Tuesday, April 10, 2012

Singgih Dirgagunarsa


When it comes to the future
There are three kinds of people:
Those who let it happen
Those who make it happen
And those who wonder what happened
John M. Richardson Jr.


Pada abad pertama, prajurit Romawi punya hak untuk memaksa seorang berjalan bersama dia sekaligus membawa bekal si prajurit sepanjang satu mil. Sebuah penindasan. Namun, Yesus memiliki pandangan berbeda. Ia mendorong pengikut-Nya untuk melakukan lebih daripada itu. “… berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (Mat. 5:41).

Dalam banyak situasi, Singgih Dirgagunarsa mendapat paksaan yang sama. Paksaan keadaan. Dilahirkan dari keluarga Tionghoa yang mengalami diskriminasi di Indonesia. Setelah perusahaan tempat ayahnya bekerja bangkrut, ayahnya menjadi penjudi. Orangtuanya tidak akur karena sang ayah hidup berpoligami. Ibunya harus menjadi tulang punggung untuk menghidupi enam anaknya. Gagal menjadi dokter karena kecelakaan lalu-lintas. Singgih punya banyak alasan untuk hidup memenuhi tuntutan satu mil, alias hanya bertahan hidup. Bahkan, ia punya alasan sah meratapi nasib

Tangguh
Namun, ia memutuskan untuk tidak hidup sekadarnya. Penggemar klub sepakbola Manchester United ini sekolah dasarnya setidak berganti dua kali, karena kampungnya, Jonti, Sokaraja, Kabupaten Banyumas, diduduki  Jepang. Bahkan sempat bertahun-tahun tidak bersekolah. karena harus mengungsi setelah rumah keluarga dibakar penjajah Belanda. Walau demikian, prestasi dan keberhasilan menjadi obsesi dari kegiatan dan keinginan sehari-hari. “Sampai membaca pun, kalau dipertandingkan, saya selalu ingin menang.” Ungkapnya. Ia mengakui semangat ini diturnkan dari ibunya, yang tidak pernah sekalipun sekolah—bahkan tidak bisa membubuhkan tanda tangan, namun tangguh dan kreatif mencari nafkah untuk memenuhi kehidupan keluarga.

Usai sekolah dasar, ia melanjutkan ke sekolah menengah di Purwokerto, empat puluh menit bersepeda dari desanya. Namun, Singgih kecil lebih sering menempuhnya dengan naik kereta api pagi dan pulang sorenya. Sembari menunggu kereta pulang, ia ikut kursus mengetik untuk menambah keterampilannya. Suatu yang sangat berguna kelak.

Menembus Rintangan
Ketangguhannya dua kali diuji. Pertama saat ingin masuk ke SMA idolanya. SMA Kristen Pintu Air di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat. Awalnya ia yakin dengan nilai ijazahnya, ia bakal diterima di salah satu SMA terbaik di Indonesia ini. Namun, penolakan yang didapat.

Tidak patah arang, ia memutuskan masuk ke SMA PAMI yang kebetulan dekat tempat tinggal kakaknya di Jakarta. Karena tidak puas, Singgih terus mencari cara untuk menembus berbagai rintangan yang menghalanginya masuk ke SMA favoritnya (sekarang SMAK 1 Penabur di Tanjung Duren, Jakarta Barat).

Ia mengikuti saran salah satu majelis GKI Gunung Sahari untuk masuk ke SMAK-PSKD sampai mendapat rapor pertama yang kemudian ditunjukkan ke SMAK Pintu Air. Dan benar, akhirnya laki-laki dari desa kecil di Banyumas ini diterima di sekolah dambaannya.

Namun, bukan berarti rintangan berakhir. Ternyata tidak mudah bersekolah di SMA termashyur, ia kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mata pelajaran yang lebih sulit dari standar sekolah pada waktu itu. “Dengan susah payah, saya mengikuti setiap mata pelajaran dan saya berupaya mengatasi sebaik-baiknya. Akhirnya saya berhasil naik ke kelas 3.” Katanya. Namun kelak, ia menjadi alumni pertama SMA itu yang meraih gelar profesor.

Rintangan selanjutnya adalah saat kuliah. Ia berhasil lolos menjadi mahasiswa kedokteran Universitas Indonesia.  Di tengah khayalannya bakal menjadi dokter, kelak, dua minggu menjelang ujian fakultas (Prof Singgih Gunarsa masih ingat tanggal kejadian itu, 1 Mei 1957), ia mengalami kecelakaan lalu-lintas. Motornya menabrak opelet. Walau tidak harus opname, persiapan ujiannya kacau balau dan tahun akademik berikutnya, Singgih harus mengubur dalam-dalam cita-citanya sebagai dokter. Ia pun pulang kampung dalam keadaan depresi.

Perlu waktu beberapa lama untuk menumbuhkan semangat kembali. Pria yang sangat gemar berolahraga ini memutuskan mengikuti seleksi lagi di jurusan Psikologi, fakultas kedokteran, Universitas Indonesia. Belssing in disguise, bisa dikatakan begitu. Suatu kebetulan bahwa ia begitu menggemari setiap mata kuliah di jurusan psikologi tersebut. Dan, di jurusan itulah ia bertemu tambatan hatinya, Yulia Suryanggana.

Meraih Prestasi
Sikap pantang menyerah dan memberikan yang terbaik melebihi yang disyaratkan membuat Singgih seperti menemukan jalan raya bagi arah hidupnya. Selain itu, sikap bersyukur apa pun keadaannya membuat Singgih tidak memendam kekecewaan dengan lingkungannya.

Berada di jurusan psikologi membuat Singgih seperti ikan salmon berada di sungai deras. Bersemangat berenang untuk meraih tujuannya yaitu berkembang biak. Walau harus menghadapi arus deras: kendala latar belakang, penghasilan sebagai dosen yang tidak seberapa, harus sering meninggalkan keluarga karena tugas belajar di luar negeri, dan mengalami penipuan dalam hal kepemilikan tanah tidak menghalangi Singgih untuk mengejar prestasi sebagai psikolog andal. Sekarang bidang psikologi menjadi semacam passion baginya.

Passionnya tidak sia-sia sebab, Singgih Gunarsa meraih berbagai prestasi. Menjadi guru besar kedua — setelah Fuad Hassan— di bidang psikologi di Indonesia. Ia juga yang menjadi perintis Psikologi Olahraga, terutama karena kecintaannya terhadap bidang olah raga. Yang paling fenomenal adalah Singgih berhasil mengadaptasi salah satu alat tes psikologi, Children’s Apperception Test, untuk kondisi Indonesia. Children’s Apperception Test, adalah salah satu tes untuk mengukur minat dan bakat anak-anak. Adaptasi yang dilakukan Singgih ini bisa dikatakan pertama kali di Indonesia. (BPL. Disarikan dari Melintas Batas Cakrawala, 2011, Penerbit Libri).



BOKS
Kecurigaan terbersit di hati saat saya hendak menemui seorang begawan psikologi ini bahwa wawancara ini bakal dingin. Pertama beliau dikenal sebagai pribadi yang disiplin. Kata disiplin identik dengan kekakuan bersikap, menurut saya. Selain itu, saat melangkah ke gedung Tarumanegara Knowledge Center, saya haru melewati berbagai prosedur birokrasi, walau sebelumnya sudah berjanji temu. Namun, saat bertemu dengan Profesor Emeritus di ruang Ketua Pembina Yayasan Tarumanegara, semua luruh. Kehangatan muncul dari pribadinya yang ramah dan bahkan dalam wawancara singkat tersebut, komentar yang mengandung humor terselip dari pria tetap mengajar usia ke-78 tahun ini.

Yang menarik, walau sejak tahun 2000, Prof. Singgih, begitu murid-muridnya memanggil, terserang Parkinson, tidak sekalipun itu menghalangi aktivitasnya dalam dunia pendidikan. Berikut petikan wawancara dengan penerima Lifetime Achievment dari Anugerah Olahraga Indonesia 2010 dari kementrian Pemuda dan Olahraga ini.


Mengapa Prof. mau memberi lebih dari yang diminta, utamanya dalam pekerjaan?
Saya berprinsip bahwa dalam kehidupan, apabila itu sudah menjadi sesuatu yang saya sukai, saya akan allout mengerjakannya. Termasuk dalam bidang yang sekarang saya geluti.

Juga saat menjadi Psikolog bagi PBSI?
Ya, karena selain saya gemar olahraga, saat itu saya memandang bahwa bulu tangkis adalah olahraga yang menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Indonesia, jika prestasi internasional dapat diraih. Dan, para pemain tentu saja mendapat tekanan psikologis yang sangat kuat karena harapan-harapan itu. Saya menyumbangkan kemampuan saya untuk kebaikan negara Indonesia melalui psikologi. Selain karena saya suka, saya juga akan allout jika tahu bahwa hasilnya akan menjadi kebaikan bagi masyarakat.

Jadi ada yang tidak disuka, tetapi harus melakukan?
Ada. Misalnya, rapat. Namun, rapat penting untuk mebicarakan berbagai keputusan yang hasilnya tentu berguna. Jadi, ya saya ikuti dengan sabaik-baiknya.

Masih Membimbing Skripsi?
Masih. Ini adalah bagian yang saya sukai karena membagikan ilmu yang kelak akan terus berkembang.  (BPL)