Sunday, October 9, 2011

Emeritus: Buku Putih Sepuluh Tahun Tak Terucap


Kehidupan pendeta dan keluarganya seperti di rumah kaca. Hampir tiap orang dapat melihat dari luar apa saja tingkah polah mereka. Keluarga pendeta menjadi bahan empuk pergunjingan di antara warga. Hampir tanpa dapat membela diri. Namun, siapa yang dapat mengerti apa yang ada di dalam benak sang pendeta? Tahun 2001, suatu hari di kawasan istora senayan, ada kebaktian semacam kebangunan rohani yang dihadiri tidak kurang dari 10.000 orang. Menurut saksi mata yang hadir di sana, semua tempat duduk penuh sesak. Namun, ada yang tidak lazim dalam kebaktian itu. Itu bukan kebaktian biasa. Ini adalah kebaktian pengutusan salah satu pendeta senior gereja tersebut kepada pelayanan marketplace. Namun, pendeta tersebut bukan melayani kaum pebisnis. Ia diutus untuk menjadi pebisnis itu sendiri. Seorang sumber merasakan atmosfer aneh dalam kebaktian itu. “Bagaimana mungkin pendeta melepaskan diri dari dunia yang “kudus” dan dipuja jemaat, masuk ke dunia asing yang penuh onak dan muslihat?” batinnya. Novel ini memberi penjelasan, ternyata ia dipensiun dini. Atau, seperti diakui si tokoh utama, ia memensiunkan diri. Suatu keadaan yang sangat tidak lazim terjadi dalam gereja-gereja sejenis dengan gereja tersebut. Sebuah keretakan yang dibalut dengan hiasan yang gegap gempita. Novel karya Ita Siregar ini bergerak cepat dengan konsep flash back si tokoh utama disambut flash back lain yang lebih detil. Pembaca tidak dibiarkan satu detik pun mengambil napas dan mencerna kisahnya sampai satu bab itu berakhir. Si tokoh utama mengambil sudut orang pertama dengan tokoh aku, merangkai kisah-kisah flashback seperti menyatukan puzzle. Puncaknya saat ia akhirnya jatuh ke pelukan wanita malam satu ke wanita malam yang lain karena menghadapi frustrasi karena terbelit lingkaran setan pelayanan, komunikasi dengan istri yang dingin, dan idealisme batin dia tentang arti sejati mempersembahkan hidup kepada Tuhan. Dalam novel yang diangkat dari kisah nyata ini, semua isi hati pendeta—yang selama ini hanya dapat diduga-duga, terkuak. Ini semacam pembelaan sunyi sang pendeta terhadap simpangsiur selama ini berita tentang hidupnya. Saya kira juga pembelaan sunyi para pendeta dan keluarganya terhadap tekanan sosial yang berat menimpa mereka. Pendeta juga manusia, punya problema yang sama dengan kita. Punya kesalahan yang sama. Dan, berhak diberi kesempatan kedua, ketiga, keseratus, atau berapa pun. Yang sangat menarik dalam novel ini, terdapat petikan sejarah tahun 70-an saat persekutuan mahasiswa Kristen (PMK) menjamur di berbagai kampus pasca diberlakukannya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) terkait peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974). Apakah booming PMK-PMK dengan diberlakukannya NKK/BKK ada hubungannya, dapat diperdebatkan. Namun, pentolan-pentolan PMK-PMK ini pasti sekarang sudah menduduki jabatan strategis di berbagai instansi yang mereka pimpin. Termasuk kawan seperjuangan si tokoh utama dalam novel ini. Judul: Emeritus Sub Judul: Memoar Seorang Pendeta Genre: Novel Harga: Rp 55.000,- Penulis: Ita Siregar ISBN: 978-979-687-953-3 Tebal: 322 halaman Berat: 200 gram Ukuran: 11,5 cm x 18 cm