Thursday, August 30, 2012

Kesedihan Mendalam


Setelah hampir 1,5 bulan Moses Partahi Silitonga tidak dapat bertahan dari sakitnya sejak ia dilahirkan. Bayi anak dari Desmon Silitonga dan Renata Malau ternyata memilih tenang bersama Bapa di Surga.

Sebuah misteri yang sampai saat ini tidak mampu saya pahami dengan akal saya yang secuil. Termasuk misteri memahami kasih Allah kepada sang ayah dan sang ibu.

Air mata menitik saat istriku pagi ini mengabarkan berita mengguncangkan itu. Sebab, kami mengikuti semua berita perjuangan si bayi ganteng ini. Yang bahkan dalam sakitnya, foto-foto yang memperlihatkan anak itu terlihat tersenyum, seperti hendak menghibur dan menenangkan kami semua.

Apakah doa-doa kami semua yang mengasihi Moses kurang kencang? Entahlah. Lagi pula jawabannya tidak mungkin sekadar ya atau tidak.

Saya cuma berharap papa dan mamanya cepat pulih dari kesedihannya yang jelas tidak mudah. Saya cuma berharap mereka mendapat penghiburan yang benar-benar menguatkan pasangan ini untuk melanjutkan perjalanan hidup mereka ke depan walau sebagian hati mereka sudah terkoyak-koyak.

Air mata ini terus mengalir karena misteri yang tidak terjawab sejaka zaman Adam ini.
Teringat sayup suara sang Budha berkata, "Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini!"



---Didedikasikan untuk Desmon dan Renata---





Thursday, August 16, 2012

Creep

"... But I'm a creep.
I'm a weirdo.
What the hell I'm doing here?
I don't belong here ..."

Lagu radiohead mengalun lembut di pemutar lagu digital di mobil itu.
Sang pengemudi terlihat gelisah.
Di tengah kemacetan.

Pikiran apa yang ada di kepalanya?
Gemuruh apa yang melintas di hatinya?

" ... I don't care if it hurts.
I want to have control.
I want a perfect body.
I want a perfect soul.
I want you to notice when I'm not around.
You're so fucking special.
I wish I was special ..."

Dan, lagu itu terus berputar di sepanjang perjalanan.
Menemani si pengemudi gelisah itu.

Monday, August 13, 2012

Klinik Tong Fang dan Kita

 Klinik Tong Fang, pengobatan alternatif terletak di Kelapa Gading, Jakarta Utara hangat jadi pembicaraan. Karena iklannya yang isinya bombastis. Materi iklan menayangkan testimoni pasien.

Sebenarnya kalau dilihat dari cara penyajiannya, iklan klinik tersebut tidak ada yang istimewa. Hanya menampilkan beberapa orang yang mengaku pasien klinik Tong Fang. Wajah mereka yang awalnya terlihat sedih, mendadak sumringah saat menyebut klinik Tong Fang sembari menyebut hasil yang mereka dapat setelah berobat ke klinik Tong Fang.

Iklan klinik yang konon biaya sekali datang datang mencapai jutaaan rupiah, sekarang sudah direvisi dan tidak menampilkan testimoni bombastis lagi.

Yang menarik dari fenomena ini adalah plesetannya yang beredar di liniwaktu media-media sosial. Teman-teman yang tidak menonton iklan klinik Tong Fang -- memang hanya ditayangkan di televisi di Jakarta dan sekitarnya -- jadi bertanya-tanya apa sih klinik Tong Fang ini.

Sebab, yang mereka lihat di liniwaktu media sosial mereka hanya plesetannya, yang tentu saja aneh dan tidak lucu jika tidak menonton versi aslinya.

Liniwaktu media sosial makin rajin menampilkan plesetan klinik Tong Fang, terutama setelah presiden mengeluhkan banyaknya warga Indonesia berobat ke luar negeri.

Berikut beberapa plesetannya:









Thursday, August 9, 2012

Nyoman Sulastri karya Gerson Poyk


Judul                     : Nyoman Sulastri: Ketika Kata Hati Begitu Pasti …
Penulis                 : Gerson Poyk
Ukuran                 : 11 x 18 cm
Tebal                    : 240 hlm.
ISBN                     : 978-602-7688-01-8


Begitu lulus dari sekolah guru, Nyoman Sulastri tidak segera menjadi guru. Karena alasan praktis—membantu mencari penghasilan untuk adik-adiknya—dan idealis—ingin membangun sanggar seni—ia justru membuka warung minum di pinggir desa tempat tinggalnya. Warung itulah yang mempertemukannya dengan seorang pemuda bernama Hanibal, yang datang malam-malam dan hujan-hujan, tanpa uang dan meminta makan. Meskipun belum mengetahui siapa sesungguhnya pemuda itu, ia merasa hatinya tergetar dan merindukan. Sampai akhirnya ia tahu bahwa Hanibal adalah orang Jakarta yang sedang lari dari kehidupan keluarga, mempunyai banyak relasi orang terkenal, dan akhirnya mendirikan majalah seni dan budaya. Relasi tarik-ulur antara Sulastri dan Hanibal mewarnai bagian pertama novel ini.

Sementara itu, bagian kedua menceritakan kisah dengan tokoh yang sama sekali lain, tetapi akhirnya menjadi jelas bahwa itu adalah latar belakang kehidupan seorang Hanibal. 

Buku ini adalah edisi baru Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal -- terbit tahun 1988. Dulu diterbitkan Pustaka Karya Grafika Utama, 1988 - 155 halaman. Kini diterbitkan ulang Libri (imprint BPK Gunung Mulia).

GERSONPOYK
Dilahirkan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Peserta angkatan pertama dari Indonesia pada International Writing Program di Iowa University Amerika Serikat ini, memenangkan Hadiah Adinegoro pada 1985 dan 1986, dan SEA Write Award pada 1989. Novel dan kumpulan cerita pendeknya, antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Matias Ankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975), Nostalgia Nusatenggara (1976), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), Giring-giring (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Anak Karang (1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Poti Wolo (1988).