Monday, May 16, 2011

Seri Little House -- Laura Ingalls


Asyik sekali baca buku ini. Apalagi baru saja disetting ulang, terjemahan juga diperbaiki. Dan, didistribusikan lagi di Gramedia di seluruh Indonesia. Seri Little House karangan Laura Ingalls.

Rencananya, pada Juli 2011 akan ada nonton bareng di BPK Gunung Mulia Jakarta.

Judul : Rumah Kecil di Padang Rumput
Seri : Little House (Seri Laura)
Penulis : Laura Ingalls Wilder
No. ISBN : 978-979-687-870-3
Tebal : 340 halaman
Penerbit : Libri
Kategori Display : Novel

Sistematika Buku (sesuaikan dengan buku asli)
Ke Daerah Barat
Menyeberangi Sungai
Bermalam di Tengah Padang Sunyi
Suatu Hari di Padang Rumput
Rumah di Padang Rumput
Masuk ke dalam Rumah
Kelompok Serigala
Dua Pintu Kokoh
Api di Perapian
Memasang Atap dan Lantai
Orang Indian Datang
Air Minum Segar
Si Tanduk Panjang dari Texas
Permukiman Orang Indian
Demam Panas Dingin
Kebakaran
Pa Pergi ke Kota
Si Indian Jangkung
Pak Edwards Bertemu Sinterklas
Jeritan di Tengah Malam
Pertemuan Besar Orang-orang Indian
Padang Rumput Terbakar
Pekik Perang Orang Indian
Orang-orang Indian Pergi
Tentara
Berangkat

Isi Buku
A. Maksud dan Tujuan Buku
Novel ini adalah novel kedua dari rangkaian buku yang ditulis oleh Laura
Ingalls Wilder. Laura Ingalls Wilder adalah seorang penulis dan pionir terkenal
di Amerika Serikat. Ia menuliskan novel-novelnya berdasarkan pengalamannya
semenjak ia masih kecil (terutama pengalamannya ketika ia ikut mengembara
bersama keluarganya) sampai ia menetap dan berkeluarga.
Laura Ingalls Wilder lahir di dekat kota Pepin, Wisconsin, sebagai Laura
Elizabeth Ingalls pada 7 Februari 1867, dari seorang ayah bernama Charles
Ingalls dan seorang ibu bernama Caroline Ingalls. Dalam novel kedua ini, Laura
mengisahkan pengembaraannya bersama keluarganya—ayahnya yang biasa
dipanggil Pa, dan ibunya (biasa dipanggil Ma), dan kakaknya (Mary Ingalls)
serta adik bayinya (Carrie Ingalls), meninggalkan Wisconsin menuju negara
bagian Kansas di selatan.
Popularitas Laura meroket berkat tulisan-tulisannya. Sebagai seseorang
yang dikenal sebagai ”gadis pionir” yang menuliskan pengalamannya sebagai
gadis yang mengembara bersama keluarganya dengan menggunakan gerobak
beratap terpal—dan masa ketika ia menuliskan/menerbitkan novel-novelnya
adalah masa ketika masa perintisan dapat dikatakan selesai—ia seolah
menghidupkan kembali semangat dan rasa kebanggaan bangsa Amerika akan
masa lalu mereka sebagai pengembara dan perintis. Tulisannya menimbulkan
semangat dalam diri pembaca yang langsung menyadari bahwa mereka adalah
bangsa pengembara dan perintis, yang membuka tanah garapan baru di negeri
asing. Mereka sadar bahwa mereka adalah bangsa besar karena mereka adalah
bangsa yang bekerja keras membanting tulang demi membangun masa depan
yang lebih baik.
Tulisan-tulisan Laura menjadi saksi mata atas mengalirnya orang-orang
dari daerah Timur ke Barat dalam jumlah besar, yaitu masa ketika derap
pembangunan mulai membanjiri wilayah Barat yang masih liar. Dimulai
dengan jalan-jalan kereta api dan kedatangan para ”homesteader” (yaitu orangorang
yang mencari lahan untuk digarap dan ditinggali), bersama keluarga
Ingalls, ribuan, bahkan ratusan ribu orang, mulai membuat roda kehidupan
Amerika di wilayah Barat mulai berdenyut.
Novel kedua ini mulai menceritakan episode sulit dalam kehidupan
Laura dan keluarganya. Dimulai dengan perjalanan mereka ke Independence,
Kansas, mereka menemui banyak kesulitan dan banyak petualangan baru di
dalam perjalanan. Suka-duka dalam membuka dan menggarap tanah garapan
baru diceritakan. Akhirnya, dengan berbagai kesulitan, kisah Laura diakhiri
secara tak terduga dan sedikit menyedihkan.
Sama seperti novel pertama, novel kedua ini juga menceritakan secara
detail berbagai aspek kehidupannya pada waktu itu—seolah-olah ia menulis
bagi orang yang tidak mengenal cara pengembara hidup di wilayah terpencil.
Pembaca dapat secara langsung merasakan bagaimana keluarga ini
membangun rumah dan membuka lahan.

B. Ringkasan Isi Buku
Buku ini terdiri dari 26 bab. Kisah dimulai dengan perjalanan keluarga Ingalls
meninggalkan Pepin, Wisconsin, dengan menggunakan gerobak beratap terpal.
Kini anggota keluarga Ingalls bertambah 1 orang, yaitu Carrie Ingalls, yang
waktu itu masih bayi.
3
Laura sangat detail dalam menceritakan pengalaman. Keindahan dan
keliaran alam di wilayah Barat tergambar jelas dalam novel ini. Kekaguman
dan rasa kecilnya di hadapan alam yang mahaluas terlukis secara apik.
Pembaca disuguhi lukisan tersebut dalam 4 bab pertama. Perjalanan mereka
menyeberangi sungai, melintasi bukit-bukit tinggi dan padang rumput yang
sangat luas. Pembaca akan terkesan dengan gambaran Laura mengenai
bagaimana—walaupun sudah cukup lama gerobak yang mereka naiki
berjalan—sisi di sekeliling mereka, sejauh mata memandang, apa yang tampak
hanya batas cakrawala dan padang rumput yang luas. Seolah-olah yang ada
hanyalah padang rumput, padang rumput, dan padang rumput yang langsung
bersambung dengan kaki langit!
Ketika akhirnya Pa menemukan lahan yang dianggapnya tepat untuk
dijadikan tempat tinggal, mereka pun mulai membangun rumah kecil mereka.
Laura pun menceritakannya secara detail. Hal menarik adalah pada bab
“Rumah di Padang Rumput”, yaitu ketika Laura menceritakan bagaimana
mereka membantu Pa membangun rumah. Kisah detail Laura juga muncul
ketika mereka membantu Pa membuat pintu (“Dua Pintu Kokoh”), membuat
perapian (“Api di Perapian”, dan memasang atap dan lantai (“Memasang Atap
dan Lantai”).
Salah satu hal penting yang menjadi bagian tak terpisahkan buku ini
adalah perjumpaan keluarga Ingalls dengan orang-orang Indian. Sudah
semenjak bab-bab awal, rasa ingin tahu Laura terhadap orang Indian
tergambar sangat jelas. Ini semacam rekaman historis bagaimana orang kulit
putih Amerika masih belum banyak bertemu dengan orang Indian. Rasa gemas
Laura terhadap bayi Indian dan ketidaksukaan Ma terhadap orang Indian
dapat dijadikan informasi historis dan bumbu penyedap dari novel ini.
Beberapa kali, Laura menggambarkan perjumpaan ini dengan cara yang
menarik dan menegangkan, seperti misalnya dalam bab “Orang Indian
Datang”. Prasangka negatif Ma terhadap Indian ternyata tidak membuatnya
bersikap tidak ramah. Ia ternyata bisa juga menyediakan makanan kepada
orang-orang Indian yang begitu saja masuk ke rumah mereka. Selain itu, Laura
juga menceritakan adanya orang Indian yang baik (“Si Indian Jangkung”), yang
akhirnya nanti berperan besar dalam mencegah terjadinya kekerasan. Masih
ada 4 bab lain yang berkisah mengenai orang Indian (“Permukiman Orang
Indian”, “Pertemuan Besar Orang-orang Indian”, “Pekik Perang Orang Indian”,
dan “Orang-orang Indian Pergi”).
Tinggal di wilayah asing dan terpencil membuat keluarga Ingalls harus
siap bersikap ramah dan terbuka pada orang yang baru mereka kenal. Itulah
yang mereka perlihatkan pada Pak Edwards. Edwards adalah seorang laki-laki
yang hidup sendiri. Ia berjumpa dengan Pa dan bersedia membantu Pa
membangun pondok keluarga Ingalls. Prinsip tolong-menolong pun kelihatan
jelas. Pa meminta bantuan Edwards membangun rumah dan berjanji akan
membantu Edwards membangun rumahnya. Sikap terbuka dan prinsip tolong
menolong pun tampak ketika Pa bersedia membantu para koboi
menggembalakan sapi yang melintas di dekat rumah mereka. Para koboi itu
memerlukan seseorang yang mengenal daerah itu dan mereka menjanjikan
imbalan berupa sapi.
Namun, kisah mereka tidak hanya penuh petualangan dan perjumpaan,
tetapi juga diisi dengan berbagai tragedi. Ini tampak dalam kisah-kisah
“Demam Panas Dingin”, “Kebakaran”, dan “Padang Rumput Terbakar”.
4
Sama seperti buku sebelumnya, novel ini juga menggambarkan hal-hal
favorit dari keluarga Ingalls: perayaan Natal dan acara pergi ke kota. Dalam
perayaan Natal ini, mereka terpaksa merayakannya dalam kondisi cuaca yang
“tidak memungkinkan Sinterklas datang”. Namun, Pak Edwards, sahabat baru
keluarga Ingalls, ternyata berjumpa dengan Sinterklas di kota! Sinterklas
bahkan menitipkan beberapa hadiah pada Laura dan Mary kepada Edwards
(“Pak Edwards Bertemu Sinterklas”). Kisah ini sangat membekas dalam diri
Laura karena sering dikenang dalam novel-novel selanjutnya.
Akhirnya, karakter Pa yang taat pada hukum dan tidak takut untuk
bekerja keras tampak pada 2 bab terakhir. Ternyata, keluarga Ingalls
menempati tanah yang sebenarnya diperuntukkan untuk orang Indian.
Sebenarnya Pa sudah mengetahui hal ini. Hanya saja, ia mendengar ucapan
“beberapa orang di Washington” bahwa para pendatang dapat menempati
tanah tersebut. Ternyata, ucapan itu tidak benar. Mereka pun harus
meninggalkan tanah itu setelah sekitar setahun menempatinya. Charles Ingalls
adalah seorang pekerja keras dan juga seorang pengembara tulen. Baginya,
bukan hanya taat pada hukum yang membuat ia berani langsung mengemas
barang dan berangkat pada keesokan harinya, melainkan jiwa pengembara dan
pantang menyerahlah yang membuat ia berani menarik gerobak kembali
menuju tanah yang baru bersama keluarganya. Baginya, apa artinya waktu
satu tahun, karena ia toh merasa mempunyai banyak waktu. Ini tampak dalam
2 kalimat yang diucapkannya kepada Ma yang ragu dan agak sedih ketika
mereka harus pergi lagi:
“Apa artinya satu tahun? Kita punya cukup banyak waktu”
“Bagaimanapun, kita membawa lebih banyak daripada apa yang kita
bawa semula”