Saturday, December 31, 2011

Theodore Boone -- tulisan John Grisham untuk anak-anak

Judul: Theodore Boone
Buku 1: Pengacara Cilik/Kid Lawyer
Harga: 42.000,-
ISBN / EAN :  9789792262292 / 9789792262292
Penulis : John Grisham
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Terbit : 28 September 2010
Tebal : 290 hlm.


Theo Boone, 13 tahun, tahu banyak tentang hukum, sebab kedua orangtuanya pengacara dan ia kenal baik dengan para hakim, polisi, serta petugas pengadilan. Ia ingin menjadi pengacara hebat, beraksi dari satu ruang sidang ke ruang sidang lain.
Dan sekarang Theo betul-betul berada di ruang sidang. Karena tahu begitu banyak -mungkin terlalu banyak -ia terseret ke dalam persidangan kasus pembunuhan yang sensasional.

Seorang pembunuh berdarah dingin mungkin akan bebas, dan hanya Theo yang tahu fakta sebenarnya.



Buku 2: Penculikan.
Harga: 42.000,-
ISBN / EAN:  9789792271270 / 9789792271270
Author : John Grisham
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Terbit : 30 Juni 2011
Tebal : 352 hlm.



Monday, December 19, 2011

Sang Wakil dan Sang Sekretaris

ilustrasi colongan dari internet, semoga yang punya gak marah


Keriuhan di Solaria, Ratu Plaza, Sabtu sore itu sepertinya tidak membuat dua orang yang duduk di sudut terusik. Pria dan perempuan berkerudung di depannya hanya terpaku di kursi mereka.
"Aku mencintaimu," sudah ketiga kali si pria mengatakan itu. Si perempuan diam membisu.

"Sejak itu, setiap malam, engkau menghantuiku dengan wajah sendumu itu," si pria merajuk. Si perempuan tetap diam. "Maafkan, kepengecutanku. Aku tidak tahu. Bahkan sampai sekarang pun aku tidak tahu perasaanmu kepadaku. Aku tidak ingin tahu. Aku terlalu takut ingin tahu. Tapi yang jelas, aku masih mencintaimu hingga detik ini." Suara tertawa berderai di sudut lain tidak mampu menyingkirkan keheningan di antara mereka.


ilustrasi colongan juga


Sepuluh tahun sudah lewat mereka tidak bertemu. Sang wakil ketua PMK dan sekretarisnya. Zaman mereka bersama-sama berkumpul di ruang kegiatan mahasiswa. Bersekutu, mendengarkan firman Tuhan dari para pendeta atau pembimbing rohani berbagai lembaga pelayanan rohani, dan saling menguatkan iman.

Sekarang mereka berbeda.
Si laki-laki menyeletuk lagi. "Aku berusaha memahami rasaku, bertanya pada tiap helai akal sehatku.
Tapi jawab akal sehat, Kamu bodoh. Lalu aku berlari kepada norma," si laki-laki melanjutkan. "Jawab norma, Kamu salah. Namun, aku tidak mampu menyangkalinya. Bisa gila. Aku menyerah pasrah. Aku masih mencintaimu. Otakku langsung berteriak, Sama gilanya." Laki-laki menutup kalimatnya, "Lebih baik gila akal tapi jujur hati."

Hening di antara mereka ada setidaknya lima belas menit.

"Aku pengen punya anak darimu," tiba-tiba si laki-laki berucap.
"Kamu gila, Mas," si perempuan menjawab. "Aku sudah bahagia dengan mas Ali."

"Aku terlambat sepuluh tahun," si laki-laki menggumam. "Aku mencarimu selalu sejak kau pergi. Namun, kamu menghilang tanpa jejak." "Sama sekali tanpa kabar. Tanpa berita."

Terdengar alunan lembut lagu Sting,

"... Since you've gone I've been lost without a trace
I dream at night, I can only see your face
I look around but it's you I can't replace
I feel so cold and I long for your embrace
I keep calling baby, baby please...

Oh can't you see
You belong to me
How my poor heart aches
With every step you take ..."

Selepas lagu televisi yang digantung di dinding sedang menyiarkan profil seorang yang disebut-sebut punya kans besar dicalonkan sebagai wakil presiden oleh partai terbesar. "... Di saat kita tidak dapat menemukan panutan dalam integritas, Daniel Pracaya, telah menjadi legenda hidup dalam kejujuran dan keterbukaan ...." si penyiar terang-terangan memuji politikus tersebut. Mungkin karena ia benar-benar frustrasi dengan kondisi negaranya. "Daniel bakal menjadi pendamping yang sangat pas bagi JSJ," penyiar tersebut malah berpromosi. Entah karena diminta bosnya-pemilik TV tersebut memang dekat dengan JSJ, jenderal purnawirawan terpopuler saat ini-atau karena si penyiar benar-benar kagum. Entahlah.

ini hasil foto sendiri he he he

Namun, dua insan yang masih tidak juga menghabiskan makan mereka terlihat sibuk dengan lamunan masing-masing.


"Engkau selama ini ke mana saja?" si pria masih menuntut penjelasan. "Mengapa kamu menghilang tanpa jejak. Apakah kamu selama ini tahu perasaanku? Mengapa kamu tega sekali? Kamu telah menjual imanmu demi laki-laki itu," laki-laki itu terus mencecar.

"Imanku masalah hati, Mas. Tidak untuk diperjual-belikan. Jangan sembarangan menuduh. Engkau tidak tahu apa-apa dengan perjalanan imanku," si wanita tiba-tiba menyahut. "Lalu, mengapa dulu kamu tidak ngomong kalau sebenarnya kamu punya rasa kepadaku." "Mengapa tiba-tiba kamu muncul dengan serentetan meracau? Apakah dengan pengakuan bahwa kamu pengecut, itu bakal menyelesaikan segalanya? Atau, pertemuan ini hanya untuk menutupi rasa bersalahmu, Mas?"

"Maaf," si laki-laki hanya bisa menyahut lirih.
"Dan, selama sepuluh tahun ini, Mas sama sekali tidak mau membuka hati pada perempuan lain?"



...

I'll fight, babe, I'll fight
To win back your love again
I will be there, I will be there
Love, only love
Can break down the wall someday
I will be there, I will be there

If we'd go again
All the way from the start
I would try to change
The things that killed our love
Your pride has built a wall, so strong
That I can't get through
Is there really no chance
To start once again
I'm loving you
...

"Maaf," sekali lagi si laki-laki hanya bisa menyahut lirih.



Saturday, December 10, 2011

Tukang Bakso Keturunan Raja Mataram: Refleksi Adven 2011

Mengapa para bapa gereja menempatkan Matius sebagai kitab pertama dalam empat Injil kanonik. Sebab, sekarang sebagian besar pakar Perjanjian Baru sepakat Kitab Markuslah yang dianggap sebagai tulisan terawal di antara empat Injil tersebut.


Pertanyaan yang muncul adalah apakah para bapa gereja itu tidak tahu bahwa Markus menjadi dasar penulisan tiga Injil yang lain? Apakah mereka juga tidak tahu kalau di balik tulisan Markus (yang konon menjadi cameo pada waktu adegan Yesus ditangkap prajurit penjaga Bait Allah—lihat Markus 14:51) ada nama Petrus, satu di antara tiga murid terdekat Yesus? Atau, apakah karena begitu singkatnya  Kitab Markus sehingga Matius yang lebih sistematis dan lebih lengkap ceritanya akhirnya diletakkan sebagai Injil pertama? Entahlah, kemungkinan besar pertanyaan terakhir ini—berdasar pendapat para pakar sejarah gereja—punya jawaban ‘ya’.

Beberapa waktu lalu, pertanyaan-pertanyaan ini sedikit terkuak jawabannya di benak saya. Walaupun banyak pakar yang menyangkal Rasul Matius, si pemungut cukai murid Tuhan Yesus, yang menulis kitab yang mengawali Perjanjian Baru ini, tetapi jika Anda memerhatikan betapa rapi si penulis menyusun setiap tulisannya, bak lembaran-lembaran laporan pajak, seakan-akan memberi petunjuk kuat siapa yang ada di balik Kitab ini.

Matius mengawali tulisannya dengan silsilah yang dimulai dari nenek moyang orang Ibrani, Abraham, Ishak, dan Yakub. Matius juga menempatkan raja terbesar Israel: Daud. Dan, ia juga menempatkan Zerubabel, pemimpin yang paling legitimate setelah 70 tahun pembuangan Israel di Babilonia. Namun, di sisi lain Matius juga menempatkan wanita-wanita dalam silsilah yang disusunnya: sesuatu yang sama sekali tidak lazim. Dan, anehnya ia menempatkan wanita-wanita yang dianggap masyarakat Yahudi waktu itu ”kurang baik perangainya”. Tamar yang dikawini mertuanya, Rahab yang perempuan sundal, janda dari Moab: Rut, dan Batsyeba: selingkuhan Daud. Sejauh yang saya tahu, saya belum pernah melihat silsilah yang mengungkapkan borok tokoh yang dijunjungnya. Jika Anda berbelanja ke Mirota Batik, di situ tersedia gratis lembaran silsilah raja-raja Yogyakarta. Hampir tidak ada borok di sana. Jadi, Matius pasti memiliki maksud tertentu.

Pembagian-pembagian 14 nama—pasti dengan mengorbankan sejumlah nama tidak diikutsertakan dalam silsilah itu, yang menyebabkan beberapa orang ngotot silsilah Yesus salah—memang mengandung makna khusus sebab 14=2x7. Angka tujuh, sebuah angka sempurna di mata orang Yahudi, pada waktu itu memang disengaja Matius mengingat ia memang menujukan Injil ini kepada orang-orang Yahudi.

Benar, Matius memang menujukan Kitab ini untuk orang-orang Yahudi yang sedang menunggu-nunggu Mesias, raja keturunan Daud yang hendak membebaskan mereka dari cengkeraman Romawi dan membawa umat Israel kepada kejayaan Daud. Namun, Matius menawarkan Mesias yang lebih dari itu, Mesias yang membebaskan mereka dari dosa, itu yang ia jelaskan pada barisan tulisan-tulisannya selanjutnya.

Dan, Matius memang dengan sungguh-sungguh menjelaskan bahwa Yesus adalah Mesias: Raja. Dia sah karena berasal dari keturunan raja-raja. Memang di sepanjang tulisannya, Matius menekankan pribadi Yesus sebagai raja. Ia hati-hati memilih kisah, perumpamaan, mukjizat, dan pengajaran Yesus dan keterangan-keterangan yang ia berikan memang memberi petunjuk kuat bahwa Yesus adalah raja sah orang Israel. Itu wajar saja, sebab bagaimanapun waktu itu dinasti Daud memang sudah runtuh tinggal puing-puing saja. Dan, keluarga Yesus adalah keluarga sederhana dengan pekerjaan sederhana: tukang kayu (walau ada yang mengasumsikan tukang kayu dimasukkan dalam kasta kelas menengah waktu itu). Jika saya mengandaikan seperti tahun 2011 di Indonesia, Yesus seperti tukang bakso di Pasar Klewer yang masih keturunan raja-raja Mataram yang sudah runtuh. Jika si tukang bakso mengaku-ngaku berhak atas takhta kerajaan di Jawa, apa yang ada di benak Anda? Ya, kira-kira begitulah yang ada di benak orang Yahudi pada waktu itu. Keberadaan silsilah itu akan memperkuat legitimasi Yesus.

Memang, silsilah, bagi orang Yahudi sangat penting (jika Anda orang Batak, pasti tahu itu—jodoh pun tergantung silsilah Anda bukan?) dan sangat berpengaruh pada  soal-soal penghidupannya. Walau begitu pasti ada anomalinya. Misalnya, Matius yang orang Lewi, seharusnya ia bekerja sebagai imam—ulama, tetapi sewaktu ditemukan Yesus, ia malah bekerja di departemen perpajakan direktorat bea dan cukai (sebuah jabatan elit di Indonesia, tetapi karier yang dihujat di Palestina waktu itu). Yesus sendiri, keturunan ksatria, terpaksa menjalani hidup menjadi kaumwaisya. Semua itu karena angin politik yang sedang tidak berpihak kepada mereka dan banyak orang di kawasan itu. Silsilah itu membangkitkan kembali harapan orang-orang Yahudi yang menjadi pembaca Kitab Matius. Namun, silsilah yang sah tidak berarti jika tanpa hal-hal legitimate lainnya, oleh karena itu Kitab Matius tidak berhenti hanya di Pasal 1 ayat 17, masih ada 27 pasal selanjutnya he he he.

Sunday, December 4, 2011

Terbang

Angan melayang bagai terbang
menggapai yang tak tergapai
salah
terhempas
lepas
ngenas

Universitas Kristen Indonesia-Jakarta Universitas Swasta Tertua di Indonesia



Saat memasuki kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI), bayangan kampus semasa saya kuliah dulu langsung terpampang di mata.

Saya mendapat kesempatan mengenal lebih dekat Universitas yang saya dengar sejak SD dari ayah ini, saat mewakili BPK Gunung Mulia.