Monday, June 6, 2011

Kenangan Laura Ingalls



“Yang menarik dari Laura adalah arti pentingnya ‘perjuangan’. Hidup itu harus berjuang dalam bentuk apa pun, bahwa tantangan selalu ada, tak pernah berhenti. Itu yang paling saya kagumi dari Laura,” demikian ungkapan Niniek L Karim ketika bercerita tentang buku yang paling dikaguminya.

Buku ataupun film dapat menjadi kisah yang menyenangkan bagi setiap orang, tetapi tidak semua orang menyimpan cerita itu hingga dewasa. Hal itu dialami oleh Niniek L Karim, artis dan dosen Psikologi yang masih menyimpan kisah Laura Ingalls dalam buku Little House on The Prairie karya Laura Ingalls Wilder. Kenangan kisah gadis kecil energik dan kadang usil itu masih tersimpan kuat dalam memori Niniek hinga saat ini. Niniek merasa buku itu telah mengajarkan tentang kerja keras dan tidak pernah mengeluh dalam menghadapi persoalan serta kehangatan keluarga.
Buku itu pula yang membuatnya mengenal dengan baik negeri empat musim, termasuk bagaimana imigran pertama kali datang ke Amerika. Meski saat ini dia merasa sudah cukup tua untuk mengingat masa kecilnya ketika pertama membaca karya Laura Ingalls, tetapi perasaan yang tertanam dari buku tersebut masih kuat dalam dirinya. Niniek menceritakan ketika dia berkunjung ke Perancis dan Belgia, saat mengunjungi desa di sana ingatannya akan kisah yang ditulis Laura langsung mencuat meski telah berlalu puluhan tahun sejak dia membaca buku tersebut.
Begitu kuatnya kesan tertanam dari buku cerita anak itu, Niniek tidak dapat menahan dirinya untuk turun dari mobil ketika melewati sebuat peternakan di pedesaan di Perancis. “Saya ingin mencium bau jerami, saya ingin megang gulungan jerami itu, karena waya ingat Laura bermain di tumpukan jerami hingga dimarahi ayahnya,” kenang wanita yang memiliki nama Sri Rochani Soesetio Karim itu.
Meski mengakui sangat gandrung terhadap buku cerita tersebut, Niniek menyatakan, dia tidak mengikuti apa yang dilakukan Laura dan Merry dalam cerita itu. Jika kemudian Niniek kadang berbuat usil terhadap dosennya dahulu itu bukan meniru tingkah laku Laura, tetapi diakuinya, “Saya rasa saya memang begitu (usil) juga, dan kalau saya menjadi pengajar bukan karena meniru Merry, tetapi pilihan hidup saya,” ujar ibu dari Azsansandra dan Sharlini Cita tersebut.
(UMI/LITBANG Kompas)