Tuesday, March 29, 2011

Fariz Mehdawi dan Kristus

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib
1 Petrus 2:9

Honda Odyssey putih pelan memasuki halaman gereja di wilayah Tanjung Priok. Plat nomor polisi CD 104 01 menunjukkan bahwa penumpangnya adalah seorang diplomat yang sangat penting. Duta Besar Palestina. Gereja itu sedang mengadakan bedah buku tentang Palestina. Dan, sang duta besar, yang saat itu hanya ditemani anak lelakinya—tanpa pengawalan—rela datang ke gereja di kawasan perkampungan itu untuk menjadi narasumber mewakili negaranya.

Dengan berbaju batik, sang dubes, Fariz Nafi'atieh Mehdawi, yang bahasa Indonesianya tidak lebih baik daripada Barrack Obama, dengan bahasa Inggris yang baik dan berapi-api menjelaskan kondisi terkini Palestina, betapa orang Palestina, Kristen dan Muslim, bahu-membahu ingin mewujudkan negara yang merdeka dan berdaulat.

Semangat sang dubes ini mengingatkan kita akan semangat para rasul dalam memberitakan Kabar Sukacita keselamatan dalam Kristus kepada dunia. Dalam salah satu tulisannya, Rasul Paulus menyebut dirinya sebagai utusan Kristus, dalam bahasa aslinya, Yunani, duta besar Kristus (2 Kor. 5:20).

Apakah hanya orang-orang khusus yang mempunyai hak untuk menjadi duta bagi Kristus? Tentu saja tidak. Setelah Yesus bangkit dari maut, Dia memberikan amanat kepada segenap pengikut-Nya: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:19-20). Setiap murid Kristus mendapat panggilan untuk mewartakan Damai Sejahtera dalam Kristus.

Namun, mewartakan kabar keselamatan tidak hanya melalui perkataan. Pemberitaan Injil melalui pebuatan dan tindakan nyata memliki pengaruh yang lebih kuat. Karena, keteladanan terpancar dari hidup yang berintegritas. Melakukan pekerjaan dengan tekun, menunjukkan kasih kepada orang-orang di sekitar kita melalui tindakan-tindakan sederhana, atau bahkan sebuah senyuman tulus bisa menjadi bagian kita dalam menjadi duta Kristus bagi dunia.

Seperti sang dubes Palestina tersebut, ada waktu-waktu kita “diundang” untuk menjelaskan iman kita kepada dunia. Saat kesempatan itu datang, seperti saran Paulus, “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang” (Kol 4:6).


Jadi, siapkah Anda menjadi duta besar bagi Kristus? Kalau begitu selamat menjadi duta besar.

Bayu Probo
Sumber:
Drescher, J., 2007, Melakukan Buah Roh, Jakarta, BPK Gunung Mulia
Besten, Kris de, 2010, Shine, Jakarta, BPK Gunung Mulia
Ismail, Andar, 2009, Selamat Paskah, BPK Gunung Mulia