keluarga Lewi yang hadir di situ. Dan, setelah rombongan keluarga pengantin perempuan telah berjalan jauh dan hilang dari pandangan mata, pesta pun berlanjut lagi. Pesta masih berlangsung lima hari lagi.

***

Bersambung...