Sunday, February 13, 2011

Eloi Eloi Lama Sabakhtani 035

Kalau laki-laki itu ditanya bagaimana ia dapat memuaskan rasa ingin tahu para tetua itu, pasti ia tersenyum saja. Sejauh ini tidak ada laki-laki yang menanyakannya. Mereka mungkin memiliki masalah yang sama. Ia bersyukur Hana berhati lembut; dan dengan kesabarannya yang seakan tanpa batas akhirnya ia berhasil.

Namun, rasa malu yang menjalar dengan cepat berubah menjadi kesedihan mendalam. Matanya memandang ke pemandangan di depannya. Pelita rumah-rumah masih berkelap-kelip seperti bintang tampak dari kejauhan. Ia juga tahu rumah itu makin dekat. Perjalanannya hampir mencapai tujuan. Ladang-ladang yang dipenuhi bulir-bulir gandum masih tampak makin indah saat petang itu. Walau sekilas rumah yang terletak paling dekat dengan rumah ibadat itu terlihat sama, tetapi sebenarnya roh yang ada di dalamnya berbeda. Laki-laki itu merasa tidak ada lagi Roh Allah yang menghangati rumah itu; rumah itu dingin.

Ia terus melangkah meneruskan perjalanannya, bertekad untuk sampai ke rumah itu. seluruh petunjuk keberadaan anak-anaknya ada di rumah itu walau sebenarnya ia ragu apakah masih ada hal yang dapat ia gunakan untuk menemukan kembali di mana mereka. Namun, perasaannya mengatakan bahwa kedua anaknya masih hidup; istrinya pun mengatakan demikian sebelum terangkat ke surga.
Rumah dekat dengan tempat ibadah itu gelap. Ia mendekatinya dan mencari pintu gesernya; masih sama seperti waktu ia tinggalkan terakhir kali. Ia membuka pintu, bau pengap menyerbu hidungnya; tetapi ia bertekad masuk ke dalam. Ia berjalan meraba-raba seperti orang yang buta.

Walau dari luar rumah itu tidak terlihat ada yang aneh, tetapi dalam kegelapan lelaki itu tahu bahwa isi rumah mertuanya telah hancur berantakan; tidak berbeda dengan rumahnya di Kota Bawah. Pecahan-pecahan perabot rumah berserakan di dalam ruang itu dan membuatnya tersandung-sandung. Sambil tangannya meraba ia mencari jendela yang dapat dibuka agar sinar bulan dapat masuk dan sedikit memberinya sinar. Ia tidak akan menyalakan api dan menyulut kecurigaan pada penduduk sekitar rumah itu.

Ia bergegas mencari petunjuk secepatnya. Sebenarnya ia tahu dari istrinya mereka semua dibantai tanpa ampun. Ozias dan istrinya, dan Hana. Dan setelah para prajurit Romawi itu pergi dengan membawa dua anaknya, tetangga mereka segera menguburkan tiga mayat itu secepatnya, oleh karena siksaan kejam pada tubuh mereka menyebabkan mayat mereka rusak dan membusuk cepat. Jadi sebelum kerusakan makin parah, mereka cepat-cepat menguburkannya ke pekuburan terdekat. Namun, menurut istrinya, dirinya tidak usah menjenguk pekuburan itu; sia-sia katanya. Ia dan orangtuanya telah terangkat ke surga. Jadi tugas laki-laki itu hanyalah mencari dua anaknya.

Matanya sekarang sudah terbiasa dengan kegelapan malam. Ia mulai melihat ke sudut-sudut ruangan berharap ada satu petunjuk yang dapat memberinya arah. Namun nihil. Dan, itu membuatnya hampir putus asa.

***
Bersambung...