Wednesday, February 2, 2011

Jakarta Macet Salah Siapa?

Malam menyambut Imlek disambut dengan gerimis dan sebagian hujan. Walau bagi beberapa yang percaya, hujan di malam tahun baru China ini sebagai pertanda baik, bagi yang lain yang sedang di jalanan Jakarta pada saat hujan, itu pertanda yang benar-benar buruk. Kemacetan menggila. Salah siapa?

"Para pengendara sepeda motor ugal-ugalan," "Kalau hujan, bikers berteduh sembarangan sampai menutup jalan," "Angkutan umum ngetem seenaknya" "Angkutan umum menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat," "Pasar kaget memperparah jalur-jalur sempit menjadi titik-titik rawan macet" "Mobil-mobil pribadi parkir sembarangan" "Mobil pribadi hanya diisi satu penumpang."

Masing-masing orang saling menyalahkan dan menganggap diri paling benar. Dari keluhan itu sebenarnya dapat ditarik satu kesimpulan. Memang orang Indonesia hidup tidak tertib. Terutama di jalan raya. Mereka (juga saya tentu) menganggap jalan sebagai ruang pribadi sehingga berlaku seenaknya. Apakah itu adalah kutukan kultur sebagai orang Asia Timur yang susah membedakan mana ruang publik mana ruang pribadi?

Mungkin itu sebabnya mantan perdana menteri Lee Kwan Yew pernah berujar saat hendak mulai membangun Singapura, "Orang Asia adalah orang yang tidak tertib." Jadi, target awal pembangunannya adalah menjaga ketertiban warga negara Singapura. Dia membuat banyak sekali larangan dan membuat besar satuan kepolisian. Konon, 1 dari 4 orang Singapura berprofesi sebagai polisi. Polisi mengawasi orang yang mengunyah permen karet. Mereka mendenda orang yang meludah sembarangan dan hal-hal remeh seperti itu. Hasilnya, Singapura bebas sampah berserakan sembarangan.

Apakah penduduk Jakarta perlu perlakuan tangan besi itu supaya tertib?