Thursday, October 25, 2012

Kekuatan Sebuah Kehidupan

Tiap orang lahir tidak langsung tahu untuk apa ia hidup
Ia hanya bergantung pada yang mencintai hidupnya
Lalu
Ada yang tahu
Ada yang tidak tahu

Yang tahu ialah beruntung
Yang tak tahu buntung

Asal ia berani hidup
Suatu saat ia bakal tahu
Meski detik terakhir

Wednesday, October 24, 2012

Momen INSPIRASI karya Alex Japalatu


Buku ini berisi renungan dengan mengamati kejadian kehidupan sehari-hari. Banyak kejadian sederhana yang seringkali luput dari pengamatan. Renungan dalam buku ini terbagi atas 6 klasifikasi, yaitu  Kesetiaan, Sikap dan Teladan, Semangat dan Antusiasme, Kedamaian & Bersyukur.

Momen Inspirasi  merupakan kumpulan renungan yang pernah disiarkan Radio Pelita Kasih. Renungan ini sebagai bahan refleksi banyak momen di sekitar kita dan dapat membantu Anda menambah kekayaan jiwa. Kekayaan jiwa dapat diperkaya dengan melihat hal-hal sederhana dengan sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang yang berdasarkan rasa bersyukur dan kasih serta karya Allah akan membuat kita lebih arif dan bijak dalam memahami anugerah hidup ini.

Penulis tidak hanya memberi nasihat namun juga memberi contoh sederhana dalam hidup sehari-hari yang sering luput dari perhatian kita.

Bacaan ringan, mudah dicerna sebagai bahan renungan.

Terbagi atas beberapa klasifikasi, yaitu, Kesetiaan, Sikap dan Teladan, Semangat dan Antusiasme, Kedamaian & Bersyukur sehingga memudahkan pembaca mencari klasifikasi renungan yang diinginkan.

Tuesday, October 23, 2012

Thursday, October 18, 2012

Launching Buku Jejak-jejak Suci

Kejadiannya sih sudah beberapa bulan lalu. Di antara para editor dan marketer BPK Gunung Mulia, kami mengadakan launching kecil-kecil buku Jejak-jejak Suci 2.

Ini dia foto-fotonya

Bersama Miktam Lilo di Pizza Hut Atrium Senen

Bak Selebritis, menandatangani buku Jejak-jejak Suci 2

Kira-kira sebesar ini bukunya. Tampak kiri adalah tangan 
Kepala Cabang Jakarta, Michael Dwi Pratama Jati

He he he

Berfoto bersama Kepala Toko BPK Gunung Mulia, Edy Sutarno

Wednesday, October 17, 2012

HaPe Sony Experia Tipo

Sony Experia Tipo hitam
Wah mantep banget.
Sudah dicoba memutar mp4, asyik. Kalau audio sih memang Sony tidak ada tandingannya.


Wednesday, October 10, 2012

Kafe Dayat

Tempat mengalihkan sejenak dari kepenatan seusai kerja.
Terletak di Jl. Kwitang, Jakarta Pusat.

Ini pemandangan langit siang hari saat mengunjungi kafe ini.

Kafe pada malam hari, semangat persaudaraan sebagai sesama pekerja proletar sangat kental.

Monday, October 8, 2012

Ingin Menjitak Yesus


"Bayangkan kalau anak itu diculik, 1 kali 24 jam bisa sudah sampai ke Amerika," kata Aris Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia saat mengajukan usulan supaya standar orangtua melaporkan kehilangan anak ke kepolisian tidak harus menunggu 1x24 jam. Sebab, angka penculikan anak sangat tinggi dan tingkat anak ditemukan kembali setelah hilang hanya 40%. Kisah selengkapnya ada di tempo.co.

Bukan hanya karena level statistik tersebut Dwiani Asih dan sayapun selalu was-was kalau dalam beberapa menit tiba-tiba tidak terdengar celoteh Lilo saat bermain-main dengan teman-temannya. Entah, tiba-tiba menghilang ke rumah tetangga atau ternyata memang karena saking asyiknya berkonsentrasi pada permainan tertentu Lilo tidak tidak berceloteh.

Setelah kami memastikan Lilo baik-baik saja, kami melanjutkan kegiatan kami: mencuci, memasak, baca buku, browsing, atau menonton TV.

Dua ribu tahun lalu, Yesus kecil menghilang dari rombongan peziarah yang selesai melakukan ritual Paskah di Yerusalem. Dari ratusan peziarah dari berbagai daerah ini memang terdapat warga kampung Nazaret, tempat tinggal keluarga Yusuf, seorang ningrat miskin dari dinasti yang sudah ratusan tahun runtuh.

Setelah beberapa hari berjalan pulang, anak mereka, Yesus, ternyata tidak terdengar celotehnya. Entah kapan ia menghilang. Yusuf mungkin mengira anaknya sedang bersama ibunya. Maria, sang ibu mungkin mengira sang anak sedang bersama ayahnya atau bermain dengan teman-teman sekampungnya. Di barisan belakang.

Jika benar dokter Lukas mencatat Injilnya bersumber dari Maria, kisah bukunya pasal 2:41-51 ini memang ditulis dari sudut pandang orangtua. Sudut pandang saya kini. Belasan tahun saya berkali-kali membaca atau mendengar kisah ini, baru kali ini menemukan sudut pandang baru.

Lukas (atau Maria), tidak semata-mata menekankan cerita ini hanya pada bukti bahwa Yesus sudah punya hikmat mulia melampaui umurnya. Juga, tidak hanya menekankan pada peneguhan ke-anak-Allah-an. Kisah ini juga menekankan perkembangan iman orangtua yang "dipasrahi" mendidik sang Mesias.

Kenyataan bahwa mereka cemas mencari Yesus, bukti bahwa mereka pun manusia-manusia normal layaknya kita. Padahal, 12 tahun lalu berbagai penampakan dan kejadian-kejadian spektakuler mampir dalam hidup mereka.

Saya tertegun saat membaca percakapan antara Maria dengan Yesus setelah akhirnya mereka menemukan anak sulung mereka (mungkin baru saja lewat aqil-balik) sedang asyik berbincang dengan para guru besar. Jelas, dalam kondisi itu dalam benak suami-istri itu tidak bakal terlintas rasa bangga karena anak abege mereka mampu berdebat dengan para profesor. Jika, Aris Merdeka Sirait menyarankan sebelum 1 kali 24 jam, anak hilang harus dilaporkan, betapa saya tidak mampu membayangkan anak mereka menghilang 3 hari. Airmata Maria mungkin sudah kering karena kecemasan yang luar biasa ini. Jadi mari kita simak percakapan berikut.

"Nak, mengapa kaulakukan ini kepada kami? Ayahmu dan ibumu cemas mencari engkau!" kata orangtua Yesus (Luk 2: 48 -BIMK dengan modifikasi).

Jawab Yesus, "Mengapa ayah dan ibu mencari Aku? Apakah ayah dan ibu tidak tahu bahwa Aku harus ada di dalam rumah Bapa-Ku?" (Luk. 2:49 - BIMK dengan modifikasi).

Hihhhhhhhh, kalau saya jadi Yusuf, mungkin tindakan pertama yang ingin saya lakukan (saya mengabaikan para ulama-ulama terkenal di sekitar saya) adalah menarik Yesus menjauh lalu menjitaknya. Lalu ngomel, "Kau tahu nggak, ibumu sudah sampai kering airmatanya, dan kamu enak-enakan di sini. Sudah gitu ngomong yang enggak-enggak. Kasihan ibu tahu. Sana minta maaf sama ibu."

Untung saya bukan Yusuf atau sebenarnya kejadiannya seperti tuturan saya, tetapi Lukas mengeditnya untuk kepentingan jemaat. Tidak ada yang tahu. Sebab, di tempat lain, Lukas pun menangkap kegagalan keluarga Yesus ini dalam memahami tugasnya di dunia (Luk. 8:20-21).

Dan, pencerahan pun datang kepada saya. Jika saya yang manusia lemah ini selalu bergumul dengan iman, saya tinggal memandang mereka yang dalam lukisan selalu digambarkan berhalo yang juga bergumul dengan iman mereka. Bahkan saya punya kelebihan, sebab mereka yang disantakan-atau-disantokan pernah berinteraksi secara fisik dengan sang Putra. Dan, saya tidak.

Sebagai orangtua, saya juga ditolong untuk memandang celoteh anak-anak tidak sambil lalu atau—lebih parah—malah emosi tinggi kalau jawabannya tidak berkenan dengan hati kita. Sebab, bisa jadi celoteh mereka memiliki nilai hikmat yang tinggi. Bukankah, "Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya" (Luk. 18:17 -BIMK).

Foto di atas adalah kami bertiga sewaktu tinggal di Jogja.

Lukisan di atas karya Brian Jekel.

Saturday, October 6, 2012

Wednesday, October 3, 2012

Paradoks Minoritas





Saya pernah membaca buku tentang konsep paradoks. Sebegitu menarik contoh yang ia berikan sehingga sudah puluhan tahun pun saya selalu teringat konsep tersebut. Contoh dalam buku tersebut adalah tentang atlet lari 100 meter yang kelelahan luar biasa.

Kisahnya begini, seorang pelari 100 m, jika lintasannya dibagi separo-separo, maksudnya si atlet berlari menuju separo lintasan, kemudian ia lari menuju separo dari separo lintasan sisanya, lalu ia berlari separo dari seperempat lintasan sisanya, lalu berlari lagi menuju separo dari seperdelapan sisa lintasan, si atlet sampai kapan pun tidak akan pernah mencapai finish.

Bingung? Mari kita lihat gambar lintasan paradoks berikut.



Gambar di atas melambangkan lintasan lari 100 meter. Warna kuning, berarti pelari sudah mencapai 50 m. warna merah 75 m, warna biru 87,5 m. Tiap mencapai setengah dari sisa lintasan, kita bedakan warnanya. Gambar saya terakhir, pelari mencapai 93,75 m. namun masih ada sisa 6,25 m sisa yang harus dicapai setengahnya lagi. Sampai sisa lintasan sangat kecil, sampai kapan pun pelari tersebut hanya mencapai setengah sisa lintasan.

Kalau digambarkan dalam grafik, kinerja sang pelari tersebut adalah:


Grafiknya berbentuk exponensial. Pada waktu kapan pun titik-titik  tersebut tidak akan bakal menyentuh titik nol meter. Saya bayangkan betapa atlet tersebut bakal mengalami kelelahan luar biasa.

Untunglah para atlet lari tidak pernah menghitung berapa lama ia mencapai setengah lintasan. Jadi, mau 9 detik, 10 detik, atau berapa pun, ia akan mampu melewati garis finish.

Walau begitu, lintasan paradoksikal banyak terjadi dalam ilmu pengetahuan alam: sebaran spektrum warna, pola tidur, berbagai reaksi kimia.

Yang menarik, dalam kehidupan sosial manusia cenderung mempunyai perilaku paradoksikal. Yaitu, perilaku menindas dan menghancurkan minoritas. Menurut saya perilaku tersebut sangat paradoks. Karena di dalam mayoritas pasti terdapat minoritas.

Misalnya etnis. Hitler berusaha menghancurkan etnis Yahudi karena dalam benaknya, suatu saat dunia hanya ada ras Arya. Namun, ia lupa di dalam ras Arya ada berbagai macam sub-etnis. Seandainya Hitler berhasil menghancurkan semua sub-etnis dan tinggal sub-etnis Jerman. Ia masih masih lupa di dalam sub-etnis Jerman masih ada sub-sub etnis lagi. Misalnya ada yang kidal atau tidak.Hitler tidak bakalan dapat mencapai satu titik di mana orang-orang yang ada di sekitarnya bakal seragam mutlak. Kecuali ia sanggup sendirian di muka bumi.

Sayangnya, pemikiran paradoks kini malah digemari di Indonesia. Agama harus satu. Satu dalam hal ini bukan sekadar agamanya. Juga penafsirannya juga seragam.

Seandainya tiap manusia menyadari matematika paradoks ini, pasti kita bakal lebih menghargai keberagaman. Sebab, keseragaman itu paradoks.



Monday, October 1, 2012

Majalah INSPIRASI INDONESIA Volume 36/Oktober 2012




Telah terbit majalah INSPIRASI INDONESIA Volume 36/Oktober 2012. Inspirasional, Spiritual dan motivasional. Berhadiah Tablet Android.

Tema utama Inspirasi kali ini adalah “Kami Kuat Melewati Jalan Ini: Bagaimana Anak Korban Perceraian Bertahan?” Perceraian selalu menyisakan masalah, terutama bagi anak-anak. Namun, bagaimana anak-anak itu bertahan dan bahkan mampu melewatinya? Inspirasi mengungkapnya untuk menjadi inspirasi bagi Anda.

Shandy Aulia, yang orangtuanya bercerai, mementingkan kualitas kerohanian calon suaminya. Maka,  saat pacaran ia berdoa, “Tuhan, jika dalam enam bulan ia belum mau mengenal Engkau lebih dalam, saya putusin.”

Selain tema utama, simak juga kisah Juju Fita Sahir , yang dua dari lima anaknya autis. Harapan di dalam Tuhanlah yang menghidupkan semangatnya.

Dapatkan majalah INSPIRASI Volume 36/Oktober 2012. Hanya Rp 20.000, di BPK Gunung Mulia dan toko buku kesayangan Anda.  Jangan lupa, edisi ini berhadiah Tablet Android. Beli majalah, pilih cover, dan dapatkan hadiahnya.

Berlangganan, bebas ongkos kirim dan diskon 15%. Silakan kontak HP: 0813-991-999-30 atau inspirasi@bpkgm.com. 

Nyatakan iman melalui perbuatan, karya, dan prestasi bagi sesama dan Indonesia.
Salam Inspirasi.