Tuesday, November 29, 2011

Buku Philip Yancey Terbaru: DOA



Alkitab mengatakan ada suatu masa ketika Allah dan Adam berjalan bersama di Taman Eden dan berbicara sebagai sahabat.

Lalu, doa pun menjadi sama alaminya seperti obrolan dengan seorang rekan atau kekasih. Namun, kini banyak di antara kita yang menyuarakan komentar seperti ini: “Saya tidak selalu bersikap jujur saat berdoa. Kadang hal itu terasa seperti dipaksakan, mirip semacam ritual. Saya sekadar mengulangi kata-kata. Apakah Allah mendengarkannya? Haruskah saya melanjutkannya sekalipun tak yakin bahwa apa yang saya lakukan itu benar?” Banyak orang Kristen selalu menganggap doa sebagai hal yang penting—sekaligus membuat frustrasi: Jika Allah Mahatahu, buat apa kita perlu berdoa lagi?

Ditulis sebagai sesama peziarah, Philip Yancey mengupas topik ini—persimpangan misterius tempat Allah dan manusia bertemu dan berhubungan—dengan cara yang tidak biasa, dengan sudut pandang menyegarkan dan unik. Dalam buku ini Yancey mengeksplorasi berbagai permasalahan seperti:

  • Apakah Allah mendengarkan?
  • Mengapa Allah mau memedulikan kita?
  • Mengapa banyak doa yang tak terjawab?
  • Mengapa Allah membiarkan dunia berjalan sebagaimana adanya dan tidak melakukan intervensi?
  • Apakah doa bisa membantu kesembuhan fisik?
  • Mengapa Allah kadang-kadang tampak dekat, kadang-kadang tampak jauh?
  • Apakah doa mengubah Allah atau saya?
  • Bagaimana cara membuat doa terasa memuaskan?

Yancey mendukung jawabannya dengan penjelasan yang kuat mengenai pentingnya tempat Allah dalam doa dan mengapa kita harus menghargainya. Buku ini merupakan suatu undangan untuk berdoa pada Allah yang ingin berinteraksi dengan kita, bahkan memberikan kita kuasa untuk memengaruhi apa yang sedang terjadi.

“Jika doa merupakan tempat Allah dan manusia bertemu, saya harus mempelajari doa,” demikian tulis Yancey. “Saya telah menulis 20 buku, dan kebanyakan berkisar pada dua tema yang sama: mengapa Allah tidak melakukan apa yang kita inginkan dan mengapa saya tidak bertindak seperti yang Allah inginkan. Doa adalah titik tempat kedua hal ini bertemu.”

Tentang Penulis
Philip Yancey adalah kontributor di majalah Christianity Today. Ia telah menulis 12 buku yang meraih penghargaan Gold Medallion Award dan memenangkan dua penghargaan ECPA Book of the Year untuk buku What’s So Amazing About Grace? dan The Jesus I Never Knew. Empat buku karyanya masing-masing terjual lebih dari satu juta eksemplar. Ia tinggal di Colorado bersama istrinya.

Monday, November 14, 2011

Resah

Kegilaan ini tiada akhir
Gempur
Sikat
Pendam
Injak
...
Muncul

Saturday, November 12, 2011

Ketika Tuhan Berbisik -- Sebuah Imajinasi Liar Menggayakan Kisah dalam Alkitab

cover asyik

back cover gak kalah asyik

kalau ditaruh di meja



UKURAN              : 11 X 18 cm
KERTAS ISI           : Bookpaper 55 gr
CETAK                   : B/W
JUMLAH HAL      :  404 halaman
PENULIS               : Para Pemenang Lomba Menulis Cerpen dan Novelet Kristiani
ISBN                      : 978-979-687-575-7
HARGA                 : Rp 55.000,-
PENERBIT            : INSPIRASI

Buku ini berisi 5 cerpen dan 5 novelet pemenang Festival Penulis dan Pembaca Kristiani tahun 2010 yang diadakan oleh Komunitas Penjunan (Penulis dan Jurnalis Nasrani) yang bekerja sama dengan BPK Gunung Mulia. Ide dasar untuk semua cerpen dan novelet ini adalah kisah-kisah atau kitab-kitab di dalam Alkitab. Jadi ini merupakan suatu upaya menafsirkan Alkitab secara kreatif melalui cerita.

Narasi-narasi yang

Alkitab bertaburan cerita dan kisah. Bagaimana kalau ada yang menulis ulang kisah-kisah itu dalam bentuk prosa modern? Imajinasi liar para penulisnya bakal terpuaskan.

Berikut judul-judulnya beserta nama penulis.

Cerpen:
Getas: Yulius Tandyanto
Jericho: Y.E. Marstyanto
Perempuan, Patung, dan Burung Merpati: Gunawan Monoharto
Pesan Terakhir: Joanna Dyas Ekaristi Pepe
Nasib Paman Nahbi: Zuingli Santo Bandaso

Novelet:
Nyanyian Rimba: Indah Darmastuti
Tamu di Rumah Ayahku: Dina Novita Tuasuun
Tanjung 107: Riris Ernaeni
Masih Ada Yesus, Masih Ada Harapan: Lucya Pardede
Di Bawah Pohon Kamboja: Barnabas Eddy Junaedi Pepe

Friday, November 11, 2011

Halusinasi

Halusinasi di mataku
Kegilaan di hatiku
Gemetar di tanganku
Edan di otakku
Abu-abu
Kabut
Samar
Satu tangan menjaring angin


Thursday, November 3, 2011

Seri Little House: Pengelana rumah Kecil

Judul : Pengelana Rumah Kecil Seri : Little House (Seri Laura)
Penulis : Laura Ingalls Wilder
No. ISBN : 978-979-687-878-9
Ukuran :11x18cm
Tebal : 394 hlm.

Buku ini adalah buku kesepuluh dari seri Laura dalam seri Little House yang diterbitkan oleh Libri/BPK Gunung Mulia. Berbeda dengan sembilan buku sebelumnya yang memiliki ciri novel, buku kesepuluh ini berisi catatan perjalanan dan surat-surat yang ditulis oleh Laura Ingalls Wilder sendiri.

Laura Ingalls Wilder adalah seorang penulis dan pionir terkenal di Amerika Serikat. Ia menuliskan novel-novelnya berdasarkan pengalamannya semenjak ia masih kecil (terutama pengalamannya ketika ia ikut mengembara bersama keluarganya) sampai ia menetap dan berkeluarga.

Buku kesepuluh ini terdiri dari tiga buah tulisan—dua di antaranya pernah diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, yaitu Bagian Satu dan Bagian Dua (Bagian Satu adalah penerbitan ulang dari judul lama ”Dalam Perjalanan Pulang” sementara Bagian Dua dari ”Surat dari Jauh”. Tulisan ketiga, ”Napak Tilas” adalah bagian yang paling baru dan belum pernah diterbitkan.

Bagian Satu berisi catatan perjalanan yang ditulis Laura ketika mereka (Laura, suaminya Almanzo, dan putri mereka Rose) meninggalkan De Smet, Dakota, mencari rumah baru di Mansfield, Missouri (tahun 1894). Bagian Dua berisi surat-surat yang ditulis Laura kepada suaminya, Almanzo Wilder, ketika Laura sedang berada di San Francisco, mengunjungi putrinya, Rose (1915).

Bagian ketiga berisi catatan perjalanan Laura ketika ia bersama Almanzo melakukan ”tapak tilas” ke De Smet, dalam rangka persiapan menjelang penerbitan seri Little House (1931).

Dalam semua tulisan itu, Laura Ingalls Wilder tetap muncul sebagai seorang ”Pengelana Rumah Kecil”. Gadis pengelana seperti Laura tidak pernah berhenti mengalami hal baru dan menuangkannya dalam tulisan. Dalam buku ini, ia tetap menjadi saksi sejarah atas pertumbuhan Amerika Serikat. Baik bersama ayah-ibu dan saudari-saudarinya, bersama suami dan putrinya, maupun sendirian, baik naik gerobak yang ditarik kuda, kereta api, trem, maupun mobil Buick, Laura tetaplah seorang gadis pengelana yang antusias dan pengamat yang tajam.

Segala sesuatu yang dialami, dirasakan, dan dipikirkannya dalam semua perjalanan direkam dan dituangkannya dalam tulisan yang kini dapat dinikmati dengan baik oleh semua penggemarnya.

Buku ini terdiri dari 3 bagian atau tulisan berbeda. Tulisan pertama adalah bagian yang dulu pernah diterbitkan oleh PT BPK Gunung Mulia. Bagian ini berisi catatan perjalanan yang dibuat Laura ketika ia bersama suami dan putrinya, Rose, melakukan perjalanan ke Mansfield, Missouri, yaitu rumah baru mereka. Mereka melakukan perjalanan dengan menggunakan gerobak kuda, ditemani oleh keluarga Cooley. Perjalanan ini berlangsung sekitar 1,5 bulan. Ini merupakan perjalanan Laura ke rumah kecil mereka yang terakhir (sejak itu ia tidak pernah pindah ke tempat lain). Panenan yang buruk dan berbagai musibah yang terjadi di De Smet, Dakota Selatan, membuat Laura dan Almanzo mengambil keputusan ini. Tampaknya jiwa petualangan Laura dan jiwa petani Almanzo bersatu: Laura mencari petualangan baru, sementara Almanzo mencari tanah baru untuk digarap.

Laura menuliskan apa yang ia lihat, ia rasakan, dan ia alami dalam suatu buku catatan kecil dengan pensil. Bagian ini disertai banyak foto—bukan foto yang diambil Laura, tetapi merekam tempat-tempat dan/atau suasana yang dulu pernah dialami atau dilihat Laura.

Bagian atau tulisan pertama ini terhenti pada bagian ketika Almanzo dan keluarganya sudah sampai di Mansfield, Missouri, dan masih mencari tanah untuk ditinggali/digarap. Rose, putri mereka, membuat semacam epilog untuk bagian ini, yang menceritakan bagaimana akhirnya mereka memperoleh tanah yang mereka beli dan kemudian mereka garap. Tanah itulah yang kemudian disebut sebagai “Tanah Pertanian di Lereng Bukit” (Rocky Ridge).

Dalam bagian atau tulisan kedua, “Surat dari Jauh”, Laura melakukan sesuatu yang unik: ia mengunjungi putrinya, yang saat itu (tahun 1915) berusia 29 tahun—sementara Laura sendiri berusia 49 tahun—di San Francisco. Laura mengunjungi Rose dengan tujuan utama: melihat Pameran Internasional Panama-Pasifik di kota itu—di samping tentu saja ingin mengunjungi Rose. Mungkin, inilah untuk pertama kalinya Laura melihat sesuatu yang bersifat “internasional”. Ia juga mengalami banyak hal yang belum pernah dialaminya, seperti pertama kali merasakan sensasi pantai dan air lautnya di Samudera Pasifik.

Sesuai dengan judulnya, tulisan Laura memang merupakan surat, yaitu surat yang ditujukan pada suaminya, Almanzo. Laura meninggalkan rumahnya di Mansfield, Missouri, sejak 21 Agustus 1915, sampai ia kembali pada bulan November tahun itu juga.

Laura tampak antusias dengan pameran itu. Ia sangat sering menghadirinya, entah sendiri maupun bersama Rose. Ia selalu menemukan banyak hal yang bisa dibagikan kepada Almanzo melalui surat. Ia terkesan dengan banyak hal, terutama terkait dengan kebudayaan dan kemajuan zaman. Foto-foto dalam bagian ini—sama seperti foto dalam tulisan sebelumnya—tidaklah dibuat sendiri oleh Laura, namun memperlihatkan suasana dan pemandangan yang kira-kira dialami dan dilihat oleh Laura pada saat itu (namun, ada beberapa foto pribadi Laura yang tercantum).

Dalam perjalanan mengunjungi Pameran itu, Laura membuat beberapa artikel untuk Ruralist, surat kabar di Missoiuri yang biasanya memuat tulisan Laura. Laura juga sempat menuliskan resep masakan dari beberapa negara yang stand atau anjunganya sempat ia kunjungi di Pameran. Semua resep itu dicantumkan dalam akhir bagian kedua ini.

Dalam bagian atau tulisan ketiga, “Tapak Tilas”, Laura kembali menulis catatan perjalanan. Ia, kini berusia 64 tahun, melakukan perjalanan bersama Almanzo (yang usianya tentu jauh lebih tua pada saat itu) ke De Smet, Dakota. Perjalanan yang dilakukan pada tahun 1931 ini mereka lakukan dengan menggunakan sebuah mobil Buick dan berlangsung antara 6 Juni 1931 sampai 29 Juni 1931. Tujuan perjalanan ini tampaknya semacam persiapan sebelum Laura menerbitkan novel seri Little House-nya yang pertama (Rumah Kecil di Rimba Besar).

Ini semacam perjalanan “rewind”—putar balik—suatu perjalanan yang dulu pernah mereka lakukan, tetapi kini mereka lakukan secara terbalik: dari Mansfield, Missouri, ke De Smet, Dakota. Begitu juga, kini mereka hanya melakukannya berdua, dengan hanya ditemani Nero, anjing peliharaan mereka.

Dalam perjalanan, Laura mengontraskan banyak hal, terutama antara apa yang dulu pernah dilihatnya dan bagaimana keadaannya sekarang. Tulisannya tetap tajam dan detail. Ia bahkan mencatat pengeluaran yang mereka buat, seperti bensin, penginanpan, dan makan.

Mungkin, bagian yang mengharukan adalah kunjungannya ke keluarga Carrie dan Grace—dua orang adiknya. Mereka memang tinggal di De Smet (atau di sekitar kota ini). Keduanya tampak sakit-sakitan dan tidak sehat. Laura pun sempat berjumpa dengan beberapa orang yang pernah dikenalnya dari masa gadisnya dulu di De Smet. Namun, tulisan Laura tampak dewasa, tidak emosional. Ia tampak dapat mengambil jarak dan menilai dengan objektif. Laura memang seorang penulis yang andal dan tajam.

Buku ini merupakan salah satu karya dari salah seorang penulis terbaik di Amerika Serikat dan dunia. Selain itu, buku ini—dan semua judul lain dalam seri ini—sudah mengalami beberapa kali cetak ulang.

Buku ini memiliki basis penggemar tersendiri. Di dunia, banyak kelompok penggemar Laura Ingalls. Di internet, banyak situs yang didedikasikan bagi Laura Ingalls. Bahkan, di Amerika Serikat, tempat-tempat yang pernah ditinggali/dilewati Laura Ingalls dan keluargannya menjadi tempat bersejarah yang sering dikunjungi orang.

Walaupun karakter buku ini sedikit berbeda dengan 9 buku lainnya dari Laura Ingalls Wilder, namun ciri khas tulisan Laura tetap muncul di sini. Ia tetap menulis dengan ketajaman dan suara hati yang jelas. Pembaca dapat melihat karakter dan kepribadian Laura melalui tulisan ini, juga kebiasaan dan kegemarannya yang suka mengamati dan membuat penilaian

Buku ini, jika ingin ditarik pesan moralnya, adalah buku yang memperlihatkan bagaimana semangat keterbukaan Laura terhadap dunia luar sangat besar. Laura sangat tertarik dan tertantang dengan hal-hal baru dan bersifat petualangan. Dengan berbagai motivasi, buku ini memperlihatkan hal tersebut.

Buku ini ditulis dengan gaya yang enak dibaca dan gaya bercerita yang lancar dan mengasyikkan serta diselingi berbagai foto yang monumental yang memotret pemandangan yang kira-kira dialami oleh Laura sendiri ketika ia melakukan perjalanan atau pengamatan dalam buku ini.

Buku ini menceritakan banyak hal yang informatif: situasi/keadaan di beberapa tempat di Amerika Serikat (suasana antara De Smet, Dakota, dan Mansfield, Missouri, pada tahun 1894, dan perbandingannya pada tahun 1931, perjalanan Laura ke San Francisco, dan suasana kota San Francisco pada tahun 1915).

Laura tetaplah Laura. Ia berkelana semenjak masih kanak-kanak dan tetap berkelana meski sudah memasuki usia senja. Ia telah bepergian menggunakan gerobak kuda, kereta api, dan mobil, baik sendirian, bersama orangtua dan kakak-adiknya, dengan suaminya, maupun beserta putrinya. Selama 60 tahun perjalanannya, ia telah memperhatikan bagaimana waktu, musim, dan manusia mengalami perubahan. Namun, ada satu hal yang tetap sama: Laura selalu siap dengan pensil dan kertas untuk mencatat seluruh pengalamannya.

Buku yang merupakan gabungan dari tiga kumpulan tulisan Laura ini menjadi saksi bahwa gadis pengelana seperti dirinya tidak pernah berhenti mengalami hal baru dan menuangkannya dalam tulisan. Seperti tertulis pada salah satu pengantar dalam buku ini, Laura tetaplah seorang pengamat yang tajam dan pengelana yang antusias.

Little House—Seri Laura
Laura Ingalls, gadis pionir favorit Amerika Serikat, menuliskan pengalamannya ketika ia bersama keluarganya melintasi padang rumput, hutan, dan pegunungan di wilayah Wisconsin, Kansas, Minnesota, dan Dakota Selatan. Berkelana dengan menggunakan gerobak kuda bertutup terpal, ia menjadi salah seorang saksi mata pertumbuhan Amerika Serikat yang sedang berkembang menjadi suatu negara maju. Selain menjadi salah satu karya sastra terbaik di Amerika Serikat dan dunia, tulisannya sarat dengan pesan mengenai kerja keras, ketekunan, keberanian, tolong-menolong, dan jiwa petualangan.
Tentang Penulis
Laura Ingalls Wilder (6 Februari 1867-10 Februari 1957), adalah seorang penulis dan gadis pionir favorit di Amerika Serikat. Kisah pengembaraannya di wilayah Barat menjadi salah satu kisah yang inspiratif bagi banyak orang di Amerika Serikat. Karya tulisannya segera menjadi salah satu karya sastra terbaik pada waktu itu. Ia lahir di Pepin, Wisconsin, dan bersama keluarganya mengembara ke Independence, Kansas. Sekitar setahun di sana, keluarganya pindah ke Walnut Grove, Minnesota. Dari sana, mereka pindah lagi dan menetap di De Smet, Dakota Selatan. Ia tumbuh dan berkembang dalam dunia pengembaraan, sebelum akhirnya berjumpa dengan Almanzo Wilder dan menikah dengannya pada tahun 1885. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Rose yang lahir di De Smet, Dakota Selatan. Semua kisahnya tersebut terangkum dalam 9 novel karyanya dan sebuah buku yang berisi kumpulan catatan perjalanan dan surat-menyuratnya.