Tuesday, May 31, 2011

Film Cars Favorit Lilo



Lilo sekarang baru sedang tergila-gila nonton film Cars. Film produksi Disney tahun 2006. Ceritanya menarik dan menyentuh. Berkisah tentang mobil balap yang belajar rendah hati.

Monday, May 30, 2011

Melintas Batas Cakrawala



Judul                          : Melintas Batas Cakrawala
Penulis                       : Singgih D. Gunarsa
Penerbit                     : Penerbit Libri
Terbit                         : 2011
Tebal                          : 216 halaman
Ukuran                        : 15 x 23 cm
Nomor ISBN                : 978-979-687-857-4 (soft cover)
                                      978-979-687-860-4 (hard cover)



Buku ini sebenarnya adalah edisi revisi dari autobiografi Prof. Singgih D. Gunarsa.  Isinya mengungkapkan kehidupan penulis. Ia dahulu adalah seorang anak yang kebetulan lahir di suatu kota kecil dan juga menghadapi kekurangan fasilitas yang dapat menjamin terpenuhinya segala kebutuhan untuk menunjang perkembangan dan pengembangan pribadi secara wajar. Dengan buku ini, penulis berupaya memberikan kekuatan, meningkatkan keberanian dan ketangguhan bagi siapa saja, dalam menghadapi berbagai masalah yang harus mereka hadapi dan atasi, dengan perjuangan, kekuatan pribadi, tanpa terlalu mengandalkan fasilitas maupun orang lain.

Perjuangan yang digambarkan dalam buku ini dapat dipakai sebagai contoh bahwa keberhasilan seseorang juga ditentukan oleh upaya yang sistematis dan teratur serta kesanggupan dalam menghadapi kesulitan dan mengatasi rintangan.

Pujian
Singgih D. Gunarsa adalah tokoh awal dan perintis Psikologi Perkembangan dan Bapak Psikologi Olahraga di Indonesia yang seluruh hidupnya dicurahkan untuk psikologi.
  Prof. Dr. Enoch Markum (Guru Besar Universitas Indonesia)

Pak Singgih sangat peduli dengan perkembangan anak pada umumnya dan perkembangan manusia pada khususnya.
  Prof. Dr. Hera Lestari (Guru Besar Universitas Indonesia)

Profesor Singgih adalah seorang tokoh yang penuh gagasan dan inspirasi tentang perkembangan anak dalam proses tumbuh kembang anak dan manusia pada umumnya.
  Prof. Dr. Fawsia Aswin (Guru Besar Universitas Indonesia)

Prof. Dr. Singgih Gunarsa adalah tokoh awal yang memperkenalkan dan mengembangkan Psikologi Anak dengan gagasan perkembangan di Indonesia. Ia mempunyai visi ke depan di bidang lain, seperti olahraga, kesehatan, konseling, dan terapi.
  Prof. Dr. Ediasri Atmodiwiryo (Guru Besar Universitas Indonesia)

Prof. Singgih adalah pribadi yang sangat tangguh dan dapat menjadi teladan bagi semua orang, khususnya saya sendiri.
  Dr. Soemiarti Padmonodewo (Dosen Universitas Tarumanagara)

Tulisan yang mengalir dan begitu enak dibaca. Ya, jujur saya baca sampai dua-tiga kali untuk betul-betul memahaminya.
  Thomas Agung (Kasek SDK &  SMPK OeL Polim)

Buku tersebut menginspirasi saya, bahwa hidup ini perlu diisi dan diperjuangkan. Bagian yang berkesan buat saya antara lain adalah bagaimana kegigihan Bapak untuk masuk SMA, sekalipun dimulai dengan penolakan.
— Bing Ananta Andimulia (Pengurus BPK PENABUR)

Sebuah buku tabula rasa Pak Singgih di mana pengalaman manis dan pahit serta bagaimana Pak Singgih melawan dan mengatasi segala kesukaran bisa dipakai untuk contoh dalam menjalankan kehidupan pribadi pembaca.
  Yohan Sumaiku (Ahli Lingkungan Hidup, tinggal di Amerika Serikat)

Terharu dan kagum. Inilah yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Bidang keilmuann yang begitu melekat, tidak bisa lepas dalam tulisan ini. Pak Singgih melalui bukunya masih “mengajar”.
  Anne Ranti (Mantan Staf BPK PENABUR, tinggal di Belanda)

Wah... penyajiannya lengkap, inspiratif, dan menyemangati. Saya juga sharingkan buku Bapak ke saudara-saudara saya, dan mereka tertarik membacanya.
  Barry (Staff CCF)

Profesioanalisme senantiasa muncul dalam menyampaikan sesuatu. Tidak mau gegabah dalam memberikan presentasi, benar-benar mempertahankan citra sebagai seorang psi­ko­log hingga saat ini. Konsisten dan tahu menem­patkan diri.
  Lukman Sriamin (Psikolog)

Selain kemauan dan tekad untuk maju yang luar biasa, juga kejujuran dan keberanian Pak Singgih yang belum tentu ada pada kebanyakan orang. Buku ini betul-betul autobiogafi yang meng­ungkapkan apa adanya tentang Pak Singgih.
  Kiki (Staf BPK PENABUR)

Sekarang saya faham bahwa pergumulan hidup amat keras plus potensi mahaistimewa telah menjadikan beliau tokoh besar dalam ilmu psi­kologi.
  Otty Prawira Hananto (psikolog)

Tanpa tedeng aling-aling semua diceritakan apa adanya, membuat orang lain mau mencontoh dan hal ini sangat memudahkan untuk peme­cahan masalah bagi seorang Psikolog.
  Biretni (Mantan Staf BPK PENABUR)

Buku ini sangat menarik karena jadi tahu latar belakang masa kecil, pasti akan lebih menarik lagi kalau ada jilid kedua yang menceritakan suka duka sebagai guru besar.
— Bambang Gunawan (Psikolog & Webmaster Ora et Labora)

Sunday, May 29, 2011

Satu Podium dengan Liem Swie King


Pada 26 Mei lalu aku dapat kesempatan mewakili BPK Gunung Mulia dalam bedah buku "Melintas Batas Cakrawala", karya Prof Singgih Dirga Gunarsa. Acara berlangsung di gedung utama Universitas Tarumanegara. Universitas yang kukagumi sejak lulus SMA. Bagaimana tidak kagum, teman SMA-ku rela tidak hadir dalam wisuda SMA hanya karena mengurus ujian masuk universitas ini. Nama temanku Agus Handjaja.

Liem Swie King

Yang asyik, aku dapat kesempatan untuk satu podium dengan Liem Swie King -- atlet bulu tangkis favorit almarhum ayahku. Juga dengan Prof. Sarlito Wiryawan, Ninik L. Karim, Ivanna Lie, Prof. Salim Said, Tika Bisono, Ian Situmorang. Narsis ya aku ...

Prof. Singgih Gunarsa

Saturday, May 21, 2011

Game Caesar III



Setelah bertahun-tahun, kemarin saya memainkan lagi game strategi, Caesar III. Game sejenis SimCity ini dikembangkan oleh Impressions Games diedarkan oleh Sierra Entertainment; bagian ketiga dari seri Caesar, bagian dari Seri Sierra's City Building. Game ini diluncurkan October 1998. Lama banget yah. Saya mengenal sekitar tahun 2000-an, waktu selesaikan Tugas Akhir he he he. Kalau stress main Caesar III ini.


Game ini adalah game strategi membangun kota Romawi. Setting abad-abad pertama dan sebelum Masehi. Bagi yang senang belajar masa-masa kejayaan Romawi--Julius Caesar, Cleopatra. Lha ini, kita bisa jadi kaisarnya.

Kita diminta membangun satu desa kecil Romawi hingga menjadi kota modern. Game ini mendapat berbagai penghargaan karena permainannya yang hampir mendekati realitas sejarah.


Tapi hati-hati, untuk menyelesaikan satu proyek bisa makan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Kalau sudah kecanduan, wah bahaya.

Thursday, May 19, 2011

Rumah Kecil di Rimba Besar



Judul : Rumah Kecil di Rimba Besar
Seri : Little House (Seri Laura)
Penulis : Laura Ingalls Wilder
No. ISBN : 978-979-687-869-7
Tebal : 222 hlm.
Penerbit : Libri

Novel ini adalah buku pertama dari rangkaian buku yang ditulis oleh Laura Ingalls Wilder. Laura Ingalls Wilder adalah seorang penulis dan pionir terkenal di Amerika Serikat. Ia menuliskan novel-novelnya berdasarkan pengalamannya semenjak ia masih kecil (terutama pengalamannya ketika ia ikut mengembara bersama keluarganya) sampai ia menetap dan berkeluarga.

Laura Ingalls Wilder lahir di dekat kota Pepin, Wisconsin, sebagai Laura Elizabeth Ingalls pada 7 Februari 1867, dari seorang ayah bernama Charles Ingalls dan seorang ibu bernama Caroline Ingalls. Bersama kakaknya, Mary Ingalls, mereka tinggal di sebuah rimba di Wisconsin, yang dikenal sebagai Rimba Besar. Di sanalah mereka membangun rumah balok kayu mereka, Ma (panggilan Laura kepada ibunya) membuat kue dan keju, serta Pa (panggilan untuk ayah Laura) berburu di hutan dan bermain biola pada malam hari.

Popularitas Laura meroket berkat tulisan-tulisannya. Sebagai seseorang yang dikenal sebagai ”gadis pionir” yang menuliskan pengalamannya sebagai gadis yang mengembara bersama keluarganya dengan menggunakan gerobak beratap terpal—dan masa ketika ia menuliskan/menerbitkan novel-novelnya adalah masa ketika masa perintisan dapat dikatakan selesai—ia seolah menghidupkan kembali semangat dan rasa kebanggaan bangsa Amerika akan masa lalu mereka sebagai pengembara dan perintis. Tulisannya menimbulkan semangat dalam diri pembaca yang langsung menyadari bahwa mereka adalah bangsa pengembara dan perintis, yang membuka tanah garapan baru di negeri asing. Mereka sadar bahwa mereka adalah bangsa besar karena mereka adalah bangsa yang bekerja keras membanting tulang demi membangun masa depan yang lebih baik.

Tulisan-tulisan Laura menjadi saksi mata atas mengalirnya orang-orang dari daerah Timur ke Barat dalam jumlah besar, yaitu masa ketika derap pembangunan mulai membanjiri wilayah Barat yang masih liar. Dimulai dengan jalan-jalan kereta api dan kedatangan para ”homesteader” (yaitu orang-orang yang mencari lahan untuk digarap dan ditinggali), bersama keluarga Ingalls, ribuan, bahkan ratusan ribu orang, mulai membuat roda kehidupan Amerika di wilayah Barat mulai berdenyut.

Buku pertama ini memang belum secara khusus menggambarkan hal itu. Namun, gaya hidup keluarga Ingalls, terutama Charles Ingalls, memperlihatkan bagaimana jiwa seorang petualang yang ingin selalu mengembara ke sebelah barat. Kesukaannya berburu, bertani, membuka lahan, dan bertualang adalah modal awal dari pengembaraan selanjutnya yang nanti akan diceritakan pada novel-novelnya selanjutnya.

Tulisan Laura ini menceritakan bagaimana suatu keluarga yang berjiwa pengembara memulai hidup di suatu hutan kecil dengan usaha sendiri dan penuh perjuangan. Laura menceritakan secara detail berbagai aspek kehidupannya pada waktu itu—seolah-olah ia menulis bagi orang yang tidak mengenal cara pengembara hidup di wilayah terpencil.

Wednesday, May 18, 2011

Running with the Giants


Judul : Running with the Giants
Subjudul : Nasihat Para Raksasa Perjanjian Lama tentang Hidup dan Kepemimpinan
Penulis : John C. Maxwell
Penerbit : BPK Gunung Mulia
Tebal : 164 hlm
Nomor ISBN : 978-979-687-903-8

Sebuah buku tafsiran-renungan populer yang menunjukkan bahwa para tokoh Alkitab hidup sebagaimana manusia lainnya hidup. Mereka bukanlah tokoh-tokoh super, bahkan sering kali memiliki kelemahan dan cacat dalam kehidupan rohaninya. Sekalipun demikian, mereka memiliki satu kesamaan: iman dan rasa takut kepada Allah, yang membuat mereka mampu menyelesaikan perlombaan hidupnya. Inilah rahasia yang akhirnya membuat mereka menjadi manusia-manusia yang dikenang oleh umat Allah sepanjang zaman.

Berlari di atas lintasan kehidupan terkadang terasa sulit dan melelahkan. Tantangan dan kesulitan yang datang menghadang terasa menggunung dan membuat kita ”kalah sebelum bertanding”.

Tentang Penulis
John C Maxwell adalah penulis tiga buku terlaris versi New York Times mengenai kepemimpinan: The 21 Irrefutable Laws of Leadership, Failing Forward, dan Developing the Leader Within You. Buku lainnya termasuk The 17 Indisputable Laws of Teamwork, The 21 Indispensable Qualities of a Leader, The 21 Most Powerful Minutes in a Leader’s Day, dan Success One Day at a Time.
Selain itu, ia juga merupakan pembicara terkenal untuk berbagai perusahaan, seperti AFLAC, Salem Communications, Wal-Mart, dan Books-a-Million, dan setiap tahun berbicara kepada lebih dari 350 ribu orang. Pendiri The INJOY Group di Atlanta, Georgia, ini juga telah tampil sebagai tamu di acara Good Morning, America.

Monday, May 16, 2011

Seri Little House -- Laura Ingalls


Asyik sekali baca buku ini. Apalagi baru saja disetting ulang, terjemahan juga diperbaiki. Dan, didistribusikan lagi di Gramedia di seluruh Indonesia. Seri Little House karangan Laura Ingalls.

Rencananya, pada Juli 2011 akan ada nonton bareng di BPK Gunung Mulia Jakarta.

Judul : Rumah Kecil di Padang Rumput
Seri : Little House (Seri Laura)
Penulis : Laura Ingalls Wilder
No. ISBN : 978-979-687-870-3
Tebal : 340 halaman
Penerbit : Libri
Kategori Display : Novel

Sistematika Buku (sesuaikan dengan buku asli)
Ke Daerah Barat
Menyeberangi Sungai
Bermalam di Tengah Padang Sunyi
Suatu Hari di Padang Rumput
Rumah di Padang Rumput
Masuk ke dalam Rumah
Kelompok Serigala
Dua Pintu Kokoh
Api di Perapian
Memasang Atap dan Lantai
Orang Indian Datang
Air Minum Segar
Si Tanduk Panjang dari Texas
Permukiman Orang Indian
Demam Panas Dingin
Kebakaran
Pa Pergi ke Kota
Si Indian Jangkung
Pak Edwards Bertemu Sinterklas
Jeritan di Tengah Malam
Pertemuan Besar Orang-orang Indian
Padang Rumput Terbakar
Pekik Perang Orang Indian
Orang-orang Indian Pergi
Tentara
Berangkat

Isi Buku
A. Maksud dan Tujuan Buku
Novel ini adalah novel kedua dari rangkaian buku yang ditulis oleh Laura
Ingalls Wilder. Laura Ingalls Wilder adalah seorang penulis dan pionir terkenal
di Amerika Serikat. Ia menuliskan novel-novelnya berdasarkan pengalamannya
semenjak ia masih kecil (terutama pengalamannya ketika ia ikut mengembara
bersama keluarganya) sampai ia menetap dan berkeluarga.
Laura Ingalls Wilder lahir di dekat kota Pepin, Wisconsin, sebagai Laura
Elizabeth Ingalls pada 7 Februari 1867, dari seorang ayah bernama Charles
Ingalls dan seorang ibu bernama Caroline Ingalls. Dalam novel kedua ini, Laura
mengisahkan pengembaraannya bersama keluarganya—ayahnya yang biasa
dipanggil Pa, dan ibunya (biasa dipanggil Ma), dan kakaknya (Mary Ingalls)
serta adik bayinya (Carrie Ingalls), meninggalkan Wisconsin menuju negara
bagian Kansas di selatan.
Popularitas Laura meroket berkat tulisan-tulisannya. Sebagai seseorang
yang dikenal sebagai ”gadis pionir” yang menuliskan pengalamannya sebagai
gadis yang mengembara bersama keluarganya dengan menggunakan gerobak
beratap terpal—dan masa ketika ia menuliskan/menerbitkan novel-novelnya
adalah masa ketika masa perintisan dapat dikatakan selesai—ia seolah
menghidupkan kembali semangat dan rasa kebanggaan bangsa Amerika akan
masa lalu mereka sebagai pengembara dan perintis. Tulisannya menimbulkan
semangat dalam diri pembaca yang langsung menyadari bahwa mereka adalah
bangsa pengembara dan perintis, yang membuka tanah garapan baru di negeri
asing. Mereka sadar bahwa mereka adalah bangsa besar karena mereka adalah
bangsa yang bekerja keras membanting tulang demi membangun masa depan
yang lebih baik.
Tulisan-tulisan Laura menjadi saksi mata atas mengalirnya orang-orang
dari daerah Timur ke Barat dalam jumlah besar, yaitu masa ketika derap
pembangunan mulai membanjiri wilayah Barat yang masih liar. Dimulai
dengan jalan-jalan kereta api dan kedatangan para ”homesteader” (yaitu orangorang
yang mencari lahan untuk digarap dan ditinggali), bersama keluarga
Ingalls, ribuan, bahkan ratusan ribu orang, mulai membuat roda kehidupan
Amerika di wilayah Barat mulai berdenyut.
Novel kedua ini mulai menceritakan episode sulit dalam kehidupan
Laura dan keluarganya. Dimulai dengan perjalanan mereka ke Independence,
Kansas, mereka menemui banyak kesulitan dan banyak petualangan baru di
dalam perjalanan. Suka-duka dalam membuka dan menggarap tanah garapan
baru diceritakan. Akhirnya, dengan berbagai kesulitan, kisah Laura diakhiri
secara tak terduga dan sedikit menyedihkan.
Sama seperti novel pertama, novel kedua ini juga menceritakan secara
detail berbagai aspek kehidupannya pada waktu itu—seolah-olah ia menulis
bagi orang yang tidak mengenal cara pengembara hidup di wilayah terpencil.
Pembaca dapat secara langsung merasakan bagaimana keluarga ini
membangun rumah dan membuka lahan.

B. Ringkasan Isi Buku
Buku ini terdiri dari 26 bab. Kisah dimulai dengan perjalanan keluarga Ingalls
meninggalkan Pepin, Wisconsin, dengan menggunakan gerobak beratap terpal.
Kini anggota keluarga Ingalls bertambah 1 orang, yaitu Carrie Ingalls, yang
waktu itu masih bayi.
3
Laura sangat detail dalam menceritakan pengalaman. Keindahan dan
keliaran alam di wilayah Barat tergambar jelas dalam novel ini. Kekaguman
dan rasa kecilnya di hadapan alam yang mahaluas terlukis secara apik.
Pembaca disuguhi lukisan tersebut dalam 4 bab pertama. Perjalanan mereka
menyeberangi sungai, melintasi bukit-bukit tinggi dan padang rumput yang
sangat luas. Pembaca akan terkesan dengan gambaran Laura mengenai
bagaimana—walaupun sudah cukup lama gerobak yang mereka naiki
berjalan—sisi di sekeliling mereka, sejauh mata memandang, apa yang tampak
hanya batas cakrawala dan padang rumput yang luas. Seolah-olah yang ada
hanyalah padang rumput, padang rumput, dan padang rumput yang langsung
bersambung dengan kaki langit!
Ketika akhirnya Pa menemukan lahan yang dianggapnya tepat untuk
dijadikan tempat tinggal, mereka pun mulai membangun rumah kecil mereka.
Laura pun menceritakannya secara detail. Hal menarik adalah pada bab
“Rumah di Padang Rumput”, yaitu ketika Laura menceritakan bagaimana
mereka membantu Pa membangun rumah. Kisah detail Laura juga muncul
ketika mereka membantu Pa membuat pintu (“Dua Pintu Kokoh”), membuat
perapian (“Api di Perapian”, dan memasang atap dan lantai (“Memasang Atap
dan Lantai”).
Salah satu hal penting yang menjadi bagian tak terpisahkan buku ini
adalah perjumpaan keluarga Ingalls dengan orang-orang Indian. Sudah
semenjak bab-bab awal, rasa ingin tahu Laura terhadap orang Indian
tergambar sangat jelas. Ini semacam rekaman historis bagaimana orang kulit
putih Amerika masih belum banyak bertemu dengan orang Indian. Rasa gemas
Laura terhadap bayi Indian dan ketidaksukaan Ma terhadap orang Indian
dapat dijadikan informasi historis dan bumbu penyedap dari novel ini.
Beberapa kali, Laura menggambarkan perjumpaan ini dengan cara yang
menarik dan menegangkan, seperti misalnya dalam bab “Orang Indian
Datang”. Prasangka negatif Ma terhadap Indian ternyata tidak membuatnya
bersikap tidak ramah. Ia ternyata bisa juga menyediakan makanan kepada
orang-orang Indian yang begitu saja masuk ke rumah mereka. Selain itu, Laura
juga menceritakan adanya orang Indian yang baik (“Si Indian Jangkung”), yang
akhirnya nanti berperan besar dalam mencegah terjadinya kekerasan. Masih
ada 4 bab lain yang berkisah mengenai orang Indian (“Permukiman Orang
Indian”, “Pertemuan Besar Orang-orang Indian”, “Pekik Perang Orang Indian”,
dan “Orang-orang Indian Pergi”).
Tinggal di wilayah asing dan terpencil membuat keluarga Ingalls harus
siap bersikap ramah dan terbuka pada orang yang baru mereka kenal. Itulah
yang mereka perlihatkan pada Pak Edwards. Edwards adalah seorang laki-laki
yang hidup sendiri. Ia berjumpa dengan Pa dan bersedia membantu Pa
membangun pondok keluarga Ingalls. Prinsip tolong-menolong pun kelihatan
jelas. Pa meminta bantuan Edwards membangun rumah dan berjanji akan
membantu Edwards membangun rumahnya. Sikap terbuka dan prinsip tolong
menolong pun tampak ketika Pa bersedia membantu para koboi
menggembalakan sapi yang melintas di dekat rumah mereka. Para koboi itu
memerlukan seseorang yang mengenal daerah itu dan mereka menjanjikan
imbalan berupa sapi.
Namun, kisah mereka tidak hanya penuh petualangan dan perjumpaan,
tetapi juga diisi dengan berbagai tragedi. Ini tampak dalam kisah-kisah
“Demam Panas Dingin”, “Kebakaran”, dan “Padang Rumput Terbakar”.
4
Sama seperti buku sebelumnya, novel ini juga menggambarkan hal-hal
favorit dari keluarga Ingalls: perayaan Natal dan acara pergi ke kota. Dalam
perayaan Natal ini, mereka terpaksa merayakannya dalam kondisi cuaca yang
“tidak memungkinkan Sinterklas datang”. Namun, Pak Edwards, sahabat baru
keluarga Ingalls, ternyata berjumpa dengan Sinterklas di kota! Sinterklas
bahkan menitipkan beberapa hadiah pada Laura dan Mary kepada Edwards
(“Pak Edwards Bertemu Sinterklas”). Kisah ini sangat membekas dalam diri
Laura karena sering dikenang dalam novel-novel selanjutnya.
Akhirnya, karakter Pa yang taat pada hukum dan tidak takut untuk
bekerja keras tampak pada 2 bab terakhir. Ternyata, keluarga Ingalls
menempati tanah yang sebenarnya diperuntukkan untuk orang Indian.
Sebenarnya Pa sudah mengetahui hal ini. Hanya saja, ia mendengar ucapan
“beberapa orang di Washington” bahwa para pendatang dapat menempati
tanah tersebut. Ternyata, ucapan itu tidak benar. Mereka pun harus
meninggalkan tanah itu setelah sekitar setahun menempatinya. Charles Ingalls
adalah seorang pekerja keras dan juga seorang pengembara tulen. Baginya,
bukan hanya taat pada hukum yang membuat ia berani langsung mengemas
barang dan berangkat pada keesokan harinya, melainkan jiwa pengembara dan
pantang menyerahlah yang membuat ia berani menarik gerobak kembali
menuju tanah yang baru bersama keluarganya. Baginya, apa artinya waktu
satu tahun, karena ia toh merasa mempunyai banyak waktu. Ini tampak dalam
2 kalimat yang diucapkannya kepada Ma yang ragu dan agak sedih ketika
mereka harus pergi lagi:
“Apa artinya satu tahun? Kita punya cukup banyak waktu”
“Bagaimanapun, kita membawa lebih banyak daripada apa yang kita
bawa semula”

Sunday, May 15, 2011

Berani Menembus Batas



Resensi Buku

Berani Menembus Batas: Stop Mentalitas “Sedang-sedang Saja”



Judul asli buku : Moving Beyond Mediocrity
Subjudul : Discovering principles that will empower you to breakthrough

Penulis : John Andrews

Penerjemah : R. Herutomo

Penyunting : B. Wahyunarso; Budyarsa; Kristihandari P.K

Jumlah halaman : 160 halaman

ISBN : 978-979-687-861-9



Ringkasan Isi Buku

Buku ini berisi renungan motivasi hidup untuk bertindak lebih baik atau memaksimalkan potensi diri. Penulis menguraikan faktor-faktor penghambat yang menyebabkan potensi diri tidak berkembang. Penulis memberikan contoh dalam Alkitab dan tokoh-tokoh besar yang dapat berbuat luar biasa.

Potensi diri atau talenta kita kadangkala kurang berkembang karena karakter negatif kita sendiri. Ketakutan kegagalan pada masa lalu akan terulang sering menghantui kita dan menjadi salah satu penghambat pengembangan talenta. Kita seringkali hanya terpaku pada kegagalan masa lalu dan hanya melihat keterbatasan diri.



Kesuksesan hanya dapat diraih dengan menghilangkan karakter-karakter negatif pada diri kita. Tiada pencapaian tanpa kesulitan. Harus ada harga atau pengorbanan untuk meraih tujuan pencapaian. Alkitab dan sejarah mencatat banyak tokoh muncul karena mereka mempunyai karakter luar biasa. Karakter tersebut tidak mereka miliki sebelum menjadi orang luar biasa yang dipakai Tuhan. Masa lalu bukanlah penentu utama masa depan kita. Dengan memiliki karakter-karakter positif sesuai dengan rencana Tuhan, kita dapat berbuat melebihi dugaan kita sebelumnya.



Buku ini mengajak kita untuk terus maju mengembangkan potensi luar biasa yang Tuhan telah berikan. Prinsip hidup atau karakter yang harus dimiliki untuk meraih impian diuraikan dengan jelas pada buku ini. Melampaui yang Sedang-sedang Saja ditulis dengan sangat baik dan lahir pada saat yang tepat bagi mereka yang tidak ingin hidup sekadarnya dengan berani mengambil langkah petualangan iman begitu mendengar panggilan Tuhan.

Sunday, May 8, 2011

Majalah INSPIRASI edisi Mei 2011



Telah terbit majalah INSPIRASI INDONESIA Mei 2011. Majalah yang Inspirasional, Spiritual dan motivasional. Totally Committed: Komitmen Total pada Panggilan. Untuk mewujudkan sebuah visi, dibutuhkan dedikasi, kegigihan, dan komitmen total. INSPIRASI kali ini mengangkat mereka yang tekun berjuang menghayati misi. Van Dop di balik lahirnya Kidung Jemaat, buku nyanyian rohani paling banyak dipakai gereja di Indonesia. Andre Graff yang meninggalkan kenyamanan hidup di Prancis untuk tinggal dan menggali sumur di Sumba, NTT.
Simak juga cara menjadi bahagia dengan keberanian untuk memulai dan cara menangkal pengaruh negatif internet pada anak.
Dalam INSPIRASI Mei 2011, Cathy Sharon sharing kehidupan rohaninya. Cara dia menjaga imannya di tengah godaan dunia. Dan, kriteria pria yang menjadi idaman hatinya.
Simak juga Tamara Geraldine yang harus merasakan pahitnya kebohongan. Bagaimana dia mengatasi?

Dapatkan majalah INSPIRASI April 2011. Hanya Rp 17.000, di Toko BPK Gunung Mulia, Immanuel, Goodnews, Paperclips, Haleluya, Metanoia, Visi, Victory, Pondok Mazmur, Pondok Daun, Kalam Hidup, Gramedia. Facebook: Inspirasi Indonesia. Twitter: inspirasimagz. Untuk berlangganan silakan hubungi 0813-991-999-30 atau inspirasi@bpkgm.com.
Nyatakan iman melalui perbuatan bagi sesama dan Indonesia.
Salam Inspirasi

Friday, May 6, 2011

Komisi8@yahoo.com


Kasus pertemuan komisi VIII DPR RI dengan Persatuan Pelajar Indonesia di Australia benar-benar menjadi cermin kita. Juga, kasus-kasus memalukan anggota DPR lain yang mencoreng muka kita. Sewaktu Pemilu lalu Golput atau ikut memilih, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, anggota DPR adalah cermin rakyat Indonesia. Tingkah mereka persis dengan tingkah kita. Mereka adalah kemaluan kita.


Jadi, pada pemilu 2014, pilihlah anggota DPR yang cerdas, berintegritas, dan trengginas (apa pula ini?). Supaya rakyat Indonesia pun bermartabat.

Wednesday, May 4, 2011

Radikalisme Agama

Radikalisme agama di Indonesia makin menjadi-jadi. Bukan hanya yang mayoritas, yang minoritas pun begitu.