Monday, October 8, 2012

Ingin Menjitak Yesus


"Bayangkan kalau anak itu diculik, 1 kali 24 jam bisa sudah sampai ke Amerika," kata Aris Merdeka Sirait, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia saat mengajukan usulan supaya standar orangtua melaporkan kehilangan anak ke kepolisian tidak harus menunggu 1x24 jam. Sebab, angka penculikan anak sangat tinggi dan tingkat anak ditemukan kembali setelah hilang hanya 40%. Kisah selengkapnya ada di tempo.co.

Bukan hanya karena level statistik tersebut Dwiani Asih dan sayapun selalu was-was kalau dalam beberapa menit tiba-tiba tidak terdengar celoteh Lilo saat bermain-main dengan teman-temannya. Entah, tiba-tiba menghilang ke rumah tetangga atau ternyata memang karena saking asyiknya berkonsentrasi pada permainan tertentu Lilo tidak tidak berceloteh.

Setelah kami memastikan Lilo baik-baik saja, kami melanjutkan kegiatan kami: mencuci, memasak, baca buku, browsing, atau menonton TV.

Dua ribu tahun lalu, Yesus kecil menghilang dari rombongan peziarah yang selesai melakukan ritual Paskah di Yerusalem. Dari ratusan peziarah dari berbagai daerah ini memang terdapat warga kampung Nazaret, tempat tinggal keluarga Yusuf, seorang ningrat miskin dari dinasti yang sudah ratusan tahun runtuh.

Setelah beberapa hari berjalan pulang, anak mereka, Yesus, ternyata tidak terdengar celotehnya. Entah kapan ia menghilang. Yusuf mungkin mengira anaknya sedang bersama ibunya. Maria, sang ibu mungkin mengira sang anak sedang bersama ayahnya atau bermain dengan teman-teman sekampungnya. Di barisan belakang.

Jika benar dokter Lukas mencatat Injilnya bersumber dari Maria, kisah bukunya pasal 2:41-51 ini memang ditulis dari sudut pandang orangtua. Sudut pandang saya kini. Belasan tahun saya berkali-kali membaca atau mendengar kisah ini, baru kali ini menemukan sudut pandang baru.

Lukas (atau Maria), tidak semata-mata menekankan cerita ini hanya pada bukti bahwa Yesus sudah punya hikmat mulia melampaui umurnya. Juga, tidak hanya menekankan pada peneguhan ke-anak-Allah-an. Kisah ini juga menekankan perkembangan iman orangtua yang "dipasrahi" mendidik sang Mesias.

Kenyataan bahwa mereka cemas mencari Yesus, bukti bahwa mereka pun manusia-manusia normal layaknya kita. Padahal, 12 tahun lalu berbagai penampakan dan kejadian-kejadian spektakuler mampir dalam hidup mereka.

Saya tertegun saat membaca percakapan antara Maria dengan Yesus setelah akhirnya mereka menemukan anak sulung mereka (mungkin baru saja lewat aqil-balik) sedang asyik berbincang dengan para guru besar. Jelas, dalam kondisi itu dalam benak suami-istri itu tidak bakal terlintas rasa bangga karena anak abege mereka mampu berdebat dengan para profesor. Jika, Aris Merdeka Sirait menyarankan sebelum 1 kali 24 jam, anak hilang harus dilaporkan, betapa saya tidak mampu membayangkan anak mereka menghilang 3 hari. Airmata Maria mungkin sudah kering karena kecemasan yang luar biasa ini. Jadi mari kita simak percakapan berikut.

"Nak, mengapa kaulakukan ini kepada kami? Ayahmu dan ibumu cemas mencari engkau!" kata orangtua Yesus (Luk 2: 48 -BIMK dengan modifikasi).

Jawab Yesus, "Mengapa ayah dan ibu mencari Aku? Apakah ayah dan ibu tidak tahu bahwa Aku harus ada di dalam rumah Bapa-Ku?" (Luk. 2:49 - BIMK dengan modifikasi).

Hihhhhhhhh, kalau saya jadi Yusuf, mungkin tindakan pertama yang ingin saya lakukan (saya mengabaikan para ulama-ulama terkenal di sekitar saya) adalah menarik Yesus menjauh lalu menjitaknya. Lalu ngomel, "Kau tahu nggak, ibumu sudah sampai kering airmatanya, dan kamu enak-enakan di sini. Sudah gitu ngomong yang enggak-enggak. Kasihan ibu tahu. Sana minta maaf sama ibu."

Untung saya bukan Yusuf atau sebenarnya kejadiannya seperti tuturan saya, tetapi Lukas mengeditnya untuk kepentingan jemaat. Tidak ada yang tahu. Sebab, di tempat lain, Lukas pun menangkap kegagalan keluarga Yesus ini dalam memahami tugasnya di dunia (Luk. 8:20-21).

Dan, pencerahan pun datang kepada saya. Jika saya yang manusia lemah ini selalu bergumul dengan iman, saya tinggal memandang mereka yang dalam lukisan selalu digambarkan berhalo yang juga bergumul dengan iman mereka. Bahkan saya punya kelebihan, sebab mereka yang disantakan-atau-disantokan pernah berinteraksi secara fisik dengan sang Putra. Dan, saya tidak.

Sebagai orangtua, saya juga ditolong untuk memandang celoteh anak-anak tidak sambil lalu atau—lebih parah—malah emosi tinggi kalau jawabannya tidak berkenan dengan hati kita. Sebab, bisa jadi celoteh mereka memiliki nilai hikmat yang tinggi. Bukankah, "Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya" (Luk. 18:17 -BIMK).

Foto di atas adalah kami bertiga sewaktu tinggal di Jogja.

Lukisan di atas karya Brian Jekel.