Sunday, September 30, 2012

Kadal di Arion Mall

Tidak selamanya main di mall, menyebalkan. Jika memperhatikan dengan teliti, bisa menemukan yang asyik seperti kadal-kadalan di Arion ini.


Thursday, September 27, 2012

Asyiknya Jadi Orangtua

Kartun di atas menggambarkan bagaimana menjadi orangtua harus pintar-pintar menjaga keseimbangan antara ingin menyenangkan anak, sekaligus di sisi lain melatih si anak berdisiplin terhadap keinginan-keinginannya.

Jelas, tiap orangtua ingin menwujudkan semua keinginan anaknya (bahkan sekalipun itu buruk). Dan, itu bagi saya adalah pencobaan yang sangat besar.

Dan, si anak akan melakukan segala sesuatu untuk mewujudkan keinginannya. Apalagi kalau ia tahu kelemahan orangtuanya. Kalau saya dicium Lilo, hampir semua keinginannya terwujud. Wah!

Apa kelemahan Anda sebagai orangtua?

Wednesday, September 26, 2012

Segelas Es Kopi Siang Hari

Segarnya es kopi di siang hari. Membangunkan mata ngantuk :-)


Thursday, September 20, 2012

Menikmati Kereta Bengawan

Menikmati kereta Bengawan. Jurusan Tanahabang (Jakarta) - Jebres (Surakarta)

















Semua foto diambil dari kamera Sony Experia ST21i






Friday, September 14, 2012

Sempurna Karya Nonier

Judul: Sempurna
Tebal: 332 hlm
Penulis: Nonier
Terbit 4 Mei 2012
Penerbit:  Gagas Media
ISBN: 9797805611
Awalnya aku nyari2 temen KKN. Tahu kan? Tugas akhir kuliah umtuk melakukan pengabdian masyrakat jiahhh.

Tak dinyana, nonier kini adalah penulis 3 novel. Gramedia 1. Gagas Media 2.

Kami sempat ketemu dalam "reuni" KKN beberapa waktu lalu. Dan, sekarang lagi baca tulisan salah satu novel "Sempurna".


isi dalam bonus pembatas buku


 Waktu reuni KKN


 Di Gramedia Plasa Semanggi

 
Mas Samsul, Lilo, Nonier

 
Sampul Novel dan Kakiku He-he-he

 Kisahnya berkutat pada dua tokoh utama yaitu Awang (L) dan Kejora (P). Keduanya mempunyai hubungan retak dengan masing-masing pasangan mereka. Diikat dengan perburuan terhadap Watik, pembantu keluarga Kejora—yang mendadak hilang gara-gara dipaksa menjadi istri kedua seorang calon kepala desa— kisah unik dan kocak ini bergerak. Dan, naik turun perasaan Awang terhadap Kejora begitupun sebaliknya menjadi plot cerita ini.

Ingin tahu berbagai komentar pembaca tentang novel ini? Silakan simak di goodreads.

Thursday, September 13, 2012

Bakmi Jogja Jl Pemuda Jakarta Timur

 

Tombo kangen Jogja. Salah satu tentang Jogja yang paling kuingat adalah bakmi jowonya yang khas. Favoritku adalah bakmi jowo emplek-emplek belakang Galeria Mall.

Namun kalau di Jakarta di mana carinya? Terutama di daerah Rawamangun?



Dulu di Jl. Pemuda, dekat traffic light arah Jl. Pustaka Timur ada Bakmi Jowo Jape Methe. Namun, sudah hampir setahun tutup.





 

 Kabar gembira menanti Anda. Ternyata sudah sebulan ini, di lokasi yang sama dengan bakmi jowo Japemethe ternyata sudah berdiri rumah makan baru. Bakmi Jogja namanya. Selamat berkunjung. Kalau sempat berkunjung, kontak aku ya, kita makan bareng-bareng.


Wednesday, September 12, 2012

Sepatu Warrior untuk Sahabat

Karya mas Arie Saptaji.

Tebal:  192 hlm.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792234268

Dwiani berburu buku ini di perpustakaan GKJ Jakarta. Setelah ngantre, akhirnya munculah buku ini dan segelas kopi menemani. Tapi resensinya dicuplik dari Mbak Anin saja ya (males mode on).




Oleh: Anindita S. Thayf **


Memasuki tahun 2000, novel remaja lebih dikenal dengan nama baru yang terdengar lebih “wah”: teenlit atau teen literature. Sebuah label berbahasa non-Indonesia untuk novel yang isinya tetap ditulis menggunakan bahasa Indonesia—meski tidak 100% karena disusupi bahasa asing di sana-sini. Novel-novel remaja tersebut diceritakan dengan gaya bahasa yang ringan dan tema ala remaja yang ringan pula. Pada sampul WSUS, label “Teenlit: Speaks Your World” juga terlihat melekat di bagian tengah bawah, yang berarti  novel ini (oleh penerbitnya) dikotakkan sebagai novel remaja yang berkisah tentang dunia remaja.

Namun, berbeda dari kebanyakan novel remaja yang terbit akhir-akhir ini, WSUS memiliki keunikan tersendiri, yang membuatnya berbeda daripada yang lain.

Pertama, isi WSUS terbukti 100% bebas kontaminasi bahasa asing (baca: bahasa Inggris), kecuali kata “Warrior” pada judulnya yang semula saya artikan sebagai “Prajurit”, tetapi ternyata mengacu pada merk sepatu tertentu:

Sepatu kets bertali warna hitam kombinasi putih itu memang lagi beken. Di bagian yang menutupi mata kaki ada lingkaran karet bergambar timbul kepala prajurit Indian: Warrior. (hal 139-140)

Kedua, tema WSUS sangat sederhana, yaitu tentang sepatu. WSUS berkisah tentang anak seorang janda penjual kue lopis bernama Sri Suryani. Sri adalah murid yang berbakat di bidang olahraga. Dia terpilih sebagai salah satu peserta kelompok gerak jalan di sekolahnya, SMP Negeri Ngadirejo. Kelompok tersebut akan mengikuti lomba gerak jalan melawan sejumlah sekolah dari daerah lain. Semula, Sri merasa gembira karena terpilih mewakili sekolah bersama teman-temannya, tapi Sri kemudian teringat sepatunya. Sri yang berasal dari keluarga miskin tidak mampu membeli sepatu baru. Sepatu Sri, bermerk Bibos, sudah berlubang di bagian kelingking, hingga membuatnya minder. Cerita pun bergulir tentang bagaimana usaha Sri mendapatkan sepatu baru; apakah dengan menabung, meminjam, atau meminta bantuan Simbok (ibu Sri). Ketika akhirnya uang tabungan Sri terkumpul (setelah sebelumnya, tanpa terduga, ibu seorang sahabat meminta Sri membantunya membuat kue), Sri justru menggunakannya untuk membantu biaya operasi sahabatnya yang lain. Impian Sri membeli sepatu baru pun kandas. Meski begitu, kisah Sri ini berakhir bahagia karena seorang sahabat muncul sebagai penyelamat yang membelikan Sri sepasang sepatu baru dengan uang tabungannya.

Sebenarnya, kisah dengan tema serupa (tentang seorang anak dari keluarga tak mampu yang menginginkan sepasang sepatu, atau tentang seorang remaja yang dipandang sebelah mata oleh teman-temannya tapi mampu membuktikan prestasi yang bagus di bidang olahraga, atau tentang anak dari keluarga sederhana yang terbiasa menderita tapi tetap baik dan rendah hati) tidak begitu asing lagi. Tema sejenis mengingatkan saya pada sebuah film Indonesia jaman dulu Gadis Marathon, film asal Iran yang berjudul Children of Heaven, juga sinetron-sinetron tahun 90-an yang bertema kesederhanaan hidup: Rumah Masa Depan, Keluarga Cemara. Tapi, begitu tema tersebut diangkat oleh Arie Saptaji lewat novel remajanya ini, hal tersebut menjadi sesuatu yang unik (baca: berbeda) dari kebanyakan tema novel remaja yang ada. Kesederhanaan yang ditawarkan WSUS serupa angin segar di tengah keseragaman tema cinta-cintaan dan gaya hidup remaja urban yang terkesan glamor dan cenderung konsumerisme. Inilah yang menjadi salah satu rahasia kekuatan novel ini.

Sebagai “novel curhat”, WSUS bukanlah novel remaja pertama yang berasal dari cucuran hati si penulis. Sebagian besar novel remaja masa kini terinspirasi atau bermula dari pengalaman hidup penulisnya, yang kemudian ditumpahkan dalam bentuk buku harian atau blog pribadi, yang pada akhirnya berhasil diterbitkan dalam bentuk buku. Tapi, sebagai penulis yang telah menghasilkan banyak karya dan ada pula yang menorehkan prestasi, Arie Saptaji bercurhat dengan santun dan hati-hati. Ia tidak terjebak dalam keinginan untuk mengeluarkan semuanya sekaligus hingga meninggalkan kesan terburu-buru. Disebabkan hal itu, novel ini terkesan lebih hidup, baik penggambaran tokoh Sri maupun deskripsi setting-nya. Sebagai penulis, Arie Saptaji berhasil membawa kembali kenangannya tentang suasana Ngadirejo di tahun 1980-an dengan cukup meyakinkan.


Remaja Jadoel VS Remaja Jaman Sekarang


Seperti yang telah saya katakan di atas, saya sempat mengira arti kata “Warrior” pada judul novel karya Arie Saptaji ini adalah “prajurit”. Nyatanya, yang dimaksud Warrior adalah merk sepatu yang terkenal pada tahun 1980-an. Begitu tahu hal tersebut, otak saya dengan mudah menggambarkan kembali bentuk sepatu kets hitam beraksen putih yang pernah saya miliki dulu. Pertanyaannya, apakah anak remaja jaman sekarang (baca: yang lahir setelah tahun 1980-an) dengan mudah bisa menangkap maksud si penulis ketika memilih untuk menyisipkan begitu banyak istilah yang populer pada tahun 1980-an? Apakah tidak terjadi hal yang sebaliknya, mereka merasa ada suatu lompatan waktu yang tidak mereka mengerti, termasuk salah satunya membedakan antara sepatu Warrior yang beken jaman dulu dengan sneakers yang populer saat ini?

Bagi saya, yang tergolong remaja jadoel alias remaja jaman dulu, membaca WSUS ibarat membuka-buka album memori masa sekolah dulu. Banyak istilah yang telah saya kenali bertebaran di mana-mana. Misalnya, Lagu Pilihanku, Dunia Dalam Berita, Lima Sekawan, Little House hingga potongan bait lagu “Apanya Dong” milik Euis Darliah. Istilah-istilah itu muncul serupa kliping detil dari nuansa tahun 1980-an yang mau tak mau membuat setiap pembaca yang berstatus remaja jadoel dengan mudah mengikuti arus kisah Sri, termasuk saya. Hingga tibalah saya pada sebuah istilah yang kurang begitu saya kenali dan membuat saya bertanya kesana-kemari. Saya hanya mengenal Bobo dan Bibi Tutup Pintu, sebaliknya tidak dengan Kuncung dan Nenek Limbak. Siapa mereka?

Sri duduk di ambang pintu, membaca Si Kuncung yang dipinjamnya dari Mbak Ratih. Ia paling suka dengan Nenek Limbak. Dulu ada sempat terpikir olehnya untuk menyurati Nenek Limbak, agar membantunya mengatasi masalah sepatu. (hal: 98).

Pesan dan Kesan

Tak dapat dimungkiri, novel WSUS ini sarat pesan moral yang berguna, terutama bagi remaja. Yaitu, tentang persahabatan yang tulus dan kesederhaan hidup. Pesan moral dalam novel ini tersaji begitu sederhana dan apa adanya. Tak tampak  dipaksakan atau menggurui.

Sayangnya, novel ini pun sarat informasi yang menurut saya kurang penting. Informasi tersebut berupa artikel, biografi singkat sejumlah tokoh, hingga sebuah cerpen ditampilkan utuh dalam novel ini—cerpen tersebut bukan hasil karya si tokoh utama, Sri, melainkan bapak sahabatnya. Dari 177 halaman novel ini, sekitar 22 halamannya berisi informasi yang tidak ada sangkut pautnya dengan alur cerita. Seolah disajikan agar membuat pembacanya menjadi lebih pintar, tapi entah mengapa jsutru terkesan memaksakan. Misalnya, potongan artikel tentang Discovery, biografi  Adam Malik, Indira Gandhi, Jesse Owen, hingga Purnomo, sprinter Indonesia yang lolos ke semifinal 100 meter Olimpiade di Los Angeles, 1984. Terdapat pula, informasi yang terkesan lebih merupakan suara penulis, bukan suara Sri.

Sri tergeragap. Empat ratus tahun? Sri mencoba membalik-balik halaman sejarah. Tepat 400 tahun lalu, Sultan Baabullah, yang membawa Ternate ke masa keemasannya, meninggal dunia… dan VOC belum menginjakkan kaki di bumi pertiwi. Eropa sendiri masih geger setelah terbelah oleh Reformasi Luther….” (hal: 94)

Novel ini juga cukup sarat dengan kalimat indah dan kata-kata yang jarang digunakan dalam sebuah novel remaja jaman sekarang. Kata-kata yang memaksa pembacanya mengerutkan kening, mencoba menebak-nebak, sebelum kemudian membuka kamus Bahasa Indonesia untuk mencari artinya jika penasaran.

Namun, terlepas dari segala kekurangannya, Warrior: Sepatu Untuk Sahabat adalah salah satu novel remaja yang bertema sederhana dan sarat pesan moral.  Novel yang berhasil membawa pembacanya, terutama para remaja era 1980-an, bernostalgia ke masa lalu, termasuk saya.***

* Disampaikan dalam Obrolan Sastra yang diadakan kerjasama antara komunitas Apresiasi Sastra dengan Yayasan Umar Kayam, Yogyakarta, 5 Mei 2009.

** Penulis novel konyol dan novel anak. Novel etnografinya tentang Papua, Tanah Tabu, menjadi juara tunggal Sayembara Novel DKJ 2008.


Tuesday, September 11, 2012

Persiapan 20 September

Kantorku makin heboh menyambut Pilkada DKI Jakarta.
Asyiknya, pada kamis besok 20 September 2012, kantor diliburkan.
 Tempelan stiker Jokowidodo + Ahok di pintu salah satu ruang kerja

 Tempelan pasangan Joko Widodo dan Ahok di pintu ruang kerja Pdt. Andar Ismail. Tentu saja dipasang oleh yang empunya ruangan.

 Kalau ini bukan di kantor, entah siapa yang cukup iseng memberi baju kotak-kotak kepada almarhum Presiden Republik Indonesia, Soeharto.

 Samuel Saragih, Maya Krokok, Sari Mawarni yang bajunya kotak-kotak.

 Dua orang pendukung Jokowi-Ahok walau gak memegang KTP DKI Jakarta.

Renti juga berkotak-kotak.

Beberapa analisis dari Tempo

Jokowi menang tipis: Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) menyatakan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja akan unggul dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Dalam survei yang dilakukan 10-14 September dan melibatkan 1.250 responden ini, mereka unggul dengan selisih hampir tiga persen (selanjutnya)

Dilarang pakai baju kotak-kotak saat rapat DPR: Pemimpin Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat, Aziz Syamsuddin, melarang anggota komisi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memakai kemeja kotak-kotak dalam forum rapat dengar pendapat (RDP) dengan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Kepolisian RI, dan Kejaksaan Agung. Aziz menilai baju kotak-kotak merupakan ciri khas calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama. (selanjutnya)

Foke berwibawa dan ganteng: Dua pasang calon gubernur dan wakil gubernur DKI Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) dan Joko Widodo-Basuki Tjahaja (Jokowi-Ahok) punya keunggulan dan kekurangan masing-masing. Terkait pencitraan, hasil menarik mengenai keduanya dipaparkan Lembaga Survei Indonesia (LSI). (selanjutnya)

Pada Rabu 19 September malam, hampir bisa dipastikan timeline Facebook dan Twitter akan ada kampanye-kampanye amatiran. Misalnya: "Jakarta dimulai dengan huruf J bukan F. Plat nomor kendaraan Jakarta adalah B bukan N." Dan, sebagainya. Atau, di tulisan ini.

Oh ya, mereka yang berkotak-kotak pernah saya muat di "Baju-baju Jokowi-Ahok".

Bahkan kampanye hitam juga ada.
Foke pun rela datang ke PHMJ dan Sinode GPIB.

Wiryo Widianto, jauh-jauh dari Surabaya, rela mengenakan baju kotak-kota :-)



Coba update dari Hp

Senangnya hatiku dapat.update blog ini dari HP alias telepon seluler. "Terima kasih Android dan Sony Xperia.


Monday, September 10, 2012

Majalah INSPIRASI vol 35 September 2012

Telah terbit majalah INSPIRASI INDONESIA Volume 35/September 2012. Inspirasional, Spiritual dan motivasional. Berhadiah Tablet Android.

Tema edisi ini adalah “Gereja yang Bernyanyi’. Beberapa tahun terakhir, sejumlah gereja mulai lebih terbuka dengan kehadiran musik kontemporer dalam ibadah. Karena, musik ini ditengarai membuat jemaat pindah gereja. Benarkah? INSPIRASI menyajikan dinamika musik ibadah ini secara lengkap.

Mengapa Gading Marten tetap ceria walau banyak cobaan mendera? Simak rahasianya di edisi ini. Baca juga apa saja yang disiapkannya untuk mewujudkan pernikahan dengan sang kekasih, Gisel Idol. Ternyata, Ben Joshua memberi nama anak dari Alkitab dan Yuanita Christiani mengelola panti asuhan. 

Dapatkan tips praktis di edisi ini, cara menjelaskan seks kepada remaja; mengubah sampah dapur jadi berguna; dan mencegah stroke dengan wortel. 

Dapatkan majalah INSPIRASI Volume 35/September 2012. Hanya Rp 20.000, di BPK Gunung Mulia dan toko buku kesayangan Anda.  Jangan lupa, edisi ini berhadiah Tablet Android. Beli majalah, pilih cover, dan dapatkan hadiahnya.

Berlangganan, bebas ongkos kirim dan diskon 15%. Silakan kontak HP: 0813-991-999-30 atau inspirasi@bpkgm.com. 

Nyatakan iman melalui perbuatan, karya, dan prestasi bagi sesama dan Indonesia.
Salam Inspirasi.

User baru

Setelah dengan model baru ini, ternyata penulis blogku tinggal 1. Jadi deh aku setting ulang tambah satu lagi. Biar aku bisa tulis dari email hehehe.

Monday, September 3, 2012

Perang Jenderal Angkatan 1973

Pemilihan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta untuk periode 2012 - 2017 ini cukup unik. Panas dan sepertinya hampir tidak terkendali. Mungkin karena dua tahun lagi pemilihan presiden Republik Indonesia, jadi pilkada DKI Jakarta seperti menjadi ancang-ancang menyusun strategi selanjutnya. Yang menang di pilkada DKI, bakal banyak memperoleh keuntungan dalam putaran "final" pemilihan presiden Republik Indonesia.

Yang menarik,  dalam pilkada kali ini setidaknya ada tiga alumni Akademi Militer - 1973( perkecualian Prabowo Subianto yang ikut wisuda pada 1974) yang cukup berperan

   Infanteri
    1. Susilo Bambang Judojono : Presiden Republik Indonesia
    2. Agus Wira Hadi Kusumah : Almarhum (Mantan Pangkostrad)
    3. Judi Magio Jusuf Asisten Pengamanan Kasad
    4. Romulo Robert Simbolon : SekretarisMenteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan
    5. Kornel Simbolon mantan Wakasad
    6. Tri Subagio Staf Khusus Panglima TNI
    7. Asril Hamzah Cagub Sumatra Barat
    8. Bambang Wijono
    9. Rachmat Saptadji
   10. Saut Amang Negara Pasaribu
   11. Widhya Bagya
   12. Erick Hikmat Setiawan
   13. Mulja Setiawan
   14. Suwarno
   15. Soeprapto
   16. Darizal Basir
   17. Lumban Sianipar
   18. Muhammad Jasin
   19. Tri Susanto (Alm)
   20. Arief Budi Sampurno mantan Pangdam Wirabuana
   21. I Made Regog
   22. Iswandi Anas
   23. Frencius Sianipar
   24. Aluisius Darmadi
   25. Sutadji
   26. Rudjiono
   27. Herjadi
   28. Maidin Simbolon
   29. Satrya Buana
   30. Hartono Wisnu Prijanto
   31. Djunaid Diponegoro
   32. Bakry Bachruddin
   33. Sjamsul Ma'arif
   34. Floribertus Joko Kirmanto
   35. Murdijanto
   36. Zainal Moehnan
   37. I Nursjam Lamidjan
   38. Sugeng Waras
   39. Soedarno Henki
   40. Glenny Kairupan
   41. Rustam Effendi
   42. Djanial Asitumorang
   43. Bambang Pradjuritno
   44. Dibjo Kartono
   45. Harjanto
   46. Kamaluddin Ginting
   47. Alboin Basri Nababan
   48. Suwondo
   49. Djumara Frassad
   50. Tonny Adji
   51. I Made Yasa
   52. Hotma Bonar Simanungkalit
   53. Suhasah
   54. Sugijoto
   55. Hizbul Waton
   56. Bambang Suherman
   57. Bambang Tri Narko
   58. Wainto
   59. Harry Hermyanto
   60. Amril Almunir
   61. Mohammad Sjahrul
   62. Anton Herry Biantoro
   63. Rachmat Suhardi
   64. Farel Edward Simatupang
   65. Yuktayana Tjitra Wasita
   66. Samsu Aman
   67. Soedarno
       
   68. Nasib
   69. Heru Murtiono
   70. Tanto Yuwono
   71. Richard Simorangkir
   72. Henry Suparto
   73. Sjamsul Mappareppa
   74. Karijono
   75. Sujono
   76. Sudjarwo
   77. Dwi Edi Purnomo
   78. Sukijat
   79. Nana Sutisna
   80. Mochammad Sadir
   81. Seto Resmiantoro
   82. Sutisna Karnadi Pura
   83. Jasri
   84. Soripati Keriahengintingmuthe
   85. Bambang Suprijadi
   86. Santoso
   87. Umar Banteng
   88. Muhammad Jusuf Usman
   89. Endang Suwarja
   90. Prajoga
   91. Sjahrial B. P. Peliung
   92. Tjahjo Wahono
   93. Mudakir
   94. Wismono
   95. Mohammad Fauzzi
   96. Koesnan (Alm)
   97. Heru Sudibjo
   98. Mochamad Ibnu
   99. Bambang Emut Samiadji
   100. Mochammad Chandra Zazoeli
   101. Tris Suryawan Adi Widjaja
   102. Ade Muljono
   103. Junggara Binstok H. Simandjuntak
   104. Boni Fasius Praptono
   105. Markus Budi Susanto
   106. Subandrijo
   107. Adjang Gunawan
   108. Amir Sjaparuddin
   109. Soebarijadi
   110. Hasruddin H.A.S.
   111. Johnny R.B. Pangkey
   112. Mula Sihotang
   113. Mhd. Gadillah
   114. Mundari
   115. Djanahalim
   116. Freddy Mana Hampi
   117. Syarieffudin Sumah
   118. Anwar Muchtar Kamase
   119. Soeseno Joedoprawiro
   120. R. Sutetyo
   121. Dedi Hadiana
   122. Raden Darmadja
   123. Ermond Pelam
   124. Achmaruddin Sjambas
   125. Gatot Sujiman
   126. Imam Sunarjo Hutagalung
   127. Wardojo
   128. Huminsa Sihombing
   129. Philipus Kokok Sudjatmiko
   130. Mafrudi
   131. Jusnur Affandy
   132. Tjutju Mochamad Sumirat
   133. Saur Binton Silalahi
   134. Dewa Hadi Mulja
       
   135. Achmad Djunaidi Sikki
   136. Saugani Nurhasan
   137. Sri Hutomo
   138. Paimin
   139. Darjono
   140. Johanes Djoko Agus Soendjatin
   141. Syaffudin Baki
   142. Makmursyah
   143. Marulam Pandaitan
   144. Sandjojo
   145. Nana Suherna
   146. Masa Purba
   147. Mangapon Hariandja
   148. Jojo Keswara
   149. Sugiarto
   150. Bambang Sugito
   151. Wishnu Sumardjono Sakti
   152. Asep Pribadi
   153. Muhamad Nasir Harahap
   154. Dedi Hidajat Effendi
   155. Agus Edyono
   156. Sugijarto
   157. Nukman Munthe
   158. Nanno Purnomo
   159. Basjuni Djuned (Alm)
   160. Manunnutun Effendi Tamba.
   161. Muslihat Durachman
   162. Sujana
   163. Hikajat
   164. Djasmin Senos
   165. F.X. Bacharso
   166. Asmono
   167. Bambang Kartijo
   168. Aaaaosin Herlianto
   169. Susilo
   170. Suratno
   171. Muljono
   172. Indiono
   173. Petrus Ed
   174. Juju Gelar Winacchju
   175. Supriadi
   176. Lili Suwarli Enceng
   177. Kusnadi
   178. Tony Arditoro
   179. Hwrri Tjahjana
   180. Kusnan
   181. Trijanto
   182. Slamet Rijanto
   183. Agus Sujitno
   184. Rachmat Nurdin Moch Idris
   185. Endang Rachmat
   186. Achmad
   187. Fransiskus Xaverius Murdijanto
   188. Lili Suherlan
   189. Jusup Dahasan
   190. Sjafel Usman
   191. Hasoloan Situmeong
   192. Bamabang Sudibyo
   193. Wahjudi Eko Purnomo
   194. Raden Suhadiwarto
   195. I. Sjaid Mudjito
   196. Imam Budijono
   197. Momo Sugema
   198. Hasan Suwito
   199. Mochamad Rusdin
   200. Suroso
   201. Muhammad Dahar
       
   
   Kavaleri
    1. Soenardi
    2. Wahju Sumpena
    3. Leksmono
    4. Suwarso
    5. Kastin
    6. Slamet Rianto
    7. Endang Supriyadi
    8. I Made Sutapa
    9. Bambang Subekti
   10. Suparman Endro Tanojo
   11. Atjep Suhara
   12. Sugijono
   13. Eddy Widjaja
   14. Endang Suhara
   15. Sunarjanto
   16. Slamet Hadisiswojo
   17. Bambang Parikesit
   18. Suendro
   19. Ian Tachjon Gustiawan Somantri
       
   
   Armed
    1. U. Suchri
    2. Antonius Junano
    3. Sunarso
    4. Bambang Sigit Irianto
    5. Muljanto Isa Mangun
    6. Slamet Prajitno
    7. Ignatius Paulus Sisworo
    8. Zulrizal Hamid
    9. Sentot Subijanto
   10. Bambang Asto Nugroho
   11. Moch Budiarto
   12. Baru Sanusi
   13. Rustandi
   14. Sumantri Irawan
   15. Soeprapto
   16. Muhammad Sjarwani
       
   
   Zeni
    1. Sihono
    2. Soeprato Usman
    3. Nandang Djatnika
    4. Johannes Sri Darmanto
    5. Hary Bambang Purnomo
    6. Sugiarto Agus Siswanto
    7. Entjep Purnomo
    8. Sutomo
    9. Dedi Kusnadi
   10. Budi Santoso
   11. Siswanto
   12. Ratyono
   13. Achmadun Fauzi
   14. Bambang Prijono
   15. Rudjito
   16. Afandi
   17. Sutanto
   18. Rusman
   19. Mufad Santoso
   20. Imam Santoso
       
   21. Rameli
   22. Richard Geoffry
   23. Heru Subroto
   24. Kimun
   25. Kuntana Djajadi
   26. Elvin Djamal
   27. Soekiman Kadir
   28. Murhadi
   29. Bambang Sjaiful Basri
   30. Nurhadi
   31. Muchinun
   32. Samidjan
   33. Ade Sedarmana
   34. Zainuddin Siregar
   35. Heru Srijatno
   36. Heru Karwadji
   37. Stewart Ardji
   38. Kamal
   39. Effendi Tambunan
   40. Theodores Rudy Setiawan
       
   
   Peralatan
    1. Sanson Basar
    2. Hans Johan Rares
    3. Achmad Masjkuri
    4. Achdi Suparma
    5. Bambang Hutama Dijono
    6. Mustika Jati
    7. Sujono
    8. Massi
    9. Sudjatmiko Nasir
   10. Muljono
   11. Slamet Irianto
   12. Walujo
   13. Timbul Wahjudi
   14. Marjoto
   15. Heru Gunaedi
   16. Tri Poedjo
   17. Eddy Djoko Santoso
   18. Subijanto Hadi
   19. Achmad Subandi Pasni
       
   20. Ade Djamhuri
   21. Wartojo
   22. Bambang Harjadi
   23. Soenarjo
   24. Elvia Amzil
   25. R. Bambang Soebagyo
   26. Lili
   27. Susilo
   28. Jantje Wuwung
   29. Mohamad Asli
   30. Karsono
   31. Hasbullah
   32. Ridijana Salamun
   33. Suwanto
   34. Sumarmo
   35. Fortunatus Prihmartono
   36. Sagiono
   37. Bambang Subijono
       
   
   Perhubungan
    1. Koestomo
    2. Eustachius Supribabadio
    3. Iwan Surjadi
    4. Hadi Suprapto
    5. Suhadi
    6. Sebastianus Sumarsono
    7. Bambang Sutedjo
    8. Sauripkadi
    9. Partojo
   10. Slamet Widodo
   11. Pertal Salam
   12. Chumaidi Ichsan
   13. Poedjo Tarsipin
   14. Sarwoko
   15. Romualdus Prahasto Pranoto Putro
   16. Sugito
   17. Ichrom
   18. Halili Sumawidjaja
   19. Achmad
       
   20. Wagiman Hardi
   21. Darwis Darussalam
   22. Singgih Soesanto
   23. Surachman
   24. Mochamad Djaja
   25. Masnizar Maurbas
   26. August Sunarto
   27. Sajid Ahmadi Didi
   28. Raden Anwar Purnawan
   29. Nachrowiramli
   30. I Wajan Sudirja
   31. Fransiskus Xaverius Heru Waluyo
   32. Bambang Sugeng
   33. Suratno
   34. Chris Pranowo
   35. Purnomo
   36. Sugeng Widodo
   37. Sutjipto
   38. Iskandar
       
   
   Pom
    1. Darjoto
    2. Muchammad Ichan
    3. Aladin
    4. Sudirman Panigoro
    5. Mungkono
    6. Djasri
    7. Mansjur
    8. Wasisto
    9. Sofjan
   10. Imam Budiono
   11. Pitojo Pambudi
   12. Arden Lumban Toruan
   13. Soekardi
   14. Kunarianto
   15. Soegijanto
   16. Sukimin
   17. Kusbandijo
   18. Tjatja Tjachjana
   19. Suwandi
   20. Djoko Sungkono
       
   
   Ajen
    1. Abdul Wachid Abdullah
    2. Ngatawi Karso Hadiwidjaja
    3. Mochamad Aris Munandar
    4. Jana Surjana Kwartaman
    5. Bartholomeus Pidjath
    6. Suhartomo
    7. Budi Santoso
    8. Sumarsono
    9. Parman
   10. Suhairi
   11. Harjanto
   12. Soetarto
   13. Djoko Soengkono
   14. Suhary Zainuddin Basjariah
   15. Eman Suparman
       
   
   Intendan
    1. Gautama Aloeijoes
    2. Rianzi Julidar
    3. Mochamad Warto
    4. Hudojo Sulaiman Putra
    5. Heru Sukrisno
    6. Amari
    7. Agusno Hady Teruno
    8. Harso
    9. Thomas Indradi
   10. Sugijarto
   11. Irama Ledhy
   12. Soemarjono
   13. Tatang Suprijatna
   14. Sudarmanto
   15. Edje Surjana
   16. Sukaelantoro
   17. Handarjono
   18. Lukman Saksono
       
   
   Angkutan
    1. Jacobus Daniel
    2. Abdul Salam
    3. Johanis Pongsammar
    4. Soegianto
    5. Marhula Sipajung
    6. Nesep Rachmat
    7. Nasir Agam
    8. Sumarjana
    9. Soebandi
   10. Fransiscus Xaverius Muhamad Asikin : mantan pegawai Kementrian Pertahanan
   11. Johanes Sugijanto
   12. Baso Ali
   13. Sahetapy Matheos
   14. Bustam Chaidir Saleh
   15. Suwarso
   16. Harijono
   17. Sudarmono
       
   
   Keuangan
    1. Joso Prajitno
    2. Ngatidjo Teguh Suhardijono
    3. Mochtar Darise
    4. Joedho Adiasmoro
    5. Mohamad Maksum
    6. Posma Luhut Panutury Aritonang
    7. Nurdjiman
    8. Rijoso
    9. Suhardi
   10. Endang Darmawan
   11. Radjamantan Purba
   12. Djumadiono
   13. Sjuaib Suhardi
   14. Bambang Margono
   15. Prihandono