Thursday, November 29, 2012

Kehendak Kita dan Kehendak Allah


"Yang baik buat manusia, tidak baik buat Allah!" kata Yudas Iskariot
(kutipan dari film The Last Temptation of Christ).

Pada setiap doa-doa orang Kristen selalu terselip harapan bahwa kelak keinginan kita menjadi sama dengan keinginan Tuhannya. Betapa keinginan Sang Esa adalah yang terbaik dan jika kini masih ada perbedaan, mereka akan terus menerus memperbaikinya supaya kelak sama.

Harapan ini mungkin terinspirasi dari doa Yesus Kristus yang dikenal dengan nama "Doa Bapa Kami,"
.... datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. ... (Mat. 6:10) asumsinya kehendak-Nya adalah yang terbaik.

Atau, rintihan Yesus di hari kematian-Nya, "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi."

Namun, sepertinya selama ribuan tahun, doa-doa ini belum dikabulkan. Kefrustrasian  dan harapan yang begitu dalam ini tecermin dalam teriakan Martin Scorsese, Nikos Kazantzakis, dan Paul Schrader melalui mulut Harvey Keitel yang memerankan Yudas Iskariot dalam film The Last Temptation of Christ.

Dan, dalam percakapan penuh emosi antara Yudas dan Yesus pun, jawaban Yesus (diperankan aktor jenius, Willem Dafoe) tidak terlalu jelas. Hanya sang Yesus menekankan tentang kematian yang sudah ditakdirkan, yang bagi Martin Scorsese, Nikos Kazantzakis, dan Paul Schrader dan miliaran manusia inilah kehendak terbaik dari Allah. Hal yang menambah frustrasi Yudas.

Lalu, kapankah yang baik bagi manusia menjadi baik bagi Allah? Jawabannya bukanlah sebuah axioma, tetapi menjalani hidup penuh refleksi sampai akhir. Sebab, yang mengecewakan hari ini belum tentu terus mengecewakan. Yang menggembirakan detik ini, belum tentu menyenangkan detik berikutnya.