Tuesday, February 8, 2011

Sekilas Literatur Kristen di Indonesia


Kedatangan Albert Conelisz Ruyl ke Nusantara pada 1600 bisa dianggap sebagai tonggak sejarah literatur Kristen. Sebagai seorang pedagang VOC, Ruyl melakukan perjalanan panjang dari tanah kelahirannya di Belanda untuk berdagang di wilayah Hindia Barat yang baru saja "ditemukan" orang-orang Eropa yang terkenal dengan rempah-rempahnya itu. Sebagai seorang pedagang pembantu, ia banyak berkesempatan belajar bahasa Melayu. Sebagai seorang Kristen, ia memakai pengetahuannya itu untuk mulai menerjemahkan Firman Allah.

Pada tahun 1612 Ruyl sudah mengerjakan Kitab Injil Matius. Hasil karyanya itu baru diterbitkan 17 tahun kemudian. Menurut catatan Lembaga Alkitab Inggris dan Luar Negeri, "Edisi ini mungkin sekali menandakan pertama kali dalam sejarah bahwa sebuah kitab dari Alkitab diterjemahkan dan dicetak dalam sebuah bahasa yang bukan bahasa Eropa, khusus sebagai alat pekabaran Injil." Kitab Suci Ruyl inilah dianggap sebagai dasar pengembangan Alkitab berbahasa Indonesia misalnya Leydekker (1733), Klinkert (1879), Melayu Baba (1913), Ende  (1968) hingga Alkitab yang kita pegang sekarang. Alkitab dan beberapa terbitan nyanyian rohani terutama berguna untuk penginjilan dan pemeliharaan umat.

Sebelum munculnya penerbit-penerbit Kristen sudah ada beberapa budayawan yang mempunyai latar belakang Kristen, misalnya Jan Engelbert Tatengkeng. Dia adalah sastrawan angkatan Pujangga Baru. Ia banyak berkarya pada tahun 1930-an. Selain Tatengkeng, bisa jadi ada budayawan lain yang berlatar belakang kristiani, tetapi jejaknya sulit ditelusuri. Pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya", W.R. Supratman, juga dikenal sebagai seorang Katolik.

Penerbitan kristiani pertama di Indonesia bisa disebut dimulai dari Bandung. Kalam Hidup adalah sebuah yayasan dan penerbit buku Kristen yang didirikan oleh Robert Alexander Jaffray yang berasal dari Kanada. Pada tahun 1913, Jaffray menerbitkan Bible Magazine dalam bahasa Tionghoa. Setelah itu pada bulan Oktober 1930, ia menerbitkan majalah yang sama dalam bahasa Melayu. Majalah ini kemudian diganti namanya menjadi Majalah Kalam Hidup. Dalam hal bahasa, ia dibantu oleh P.H. Pouw. Kemudian ia juga mulai menerbitkan buku-buku dalam bahasa Makassar, Bali, dan Sasak.

Disusul penerbit Kanisius yang berdiri pada Januari 1922. Mula-mula bernama Canisius Drukkerij, lembaga ini berkiprah untuk memberdayakan Indonesia melalui dunia pendidikan. Penerbit Kanisius didirikan di kota Yogyakarta. Tidak banyak orang tahu bahwa dahulu kala, tepatnya di tahun 1928, Canisius Drukkerij juga pernah menerbitkan surat kabar: Tamtama Dalem dan Swaratama. Kedua koran itu diterbitkan untuk mendukung cita-cita perjuangan kemerdekaan pemuda Indonesia kala itu.

Penerbit Gandum Mas berdiri di bawah naungan Gereja Kristus Tuhan merupakan hasil dari penginjilan John Sung pada tahun 1940-an bersaudara dengan SAAT dan Institut Teologia Aleitheia.

Sementara penerbit gunung Mulia berdiri dilatarbelakangi kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya soal politik. Untuk pembangunan bangsa, nilai-nilai spiritual dan rohani juga perlu ditanamkan. Sejalan dengan kearifan itu, Oktober 1946 didirikanlah Badan Penerbit Darurat dari Zending dan Gereja. Badan inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Badan Penerbit Kristen (BPK) pada tahun 1950. Dan dua puluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1971, namanya berganti menjadi BPK Gunung Mulia dan dipakai hingga sekarang. Sejarah penerbit Gunung Mulia tak bisa tidak terkait dengan nama seorang Belanda, Dr. Jo Verkuyl. Fridolin Ukur bisa dianggap sebagai budayawan yang lahir dari BPK Gunung Mulia ini dengan karyanya Malam Sunji.

Setelah itu lahir berbagai penerbit Kristen misalnya Immanuel (1967), ANDI (1980), Metanoia (1990-an), Kharisma (1990-an), Light Publishing (200-an), Pionir Jaya dan Visi (2000-an) dan sebagainya. Bahkan literatur Kristen makin marak dengan berlomba-lombanya penerbit-penerbit umum mempunyai divisi buku Kristen misalnya Gramedia, Agromedia, dan Erlangga. (Bayu Probo, dbs)