Monday, December 19, 2011

Sang Wakil dan Sang Sekretaris

ilustrasi colongan dari internet, semoga yang punya gak marah


Keriuhan di Solaria, Ratu Plaza, Sabtu sore itu sepertinya tidak membuat dua orang yang duduk di sudut terusik. Pria dan perempuan berkerudung di depannya hanya terpaku di kursi mereka.
"Aku mencintaimu," sudah ketiga kali si pria mengatakan itu. Si perempuan diam membisu.

"Sejak itu, setiap malam, engkau menghantuiku dengan wajah sendumu itu," si pria merajuk. Si perempuan tetap diam. "Maafkan, kepengecutanku. Aku tidak tahu. Bahkan sampai sekarang pun aku tidak tahu perasaanmu kepadaku. Aku tidak ingin tahu. Aku terlalu takut ingin tahu. Tapi yang jelas, aku masih mencintaimu hingga detik ini." Suara tertawa berderai di sudut lain tidak mampu menyingkirkan keheningan di antara mereka.


ilustrasi colongan juga


Sepuluh tahun sudah lewat mereka tidak bertemu. Sang wakil ketua PMK dan sekretarisnya. Zaman mereka bersama-sama berkumpul di ruang kegiatan mahasiswa. Bersekutu, mendengarkan firman Tuhan dari para pendeta atau pembimbing rohani berbagai lembaga pelayanan rohani, dan saling menguatkan iman.

Sekarang mereka berbeda.
Si laki-laki menyeletuk lagi. "Aku berusaha memahami rasaku, bertanya pada tiap helai akal sehatku.
Tapi jawab akal sehat, Kamu bodoh. Lalu aku berlari kepada norma," si laki-laki melanjutkan. "Jawab norma, Kamu salah. Namun, aku tidak mampu menyangkalinya. Bisa gila. Aku menyerah pasrah. Aku masih mencintaimu. Otakku langsung berteriak, Sama gilanya." Laki-laki menutup kalimatnya, "Lebih baik gila akal tapi jujur hati."

Hening di antara mereka ada setidaknya lima belas menit.

"Aku pengen punya anak darimu," tiba-tiba si laki-laki berucap.
"Kamu gila, Mas," si perempuan menjawab. "Aku sudah bahagia dengan mas Ali."

"Aku terlambat sepuluh tahun," si laki-laki menggumam. "Aku mencarimu selalu sejak kau pergi. Namun, kamu menghilang tanpa jejak." "Sama sekali tanpa kabar. Tanpa berita."

Terdengar alunan lembut lagu Sting,

"... Since you've gone I've been lost without a trace
I dream at night, I can only see your face
I look around but it's you I can't replace
I feel so cold and I long for your embrace
I keep calling baby, baby please...

Oh can't you see
You belong to me
How my poor heart aches
With every step you take ..."

Selepas lagu televisi yang digantung di dinding sedang menyiarkan profil seorang yang disebut-sebut punya kans besar dicalonkan sebagai wakil presiden oleh partai terbesar. "... Di saat kita tidak dapat menemukan panutan dalam integritas, Daniel Pracaya, telah menjadi legenda hidup dalam kejujuran dan keterbukaan ...." si penyiar terang-terangan memuji politikus tersebut. Mungkin karena ia benar-benar frustrasi dengan kondisi negaranya. "Daniel bakal menjadi pendamping yang sangat pas bagi JSJ," penyiar tersebut malah berpromosi. Entah karena diminta bosnya-pemilik TV tersebut memang dekat dengan JSJ, jenderal purnawirawan terpopuler saat ini-atau karena si penyiar benar-benar kagum. Entahlah.

ini hasil foto sendiri he he he

Namun, dua insan yang masih tidak juga menghabiskan makan mereka terlihat sibuk dengan lamunan masing-masing.


"Engkau selama ini ke mana saja?" si pria masih menuntut penjelasan. "Mengapa kamu menghilang tanpa jejak. Apakah kamu selama ini tahu perasaanku? Mengapa kamu tega sekali? Kamu telah menjual imanmu demi laki-laki itu," laki-laki itu terus mencecar.

"Imanku masalah hati, Mas. Tidak untuk diperjual-belikan. Jangan sembarangan menuduh. Engkau tidak tahu apa-apa dengan perjalanan imanku," si wanita tiba-tiba menyahut. "Lalu, mengapa dulu kamu tidak ngomong kalau sebenarnya kamu punya rasa kepadaku." "Mengapa tiba-tiba kamu muncul dengan serentetan meracau? Apakah dengan pengakuan bahwa kamu pengecut, itu bakal menyelesaikan segalanya? Atau, pertemuan ini hanya untuk menutupi rasa bersalahmu, Mas?"

"Maaf," si laki-laki hanya bisa menyahut lirih.
"Dan, selama sepuluh tahun ini, Mas sama sekali tidak mau membuka hati pada perempuan lain?"



...

I'll fight, babe, I'll fight
To win back your love again
I will be there, I will be there
Love, only love
Can break down the wall someday
I will be there, I will be there

If we'd go again
All the way from the start
I would try to change
The things that killed our love
Your pride has built a wall, so strong
That I can't get through
Is there really no chance
To start once again
I'm loving you
...

"Maaf," sekali lagi si laki-laki hanya bisa menyahut lirih.