Monday, December 31, 2012

Akhir tahun 2012

Tahun 2012 saya dipaksa keadaan untuk belajar berbagai hal. Semoga tahun depan, lebih longgar.

Tuesday, December 25, 2012

Mejeng di depan piramid.

Jaraknya setidaknya 2 km di belakang saya.masing masing batu berdimemsi setidaknya 1m kubik.

Natal: Waktunya Berempati kepada Para Pengungsi dan Eksil



Benar, Natal selain perayaan terhadap hadirnya kedamaian (sebuah utopia) di dunia, saya menyarankan ini adalah saat yang tepat untuk menghormati dan mengingat mereka yang mengungsi dan eksil (terasingkan dari negeri sendiri).

Di Indonesia sendiri setidaknya ada 16 ribu pengungsi karena berbagai sebab. Di dunia ini menurut United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) ada lebih 10 juta pengungsi di seluruh dunia. Organisasi yang dibentuk setelah perang dunia kedua ini menangani para pengungsi terutama akibat perang.

Indonesia sendiri, para pengungsi tersebut datang dari berbagai negara. Dahulu ada dari Kamboja, kini ada dari Afganistan dan beberapa negara Timur Tengah yang terlibat konflik dan menjadikan Indonesia tempat transit sebelum menuju ke negara ketiga tujuan mereka.

Yang, makin membuat kita perlu prihatin, ternyata selain sebagai tempat transit, Indonesia juga dalah sumber pengungsi dan eksil. Peristiwa 30 September 1965 menyebarkan warga negara Indonesia ke hampir seluruh penjuru Indonesia. Ada yang kembali ke Indonesia. Ada yang tidak.  Bahkan perubahan rezim, setelah 20 Mei 1998, tidak semua para eksil yang masih hidup, kembali ke Indonesia. Walau dengan berbagai alasan.

Perubahan arus politik sempat belas tahun lalu pun membawa korban. Kekerasan kepada etnis cina, menghasilkan eksil yang sampai sekarang masih belum berkenan kembali ke Indonesia.

Yang saya ceritakan belum termasuk warga negara kita yang harus mengungsi karena konflik horizontal yang disebabkan perbedaan kepercayaan, etnis, dan pandangan politik yang tidak eksil ke luar negeri, tetapi tidak dapat menikmati kehidupan di tempat kelahiran mereka.

Yang tersingkir dari tempat hidup damai mereka juga bukan hanya karena konflik, melainkan juga karena berbagai bencana. Baik bencana alamiah, juga bencana "non-alamiah".

Ingat. Di awal hidupnya, Yesus dan orangtuanya adalah eksil.

Mungkin saat Natal, kita hanya mengingatnya sebagai bayi mungil lucu dikelilingi halo (juga dikelilingi domba dan hewan-hewan ternak) dan sedang disembah para gembala dan tiga orang majus. Atau, kita mengingat Natal dalam bentuk pohon cemara sintetik (yang bahan utamanya dari minyak bumi yang makin habis). Dengan salib/malaikat di atasnya.

Ingat. Yang Anda baca di Alkitab, tentang seorang ibu yang terpaksa membiarkan bayinya tidur di tempat pakan ternak—apa pun penjelasan rasional untuk melunakkan efek kekejiannya—adalah akibat keserakahan seorang penguasa yang hendak mengeruk kekayaan. Dan, di Indonesia banyak sekali terjadi seperti itu, entah karena lumpur, tambang, keyakinan iman sang penguasa. Jadi, saat kita memandang boneka bayi di bawah pohon cemara berbahan polyethilene, kita tidak sekadar mensyukuri bahwa hidup kita sudah lengkap karena mendapat kapling di surga. Kita ingat bahwa di sekitar kita ada banyak bayi-bayi yang tidak dapat lahir di tempat normal.

Ingat. Beberapa tahun setelah si anak terpaksa lahir di tempat yang tidak layak, karena kekerasan berlatar belakang politik, mereka terpaksa eksil ke Mesir. Terus terang, di mana pun di dunia ini, dunia adalah tempat yang tidak adil.

Oh ya, saat Natal ini, kita harus mengingat orang-orang Palestina yang sejak 65 tahun lalu terusir dari tanah kelahiran mereka. Dan, kini mereka belum mendapatkan kembali kemerdekaan mereka yang terampas karena keserakahan Israel. Ironisnya oleh mereka yang satu bangsa dengan Yesus Kristus (walau definisi ini juga terlalu menyimplikasi masalah di kawasan yang dulu disebut Kanaan ini).

Saat ini banyak pengsungsi Palestina yang tersebar hampir di seluruh dunia, terutama di Libanon, Yordania, dan Mesir (ditangani oleh UNHCR dan berbagai lembaga kemanusiaan).


Jadi, selamat Natal. Salam dari Kairo Mesir.

Bayu Probo


Note:
Kutambahi tulisan apik karya Simon Rachmadi

Tentang Hari Natal, apakah benar Tuhan Yesus lahir pada tanggal 25 Desember?
Jawabnya: seperti membagi suatu bilangan dengan angka nol, alias "tak terdefinisikan". Tampaknya bukan.

Hal yang sama berlaku untuk Paskah. Tanggal berapakah Tuhan Yesus bangkit? Jawabnya sama: "tak terdefinisikan".

Kedua titik utama dalam kalender gerejawi tersebut bukannya mau mengekalkan sesuatu yang terjadi pada masa silam, namun untuk menyatakan apa-apa yang akan terjadi di masa depan: yaitu, harapan bahwa "Tuhan akan datang" dalam kesempurnaan-Nya.

Buktinya?

Ya, lihatlah sejarahnya. Natal ditetapkan berdasarkan sistem kalender Romawi, yang mengacu sistem solar (kalender matahari). Paskah ditetapkan dengan mengawinkan sistem kalender Romawi dan sistem kalender Yahudi (campuran sistem solar dan lunar), sehingga bergerak maju-mundur dari tahun ke tahun.

Natal ditetapkan dengan asumsi: "titik tergelap di jagad manusia" (i.e. dunia Romawi), yaitu tanggal 24 Desember. Idenya, dengan lahirnya Sang Kristus, maka jagad keluar dari kegelapan.

Paskah ditetapkan dengan asumsi: "titik harapan" (i.e. berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim semi), yang ditandai terbitnya bulan purnama. Maka, rumus penentuan tanggal Paskah adalah: pada hari Minggu pertama, sesudah equinox (bulan pertama terbit di musim semi). Rentang waktunya antara bulan Maret-April setiap tahun. Maka, kita mengalami deretan tanggal-tanggal Paskah yang berubah-ubah, seperti:


  • 12 April 1998
  • 23 Maret 2008
  • 12 April 2009
  • 4 April 2010
  • 24 April 2011
  • 8 April 2012
  • 31 Maret 2013
  • 12 April 2020
  • dst.

Dan dari acuan tanggal Paskah itu, ditentukanlah hari-hari istimewa lainnya, yaitu: Rabu Abu (46 hari sebelum Paskah), Minggu Palma (7 hari sebelum Paskah), Jumat Agung (3 hari sebelum Paskah), Kenaikan Tuhan (39 hari sesudah Paskah), dan Pentakosta (49 hari sesudah Paskah).

Sistem penghitungan tersebut di atas masih harus ditambah 1 hari, karena terjadi campuran antara sistem solar-lunar. Pada sistem solar, hari berganti pada pukul 12 malam. Pada sistem lunar, hari berganti pada pukul 6 petang. Maka, hari-hari besar liturgis menjadi "hari panjang" yang waktunya bukan 24 jam, tetapi 30 jam.

Kalau merayakan Pakah, misalnya, seharusnya dirayakan pada Hari Sabtu sore pukul 6 petang. Sebab, saat itu sistem solar bergabung dengan sistem lunar; dan akibatnya, hari Sabtu menjadi pendek. (Orang boleh pulang kerja lebih cepat. He..he..., supaya bisa ke Gereja; jangan ke night-club.)

Logika tersebut berlaku untuk semua hari besar, termasuk Natal. Seharusnya, perayaan Natal dimulai pada tanggal 24 Des pk 18:00, sebab saat itulah "Sang Juruselamat" meretas batas kegelapan, dan kita pun lalu menyalakan lilin Natal.

Pada hari Jumat Agung, perayaannya menjadi "heavy duty". Karena dimulai pada Hari Kamis Pu tih, yang mengawali drama penyaliban Kristus. Awalannya adalah: pembasuhan kaki para murid, lalu "tuguran" (vigil, lek-lek-an, doa semalam suntuk), kemudian "jalan salib" di fajar Jumat Agung, hingga "wafat Kristus" pada pukul 3:00 siang. -- Sesudah itu, acara menjadi sepi, sampai 27 jam kemudian, ketika Paskah dimulai pada hari Sabtu senja. -- Hitungan "hari wafat" Kristus pun lalu menjadi campuran logika dwi-sistem-kalender ini. Tuhan wafat, dan bangki pada hari ketiga: yaitu, (dihitunglah: Jumat, Sabtu, Minggu)...nah..hari Minggu! Maksudnya, sejak Sabtu sore pukul 18:00 menurut tatanalar manusia modern saat ini.

Nah, othak-athik kalender itu mau apa, sich?

Yang jelas, itu bukan untuk mengekalkan peristiwa masa silam. Bukan juga untuk merayakan ulang tahunnya Tuhan. Namun, untuk mengolah disiplin doa, bagi Gereja, supaya dapat menajamkan harapan akan kedatangan Tuhan di masa depan. Artinya, untuk menajamkan "sense of crisis" di komunitas orang percaya, supaya visi-misi mereka lebih hidup.

Entah mau silaturahmi keliling kampung, atau mau jalan-jalan di mall, atau mau khusyuk di gereja, silakan saja. Semoga masa-masa agung macam ini semakin mempertinggi mutu cinta dan karya-bakti kita. Selamat merayakan Adven, dan selamat mempersiapkan diri untuk menyambut Natal. Tuhan Yesus, datanglah segera. Maranatha.


Salam,
Simon Rachmadi


Monday, December 24, 2012

Wednesday, December 19, 2012

Kucing Hitam dan Kucing Putih


Ucapan Deng Xiao Ping pada pertemuan partai pekerja China, 1961, di Guangzhou, ""It doesn't matter whether it's a white cat or a black, I think; a cat that catches mice is a good cat," jadi sangat terkenal. Ia tidak sekadar berbincang tentang binatang karnivora untuk membasmi binatang pengerat menyebalkan di rumah. Ia berbincang tentang perubahan pendekatan ekonomi bagi negara berpenduduk lebih dari 1,3 miliar.

Dan, entah ia memakai "kucing putih" atau "kucing hitam" akhirnya ekonomi berbuah drastis. Terbukti hingga sekarang. Entah ke depan?

Namun, pepatah yang sangat terkenal ini sepertinya menjadi lambang pragmatisme. Cenderung semacam sikap menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Jika tujuannya baik apakah berarti cara yang dilakukan boleh jahat? Karena sepertinya China mulai menghadapi masalah akibat keputusan tanpa penduli "kucing" itu.

Bagaimana dengan Indonesia?

Wednesday, December 5, 2012

Veritas, Truth, Kebenaran

"Kebenaran? Apakah kebenaran?" tanya Pilatus kepada Yesus

Dalam sebuah kesempatan dengan Tomas, Yesus menjawab, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" " (Yoh.14:6).

Setelah itu, apa kata mereka?

"Saat Anda mengatakan kebenaran, Anda tidak harus mengingat apa pun," ― Mark Twain.

"Ketika putus asa, saya ingat bahwa sejarah mencatat kebenaran dan cinta selalu menang. Ada tiran dan pembunuh, dan untuk sementara waktu, mereka tampaknya tak terkalahkan, tetapi pada akhirnya, mereka selalu jatuh. Ingatlah itu selalu, " — Mahatma Gandhi.

"Seni adalah kebohongan yang memungkinkan kita untuk menyadari kebenaran," — Pablo Picasso.

"Semakin banyak yang saya lihat, semakin sedikit saya yakin," — John Lennon.

"Tidak ada fakta, interpretasi saja," — Friedrich Nietzsche.

"Ketika sedih, lihatlah lagi dalam hati Anda, dan Anda akan melihat bahwa sebenarnya Anda sedang menangisi sesuatu yang telah menyenangkan Anda," — Kahlil Gibran.

"Di hadapan Allah, kita semua sama-sama bijaksana dan sama-sama bodoh," — Albert Einstein.

"Mengejar kebenaran dan keindahan adalah kegiatan yang membuat kita diizinkan untuk tetap jadi anak-anak seumur hidup," — Albert Einstein .

"Ini adalah kebenaran. Anda tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Hidup adalah perjalanan gila, dan tidak jaminan," — Eminem.

Jadi apakah kebenaran itu? Saya kira ada baiknya kita melakukan saran Nabi Muhammad ini, "Berjuanglah selalu unggul dalam kebajikan dan kebenaran." Sebab, " Ada tiga hal yang tidak bisa lama tersembunyi: matahari, bulan, dan kebenaran," kata Sang Buddha.

Kebenaran itu bukan hal statis, kebenaran berkembang.

Saturday, December 1, 2012

Majalah INSPIRASI Edisi Desember 2012

Mewujudnyatakan Kasih Allah, tema INSPIRASI kali ini. Sebagai pribadi dan komunitas orang beriman kita tertantang agar kasih Allah terwujud dalam kehidupan sesama kita. Di masa Natal ini, mari kita simak kiprah saudara seiman yang menwujudnyatakan kasih Allah di negara kita tercinta. Juga, penuturan Irjen (Pol) Benny Mamoto, Direktur Badan Narkotika Nasional tentang peran gereja dalam mencegah pemakaian narkoba di antara generasi muda. INSPIRASI menyajikannya untuk menginspirasi Anda.
Di sudut lain di dunia, Betlehem di waktu Natal menjadi simbol kesatuan orang Palestina dan dunia, apa pun agamanya.
Lalu, mengapa Mikha Tambayong harus merasakan kesedihan di malam Natal karena tidak dapat beribadah. “Saya pulang tengah malam. Semuanya sudah selesai. Kue tinggal sisanya saja. Saya tidak akan lupa pengalaman ini, dan tidak boleh terulang,” kata Mikha serius.
Tips: Mengatur waktu agar produktif. Mengubah hidup dengan reframing. Dahsyatnya doa seorang ayah.

Thursday, November 29, 2012

Kehendak Kita dan Kehendak Allah


"Yang baik buat manusia, tidak baik buat Allah!" kata Yudas Iskariot
(kutipan dari film The Last Temptation of Christ).

Pada setiap doa-doa orang Kristen selalu terselip harapan bahwa kelak keinginan kita menjadi sama dengan keinginan Tuhannya. Betapa keinginan Sang Esa adalah yang terbaik dan jika kini masih ada perbedaan, mereka akan terus menerus memperbaikinya supaya kelak sama.

Harapan ini mungkin terinspirasi dari doa Yesus Kristus yang dikenal dengan nama "Doa Bapa Kami,"
.... datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. ... (Mat. 6:10) asumsinya kehendak-Nya adalah yang terbaik.

Atau, rintihan Yesus di hari kematian-Nya, "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi."

Namun, sepertinya selama ribuan tahun, doa-doa ini belum dikabulkan. Kefrustrasian  dan harapan yang begitu dalam ini tecermin dalam teriakan Martin Scorsese, Nikos Kazantzakis, dan Paul Schrader melalui mulut Harvey Keitel yang memerankan Yudas Iskariot dalam film The Last Temptation of Christ.

Dan, dalam percakapan penuh emosi antara Yudas dan Yesus pun, jawaban Yesus (diperankan aktor jenius, Willem Dafoe) tidak terlalu jelas. Hanya sang Yesus menekankan tentang kematian yang sudah ditakdirkan, yang bagi Martin Scorsese, Nikos Kazantzakis, dan Paul Schrader dan miliaran manusia inilah kehendak terbaik dari Allah. Hal yang menambah frustrasi Yudas.

Lalu, kapankah yang baik bagi manusia menjadi baik bagi Allah? Jawabannya bukanlah sebuah axioma, tetapi menjalani hidup penuh refleksi sampai akhir. Sebab, yang mengecewakan hari ini belum tentu terus mengecewakan. Yang menggembirakan detik ini, belum tentu menyenangkan detik berikutnya.



Monday, November 12, 2012

BBM Indonesia terlalu murah


Bukan karena sok-sokan saya menulis ini. Sebab, seandainya BBM benar-benar naik, untuk sementara pasti kelabakan juga. Namun, jika mengingat masa depan negara tempat saya tinggal, kondisi ini harus diakhiri. Bahan bakar minyak di Indonesia sangat terbatas. Kita harus menggunakannya dengan bijaksana. Kalau tidak, bencana bakal menanti penerus bangsa ini.

Apa tanda sederhana BBM terlalu murah? Membludaknya pemudik memakai kendaraan pribadi. Sebab, saking murahnya, kendaraan pribadi menjadi cukup ekonomis untuk dibawa mengarungi perjalanan 500-600 km.

September lalu, Kepala BPH Migas Andi Noorsaman Sommeng mengatakan adanya pergeseran dari penggunaan BBM non subsidi ke BBM subsidi sehingga kuota BBM subsidi menjadi jebol. "Harga BBM subsidi terlalu sangat murah," katanya.
Menurut Andi, di negara-negara besar saat ini harga BBMnya hampir dua kali lipat dari harga keekonomian. Pasalnya, jika harga BBM masih murah maka pengembangan energi baru dan terbarukan menjadi mandek. "Ini kan berhubungan dengan pengembangan energi baru terbarukan kalau harga BBMnya masih murah," tegasnya.

Andi menambahkan harga BBM non subsidi juga terlalu murah jika pemerintah menetapkan rencana pengembangan eenergi baru terbarukan sehingga energi baru terbarukan belum sepenuhnya dikembangkan. "Harga BBM non subsidi Rp 9.000-an juga terlalu murah kalau kita bicarakan pengembangan EBT (Energi Baru Terbarukan)," pungkasnya.

Seandainya, BBM tidak murah, mungkin dalam setahun akan terjadi kesusahan yang sangat. Harga kebutuhan pokok akan melonjak (walau kenyataannya pengaruh BBM dalam harga kebutuhan pokok tidaklah besar, orang Indonesia yang latah biasanya akan memanfaatkan alasan BBM naik untuk mengeruk keuntungan atas naiknya harga BBM ini), ongkos transportasi umum juga akan naik, dsb.




Namun, dalam jangka panjang, BBM yang mahal mendorong kita lebih kreatif memanfaatkan energi alternatif: gas, sinar matahari, energi bio, *nuklir* (kita harus mengakui orang Indonesia sangat kreatif). BBM yang mahal juga membuat proses pengolahan crude oil juga lebih ekonomis sehingga kualitas BBM menjadi lebih baik. Sila tambahkanlah lagi keuntungan BBM mahal.


Secara jangka panjang memang bagus, tetapi harus berkorban. Peribahasanya, "Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian."

Wednesday, November 7, 2012

Menyelesaikan Konflik Tanpa Kekerasan


Setahuku orang Indonesia pertama kali berunding untuk menyelesaikan masalah di Perjanjian Giyanti pada 1755. Sebelumnya, kalau ada masalah = perang. Perjanjian giyanti pun atas prakarsa VOC, bukan pihak yang bertikai. Hasilnya Kraton Solo dan Kraton Jogja.


Naskah Perjanjian Giyanti


Mas Handaka Mukarta, menulis dalam twitternya, "Kita mengalami amnesia budaya. Kekuasaan yg menulis sejarah dan rakyat sbg angka. Jepang berhasil menghidupkan Bushido dan serangkaian seni-budaya yg mjd karakter bangsa. Pdhal Mataram bangkit hampir bersamaan dg Keshogunan Tokugawa. Org jawa sp tdk bs mbedain "kami" dan "aku", semua "kula" atau "kawula" yg artinya hamba, rakyat. Naskah2 baru muncul di Surakarta sblm Diponegoro dan sesudah Diponegoro kalah. Pasca Majapahit, kebudayaan tdk berkembang dg baik. Perebutan kuasa dan intrik terus."



Thursday, November 1, 2012

Majalah INSPIRASI November 2012




Telah terbit majalah INSPIRASI INDONESIA Volume 37/November 2012. Inspirasional, Spiritual dan motivasional. Tema utama Inspirasi kali ini adalah Christian Entrepreneurship, Mewujudkan Umat Kristiani Mandiri. Indonesia supaya menjadi negara yang maju membutuhkan para entrepreneur yang mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan. Gereja dan lembaga Kristen pun tak tinggal diam. Bagaimana kiprah mereka dalam menumbuhkan para entrepreneur ini? Hanya ada di majalah INSPIRASI.
Simak juga perjuangan Merry Riana yang jadi miliarder di usia 23. Uniknya,  ia tetap menjalani hidupnya dengan kesederhanaan.

Baca juga kesaksian Narnia "Idol" yang harus mempertahankan iman barunya, sekaligus mendoakan orangtuanya dapat ikhlas menerima keyakinannya. Juga, kisah Michael Sie yang lima kali masuk keluar penjara di Amerika. Satu setengah tahun ia hidup menggelandang dan jadi gembel di downtown Amerika. Suatu kali Tuhan melawatnya dan membawanya ke jalan yang benar.

Dapatkan majalah INSPIRASI Volume 37/November 2012. Hanya Rp 20.000, di BPK Gunung Mulia dan toko buku kesayangan Anda.  Jangan lupa, edisi ini berhadiah Tablet Android. Beli majalah, pilih cover, dan dapatkan hadiahnya.

Berlangganan, bebas ongkos kirim dan diskon 15%. Silakan kontak HP: 0813-991-999-30 atau inspirasi@bpkgm.com.

Nyatakan iman melalui perbuatan, karya, dan prestasi bagi sesama dan Indonesia.
Salam Inspirasi.

Thursday, October 25, 2012

Kekuatan Sebuah Kehidupan

Tiap orang lahir tidak langsung tahu untuk apa ia hidup
Ia hanya bergantung pada yang mencintai hidupnya
Lalu
Ada yang tahu
Ada yang tidak tahu

Yang tahu ialah beruntung
Yang tak tahu buntung

Asal ia berani hidup
Suatu saat ia bakal tahu
Meski detik terakhir

Wednesday, October 24, 2012

Momen INSPIRASI karya Alex Japalatu


Buku ini berisi renungan dengan mengamati kejadian kehidupan sehari-hari. Banyak kejadian sederhana yang seringkali luput dari pengamatan. Renungan dalam buku ini terbagi atas 6 klasifikasi, yaitu  Kesetiaan, Sikap dan Teladan, Semangat dan Antusiasme, Kedamaian & Bersyukur.

Momen Inspirasi  merupakan kumpulan renungan yang pernah disiarkan Radio Pelita Kasih. Renungan ini sebagai bahan refleksi banyak momen di sekitar kita dan dapat membantu Anda menambah kekayaan jiwa. Kekayaan jiwa dapat diperkaya dengan melihat hal-hal sederhana dengan sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang yang berdasarkan rasa bersyukur dan kasih serta karya Allah akan membuat kita lebih arif dan bijak dalam memahami anugerah hidup ini.

Penulis tidak hanya memberi nasihat namun juga memberi contoh sederhana dalam hidup sehari-hari yang sering luput dari perhatian kita.

Bacaan ringan, mudah dicerna sebagai bahan renungan.

Terbagi atas beberapa klasifikasi, yaitu, Kesetiaan, Sikap dan Teladan, Semangat dan Antusiasme, Kedamaian & Bersyukur sehingga memudahkan pembaca mencari klasifikasi renungan yang diinginkan.

Tuesday, October 23, 2012

Thursday, October 18, 2012

Launching Buku Jejak-jejak Suci

Kejadiannya sih sudah beberapa bulan lalu. Di antara para editor dan marketer BPK Gunung Mulia, kami mengadakan launching kecil-kecil buku Jejak-jejak Suci 2.

Ini dia foto-fotonya

Bersama Miktam Lilo di Pizza Hut Atrium Senen

Bak Selebritis, menandatangani buku Jejak-jejak Suci 2

Kira-kira sebesar ini bukunya. Tampak kiri adalah tangan 
Kepala Cabang Jakarta, Michael Dwi Pratama Jati

He he he

Berfoto bersama Kepala Toko BPK Gunung Mulia, Edy Sutarno

Wednesday, October 17, 2012

HaPe Sony Experia Tipo

Sony Experia Tipo hitam
Wah mantep banget.
Sudah dicoba memutar mp4, asyik. Kalau audio sih memang Sony tidak ada tandingannya.


Wednesday, October 10, 2012

Kafe Dayat

Tempat mengalihkan sejenak dari kepenatan seusai kerja.
Terletak di Jl. Kwitang, Jakarta Pusat.

Ini pemandangan langit siang hari saat mengunjungi kafe ini.

Kafe pada malam hari, semangat persaudaraan sebagai sesama pekerja proletar sangat kental.

Monday, October 8, 2012

Ingin Menjitak Yesus


"Bayangkan kalau anak itu diculik, 1 kali 24 jam bisa sudah sampai ke Amerika," kata Aris Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia saat mengajukan usulan supaya standar orangtua melaporkan kehilangan anak ke kepolisian tidak harus menunggu 1x24 jam. Sebab, angka penculikan anak sangat tinggi dan tingkat anak ditemukan kembali setelah hilang hanya 40%. Kisah selengkapnya ada di tempo.co.

Bukan hanya karena level statistik tersebut Dwiani Asih dan sayapun selalu was-was kalau dalam beberapa menit tiba-tiba tidak terdengar celoteh Lilo saat bermain-main dengan teman-temannya. Entah, tiba-tiba menghilang ke rumah tetangga atau ternyata memang karena saking asyiknya berkonsentrasi pada permainan tertentu Lilo tidak tidak berceloteh.

Setelah kami memastikan Lilo baik-baik saja, kami melanjutkan kegiatan kami: mencuci, memasak, baca buku, browsing, atau menonton TV.

Dua ribu tahun lalu, Yesus kecil menghilang dari rombongan peziarah yang selesai melakukan ritual Paskah di Yerusalem. Dari ratusan peziarah dari berbagai daerah ini memang terdapat warga kampung Nazaret, tempat tinggal keluarga Yusuf, seorang ningrat miskin dari dinasti yang sudah ratusan tahun runtuh.

Setelah beberapa hari berjalan pulang, anak mereka, Yesus, ternyata tidak terdengar celotehnya. Entah kapan ia menghilang. Yusuf mungkin mengira anaknya sedang bersama ibunya. Maria, sang ibu mungkin mengira sang anak sedang bersama ayahnya atau bermain dengan teman-teman sekampungnya. Di barisan belakang.

Jika benar dokter Lukas mencatat Injilnya bersumber dari Maria, kisah bukunya pasal 2:41-51 ini memang ditulis dari sudut pandang orangtua. Sudut pandang saya kini. Belasan tahun saya berkali-kali membaca atau mendengar kisah ini, baru kali ini menemukan sudut pandang baru.

Lukas (atau Maria), tidak semata-mata menekankan cerita ini hanya pada bukti bahwa Yesus sudah punya hikmat mulia melampaui umurnya. Juga, tidak hanya menekankan pada peneguhan ke-anak-Allah-an. Kisah ini juga menekankan perkembangan iman orangtua yang "dipasrahi" mendidik sang Mesias.

Kenyataan bahwa mereka cemas mencari Yesus, bukti bahwa mereka pun manusia-manusia normal layaknya kita. Padahal, 12 tahun lalu berbagai penampakan dan kejadian-kejadian spektakuler mampir dalam hidup mereka.

Saya tertegun saat membaca percakapan antara Maria dengan Yesus setelah akhirnya mereka menemukan anak sulung mereka (mungkin baru saja lewat aqil-balik) sedang asyik berbincang dengan para guru besar. Jelas, dalam kondisi itu dalam benak suami-istri itu tidak bakal terlintas rasa bangga karena anak abege mereka mampu berdebat dengan para profesor. Jika, Aris Merdeka Sirait menyarankan sebelum 1 kali 24 jam, anak hilang harus dilaporkan, betapa saya tidak mampu membayangkan anak mereka menghilang 3 hari. Airmata Maria mungkin sudah kering karena kecemasan yang luar biasa ini. Jadi mari kita simak percakapan berikut.

"Nak, mengapa kaulakukan ini kepada kami? Ayahmu dan ibumu cemas mencari engkau!" kata orangtua Yesus (Luk 2: 48 -BIMK dengan modifikasi).

Jawab Yesus, "Mengapa ayah dan ibu mencari Aku? Apakah ayah dan ibu tidak tahu bahwa Aku harus ada di dalam rumah Bapa-Ku?" (Luk. 2:49 - BIMK dengan modifikasi).

Hihhhhhhhh, kalau saya jadi Yusuf, mungkin tindakan pertama yang ingin saya lakukan (saya mengabaikan para ulama-ulama terkenal di sekitar saya) adalah menarik Yesus menjauh lalu menjitaknya. Lalu ngomel, "Kau tahu nggak, ibumu sudah sampai kering airmatanya, dan kamu enak-enakan di sini. Sudah gitu ngomong yang enggak-enggak. Kasihan ibu tahu. Sana minta maaf sama ibu."

Untung saya bukan Yusuf atau sebenarnya kejadiannya seperti tuturan saya, tetapi Lukas mengeditnya untuk kepentingan jemaat. Tidak ada yang tahu. Sebab, di tempat lain, Lukas pun menangkap kegagalan keluarga Yesus ini dalam memahami tugasnya di dunia (Luk. 8:20-21).

Dan, pencerahan pun datang kepada saya. Jika saya yang manusia lemah ini selalu bergumul dengan iman, saya tinggal memandang mereka yang dalam lukisan selalu digambarkan berhalo yang juga bergumul dengan iman mereka. Bahkan saya punya kelebihan, sebab mereka yang disantakan-atau-disantokan pernah berinteraksi secara fisik dengan sang Putra. Dan, saya tidak.

Sebagai orangtua, saya juga ditolong untuk memandang celoteh anak-anak tidak sambil lalu atau—lebih parah—malah emosi tinggi kalau jawabannya tidak berkenan dengan hati kita. Sebab, bisa jadi celoteh mereka memiliki nilai hikmat yang tinggi. Bukankah, "Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya" (Luk. 18:17 -BIMK).

Foto di atas adalah kami bertiga sewaktu tinggal di Jogja.

Lukisan di atas karya Brian Jekel.

Saturday, October 6, 2012

Wednesday, October 3, 2012

Paradoks Minoritas





Saya pernah membaca buku tentang konsep paradoks. Sebegitu menarik contoh yang ia berikan sehingga sudah puluhan tahun pun saya selalu teringat konsep tersebut. Contoh dalam buku tersebut adalah tentang atlet lari 100 meter yang kelelahan luar biasa.

Kisahnya begini, seorang pelari 100 m, jika lintasannya dibagi separo-separo, maksudnya si atlet berlari menuju separo lintasan, kemudian ia lari menuju separo dari separo lintasan sisanya, lalu ia berlari separo dari seperempat lintasan sisanya, lalu berlari lagi menuju separo dari seperdelapan sisa lintasan, si atlet sampai kapan pun tidak akan pernah mencapai finish.

Bingung? Mari kita lihat gambar lintasan paradoks berikut.



Gambar di atas melambangkan lintasan lari 100 meter. Warna kuning, berarti pelari sudah mencapai 50 m. warna merah 75 m, warna biru 87,5 m. Tiap mencapai setengah dari sisa lintasan, kita bedakan warnanya. Gambar saya terakhir, pelari mencapai 93,75 m. namun masih ada sisa 6,25 m sisa yang harus dicapai setengahnya lagi. Sampai sisa lintasan sangat kecil, sampai kapan pun pelari tersebut hanya mencapai setengah sisa lintasan.

Kalau digambarkan dalam grafik, kinerja sang pelari tersebut adalah:


Grafiknya berbentuk exponensial. Pada waktu kapan pun titik-titik  tersebut tidak akan bakal menyentuh titik nol meter. Saya bayangkan betapa atlet tersebut bakal mengalami kelelahan luar biasa.

Untunglah para atlet lari tidak pernah menghitung berapa lama ia mencapai setengah lintasan. Jadi, mau 9 detik, 10 detik, atau berapa pun, ia akan mampu melewati garis finish.

Walau begitu, lintasan paradoksikal banyak terjadi dalam ilmu pengetahuan alam: sebaran spektrum warna, pola tidur, berbagai reaksi kimia.

Yang menarik, dalam kehidupan sosial manusia cenderung mempunyai perilaku paradoksikal. Yaitu, perilaku menindas dan menghancurkan minoritas. Menurut saya perilaku tersebut sangat paradoks. Karena di dalam mayoritas pasti terdapat minoritas.

Misalnya etnis. Hitler berusaha menghancurkan etnis Yahudi karena dalam benaknya, suatu saat dunia hanya ada ras Arya. Namun, ia lupa di dalam ras Arya ada berbagai macam sub-etnis. Seandainya Hitler berhasil menghancurkan semua sub-etnis dan tinggal sub-etnis Jerman. Ia masih masih lupa di dalam sub-etnis Jerman masih ada sub-sub etnis lagi. Misalnya ada yang kidal atau tidak.Hitler tidak bakalan dapat mencapai satu titik di mana orang-orang yang ada di sekitarnya bakal seragam mutlak. Kecuali ia sanggup sendirian di muka bumi.

Sayangnya, pemikiran paradoks kini malah digemari di Indonesia. Agama harus satu. Satu dalam hal ini bukan sekadar agamanya. Juga penafsirannya juga seragam.

Seandainya tiap manusia menyadari matematika paradoks ini, pasti kita bakal lebih menghargai keberagaman. Sebab, keseragaman itu paradoks.



Monday, October 1, 2012

Majalah INSPIRASI INDONESIA Volume 36/Oktober 2012




Telah terbit majalah INSPIRASI INDONESIA Volume 36/Oktober 2012. Inspirasional, Spiritual dan motivasional. Berhadiah Tablet Android.

Tema utama Inspirasi kali ini adalah “Kami Kuat Melewati Jalan Ini: Bagaimana Anak Korban Perceraian Bertahan?” Perceraian selalu menyisakan masalah, terutama bagi anak-anak. Namun, bagaimana anak-anak itu bertahan dan bahkan mampu melewatinya? Inspirasi mengungkapnya untuk menjadi inspirasi bagi Anda.

Shandy Aulia, yang orangtuanya bercerai, mementingkan kualitas kerohanian calon suaminya. Maka,  saat pacaran ia berdoa, “Tuhan, jika dalam enam bulan ia belum mau mengenal Engkau lebih dalam, saya putusin.”

Selain tema utama, simak juga kisah Juju Fita Sahir , yang dua dari lima anaknya autis. Harapan di dalam Tuhanlah yang menghidupkan semangatnya.

Dapatkan majalah INSPIRASI Volume 36/Oktober 2012. Hanya Rp 20.000, di BPK Gunung Mulia dan toko buku kesayangan Anda.  Jangan lupa, edisi ini berhadiah Tablet Android. Beli majalah, pilih cover, dan dapatkan hadiahnya.

Berlangganan, bebas ongkos kirim dan diskon 15%. Silakan kontak HP: 0813-991-999-30 atau inspirasi@bpkgm.com. 

Nyatakan iman melalui perbuatan, karya, dan prestasi bagi sesama dan Indonesia.
Salam Inspirasi.

Sunday, September 30, 2012

Kadal di Arion Mall

Tidak selamanya main di mall, menyebalkan. Jika memperhatikan dengan teliti, bisa menemukan yang asyik seperti kadal-kadalan di Arion ini.


Thursday, September 27, 2012

Asyiknya Jadi Orangtua

Kartun di atas menggambarkan bagaimana menjadi orangtua harus pintar-pintar menjaga keseimbangan antara ingin menyenangkan anak, sekaligus di sisi lain melatih si anak berdisiplin terhadap keinginan-keinginannya.

Jelas, tiap orangtua ingin menwujudkan semua keinginan anaknya (bahkan sekalipun itu buruk). Dan, itu bagi saya adalah pencobaan yang sangat besar.

Dan, si anak akan melakukan segala sesuatu untuk mewujudkan keinginannya. Apalagi kalau ia tahu kelemahan orangtuanya. Kalau saya dicium Lilo, hampir semua keinginannya terwujud. Wah!

Apa kelemahan Anda sebagai orangtua?

Wednesday, September 26, 2012

Segelas Es Kopi Siang Hari

Segarnya es kopi di siang hari. Membangunkan mata ngantuk :-)


Thursday, September 20, 2012

Menikmati Kereta Bengawan

Menikmati kereta Bengawan. Jurusan Tanahabang (Jakarta) - Jebres (Surakarta)

















Semua foto diambil dari kamera Sony Experia ST21i






Friday, September 14, 2012

Sempurna Karya Nonier

Judul: Sempurna
Tebal: 332 hlm
Penulis: Nonier
Terbit 4 Mei 2012
Penerbit:  Gagas Media
ISBN: 9797805611
Awalnya aku nyari2 temen KKN. Tahu kan? Tugas akhir kuliah umtuk melakukan pengabdian masyrakat jiahhh.

Tak dinyana, nonier kini adalah penulis 3 novel. Gramedia 1. Gagas Media 2.

Kami sempat ketemu dalam "reuni" KKN beberapa waktu lalu. Dan, sekarang lagi baca tulisan salah satu novel "Sempurna".


isi dalam bonus pembatas buku


 Waktu reuni KKN


 Di Gramedia Plasa Semanggi

 
Mas Samsul, Lilo, Nonier

 
Sampul Novel dan Kakiku He-he-he

 Kisahnya berkutat pada dua tokoh utama yaitu Awang (L) dan Kejora (P). Keduanya mempunyai hubungan retak dengan masing-masing pasangan mereka. Diikat dengan perburuan terhadap Watik, pembantu keluarga Kejora—yang mendadak hilang gara-gara dipaksa menjadi istri kedua seorang calon kepala desa— kisah unik dan kocak ini bergerak. Dan, naik turun perasaan Awang terhadap Kejora begitupun sebaliknya menjadi plot cerita ini.

Ingin tahu berbagai komentar pembaca tentang novel ini? Silakan simak di goodreads.