Tuesday, February 15, 2011

Memahami Kehendak Allah

Saat membaca majalah rohani Kristen saya tertarik dengan wawancara artis yang mengisahkan hidupnya. Dia berkisah tentang penyakit ibunya dan kariernya. Si ibu pada suatu kali terjatuh di kamar mandi dan mengalami patah tulang. Dokter memvonis si ibu artis tersebut tidak mungkin kembali berjalan. Kalau pun dapat berjalan, si ibu seumur hidup harus memakai kruk. Saat si artis itu bertemu dengan si dokter ia menyahut, “Dokter memang pandai dalam ilmu pengetahuan, namun Allah akan menyembuhkan ibuku.” Dalam benak si artis itu timbul keyakinan bahwa Allah menghendaki semua penyembah-Nya itu hidup sehat dan hidup sukses. Dan benar, ibunya pun dapat sembuh. Bahkan dapat berjalan tanpa bantuan tongkat penolong.

Saya ikut bergembira dengan si artis tersebut. Sungguh beriman dia. Namun, di luar si artis itu ada jutaan orang yang punya iman setara, tetapi tidak mendapat keistimewaan seperti artis itu. Bahkan tokoh-tokoh Alkitab seperti Yohanes Pembaptis, Yeremia, Yesaya, Paulus, Petrus, Yakobus, Yohanes, dan banyak lagi punya akhir hidup yang tragis. Paulus sendiri (penginjil terbesar yang mengubah wajah dunia Romawi), memohon kepada Allah untuk menyembuhkan penyakitnya, mendapat penolakan halus dengan jawaban, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

Saya tidak tahu siapa yang mengajarkan si artis tentang kehendak Allah itu. Namun, cukup ampuh juga. Hanya, mungkin karena Rasul Paulus tidak punya pengalaman yang mirip artis itu, akhirnya ia menyimpulkan: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”