Monday, December 31, 2012

Akhir tahun 2012

Tahun 2012 saya dipaksa keadaan untuk belajar berbagai hal. Semoga tahun depan, lebih longgar.

Tuesday, December 25, 2012

Mejeng di depan piramid.

Jaraknya setidaknya 2 km di belakang saya.masing masing batu berdimemsi setidaknya 1m kubik.

Natal: Waktunya Berempati kepada Para Pengungsi dan Eksil



Benar, Natal selain perayaan terhadap hadirnya kedamaian (sebuah utopia) di dunia, saya menyarankan ini adalah saat yang tepat untuk menghormati dan mengingat mereka yang mengungsi dan eksil (terasingkan dari negeri sendiri).

Di Indonesia sendiri setidaknya ada 16 ribu pengungsi karena berbagai sebab. Di dunia ini menurut United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) ada lebih 10 juta pengungsi di seluruh dunia. Organisasi yang dibentuk setelah perang dunia kedua ini menangani para pengungsi terutama akibat perang.

Indonesia sendiri, para pengungsi tersebut datang dari berbagai negara. Dahulu ada dari Kamboja, kini ada dari Afganistan dan beberapa negara Timur Tengah yang terlibat konflik dan menjadikan Indonesia tempat transit sebelum menuju ke negara ketiga tujuan mereka.

Yang, makin membuat kita perlu prihatin, ternyata selain sebagai tempat transit, Indonesia juga dalah sumber pengungsi dan eksil. Peristiwa 30 September 1965 menyebarkan warga negara Indonesia ke hampir seluruh penjuru Indonesia. Ada yang kembali ke Indonesia. Ada yang tidak.  Bahkan perubahan rezim, setelah 20 Mei 1998, tidak semua para eksil yang masih hidup, kembali ke Indonesia. Walau dengan berbagai alasan.

Perubahan arus politik sempat belas tahun lalu pun membawa korban. Kekerasan kepada etnis cina, menghasilkan eksil yang sampai sekarang masih belum berkenan kembali ke Indonesia.

Yang saya ceritakan belum termasuk warga negara kita yang harus mengungsi karena konflik horizontal yang disebabkan perbedaan kepercayaan, etnis, dan pandangan politik yang tidak eksil ke luar negeri, tetapi tidak dapat menikmati kehidupan di tempat kelahiran mereka.

Yang tersingkir dari tempat hidup damai mereka juga bukan hanya karena konflik, melainkan juga karena berbagai bencana. Baik bencana alamiah, juga bencana "non-alamiah".

Ingat. Di awal hidupnya, Yesus dan orangtuanya adalah eksil.

Mungkin saat Natal, kita hanya mengingatnya sebagai bayi mungil lucu dikelilingi halo (juga dikelilingi domba dan hewan-hewan ternak) dan sedang disembah para gembala dan tiga orang majus. Atau, kita mengingat Natal dalam bentuk pohon cemara sintetik (yang bahan utamanya dari minyak bumi yang makin habis). Dengan salib/malaikat di atasnya.

Ingat. Yang Anda baca di Alkitab, tentang seorang ibu yang terpaksa membiarkan bayinya tidur di tempat pakan ternak—apa pun penjelasan rasional untuk melunakkan efek kekejiannya—adalah akibat keserakahan seorang penguasa yang hendak mengeruk kekayaan. Dan, di Indonesia banyak sekali terjadi seperti itu, entah karena lumpur, tambang, keyakinan iman sang penguasa. Jadi, saat kita memandang boneka bayi di bawah pohon cemara berbahan polyethilene, kita tidak sekadar mensyukuri bahwa hidup kita sudah lengkap karena mendapat kapling di surga. Kita ingat bahwa di sekitar kita ada banyak bayi-bayi yang tidak dapat lahir di tempat normal.

Ingat. Beberapa tahun setelah si anak terpaksa lahir di tempat yang tidak layak, karena kekerasan berlatar belakang politik, mereka terpaksa eksil ke Mesir. Terus terang, di mana pun di dunia ini, dunia adalah tempat yang tidak adil.

Oh ya, saat Natal ini, kita harus mengingat orang-orang Palestina yang sejak 65 tahun lalu terusir dari tanah kelahiran mereka. Dan, kini mereka belum mendapatkan kembali kemerdekaan mereka yang terampas karena keserakahan Israel. Ironisnya oleh mereka yang satu bangsa dengan Yesus Kristus (walau definisi ini juga terlalu menyimplikasi masalah di kawasan yang dulu disebut Kanaan ini).

Saat ini banyak pengsungsi Palestina yang tersebar hampir di seluruh dunia, terutama di Libanon, Yordania, dan Mesir (ditangani oleh UNHCR dan berbagai lembaga kemanusiaan).


Jadi, selamat Natal. Salam dari Kairo Mesir.

Bayu Probo


Note:
Kutambahi tulisan apik karya Simon Rachmadi

Tentang Hari Natal, apakah benar Tuhan Yesus lahir pada tanggal 25 Desember?
Jawabnya: seperti membagi suatu bilangan dengan angka nol, alias "tak terdefinisikan". Tampaknya bukan.

Hal yang sama berlaku untuk Paskah. Tanggal berapakah Tuhan Yesus bangkit? Jawabnya sama: "tak terdefinisikan".

Kedua titik utama dalam kalender gerejawi tersebut bukannya mau mengekalkan sesuatu yang terjadi pada masa silam, namun untuk menyatakan apa-apa yang akan terjadi di masa depan: yaitu, harapan bahwa "Tuhan akan datang" dalam kesempurnaan-Nya.

Buktinya?

Ya, lihatlah sejarahnya. Natal ditetapkan berdasarkan sistem kalender Romawi, yang mengacu sistem solar (kalender matahari). Paskah ditetapkan dengan mengawinkan sistem kalender Romawi dan sistem kalender Yahudi (campuran sistem solar dan lunar), sehingga bergerak maju-mundur dari tahun ke tahun.

Natal ditetapkan dengan asumsi: "titik tergelap di jagad manusia" (i.e. dunia Romawi), yaitu tanggal 24 Desember. Idenya, dengan lahirnya Sang Kristus, maka jagad keluar dari kegelapan.

Paskah ditetapkan dengan asumsi: "titik harapan" (i.e. berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim semi), yang ditandai terbitnya bulan purnama. Maka, rumus penentuan tanggal Paskah adalah: pada hari Minggu pertama, sesudah equinox (bulan pertama terbit di musim semi). Rentang waktunya antara bulan Maret-April setiap tahun. Maka, kita mengalami deretan tanggal-tanggal Paskah yang berubah-ubah, seperti:


  • 12 April 1998
  • 23 Maret 2008
  • 12 April 2009
  • 4 April 2010
  • 24 April 2011
  • 8 April 2012
  • 31 Maret 2013
  • 12 April 2020
  • dst.

Dan dari acuan tanggal Paskah itu, ditentukanlah hari-hari istimewa lainnya, yaitu: Rabu Abu (46 hari sebelum Paskah), Minggu Palma (7 hari sebelum Paskah), Jumat Agung (3 hari sebelum Paskah), Kenaikan Tuhan (39 hari sesudah Paskah), dan Pentakosta (49 hari sesudah Paskah).

Sistem penghitungan tersebut di atas masih harus ditambah 1 hari, karena terjadi campuran antara sistem solar-lunar. Pada sistem solar, hari berganti pada pukul 12 malam. Pada sistem lunar, hari berganti pada pukul 6 petang. Maka, hari-hari besar liturgis menjadi "hari panjang" yang waktunya bukan 24 jam, tetapi 30 jam.

Kalau merayakan Pakah, misalnya, seharusnya dirayakan pada Hari Sabtu sore pukul 6 petang. Sebab, saat itu sistem solar bergabung dengan sistem lunar; dan akibatnya, hari Sabtu menjadi pendek. (Orang boleh pulang kerja lebih cepat. He..he..., supaya bisa ke Gereja; jangan ke night-club.)

Logika tersebut berlaku untuk semua hari besar, termasuk Natal. Seharusnya, perayaan Natal dimulai pada tanggal 24 Des pk 18:00, sebab saat itulah "Sang Juruselamat" meretas batas kegelapan, dan kita pun lalu menyalakan lilin Natal.

Pada hari Jumat Agung, perayaannya menjadi "heavy duty". Karena dimulai pada Hari Kamis Pu tih, yang mengawali drama penyaliban Kristus. Awalannya adalah: pembasuhan kaki para murid, lalu "tuguran" (vigil, lek-lek-an, doa semalam suntuk), kemudian "jalan salib" di fajar Jumat Agung, hingga "wafat Kristus" pada pukul 3:00 siang. -- Sesudah itu, acara menjadi sepi, sampai 27 jam kemudian, ketika Paskah dimulai pada hari Sabtu senja. -- Hitungan "hari wafat" Kristus pun lalu menjadi campuran logika dwi-sistem-kalender ini. Tuhan wafat, dan bangki pada hari ketiga: yaitu, (dihitunglah: Jumat, Sabtu, Minggu)...nah..hari Minggu! Maksudnya, sejak Sabtu sore pukul 18:00 menurut tatanalar manusia modern saat ini.

Nah, othak-athik kalender itu mau apa, sich?

Yang jelas, itu bukan untuk mengekalkan peristiwa masa silam. Bukan juga untuk merayakan ulang tahunnya Tuhan. Namun, untuk mengolah disiplin doa, bagi Gereja, supaya dapat menajamkan harapan akan kedatangan Tuhan di masa depan. Artinya, untuk menajamkan "sense of crisis" di komunitas orang percaya, supaya visi-misi mereka lebih hidup.

Entah mau silaturahmi keliling kampung, atau mau jalan-jalan di mall, atau mau khusyuk di gereja, silakan saja. Semoga masa-masa agung macam ini semakin mempertinggi mutu cinta dan karya-bakti kita. Selamat merayakan Adven, dan selamat mempersiapkan diri untuk menyambut Natal. Tuhan Yesus, datanglah segera. Maranatha.


Salam,
Simon Rachmadi


Monday, December 24, 2012

Wednesday, December 19, 2012

Kucing Hitam dan Kucing Putih


Ucapan Deng Xiao Ping pada pertemuan partai pekerja China, 1961, di Guangzhou, ""It doesn't matter whether it's a white cat or a black, I think; a cat that catches mice is a good cat," jadi sangat terkenal. Ia tidak sekadar berbincang tentang binatang karnivora untuk membasmi binatang pengerat menyebalkan di rumah. Ia berbincang tentang perubahan pendekatan ekonomi bagi negara berpenduduk lebih dari 1,3 miliar.

Dan, entah ia memakai "kucing putih" atau "kucing hitam" akhirnya ekonomi berbuah drastis. Terbukti hingga sekarang. Entah ke depan?

Namun, pepatah yang sangat terkenal ini sepertinya menjadi lambang pragmatisme. Cenderung semacam sikap menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Jika tujuannya baik apakah berarti cara yang dilakukan boleh jahat? Karena sepertinya China mulai menghadapi masalah akibat keputusan tanpa penduli "kucing" itu.

Bagaimana dengan Indonesia?

Wednesday, December 5, 2012

Veritas, Truth, Kebenaran

"Kebenaran? Apakah kebenaran?" tanya Pilatus kepada Yesus

Dalam sebuah kesempatan dengan Tomas, Yesus menjawab, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" " (Yoh.14:6).

Setelah itu, apa kata mereka?

"Saat Anda mengatakan kebenaran, Anda tidak harus mengingat apa pun," ― Mark Twain.

"Ketika putus asa, saya ingat bahwa sejarah mencatat kebenaran dan cinta selalu menang. Ada tiran dan pembunuh, dan untuk sementara waktu, mereka tampaknya tak terkalahkan, tetapi pada akhirnya, mereka selalu jatuh. Ingatlah itu selalu, " — Mahatma Gandhi.

"Seni adalah kebohongan yang memungkinkan kita untuk menyadari kebenaran," — Pablo Picasso.

"Semakin banyak yang saya lihat, semakin sedikit saya yakin," — John Lennon.

"Tidak ada fakta, interpretasi saja," — Friedrich Nietzsche.

"Ketika sedih, lihatlah lagi dalam hati Anda, dan Anda akan melihat bahwa sebenarnya Anda sedang menangisi sesuatu yang telah menyenangkan Anda," — Kahlil Gibran.

"Di hadapan Allah, kita semua sama-sama bijaksana dan sama-sama bodoh," — Albert Einstein.

"Mengejar kebenaran dan keindahan adalah kegiatan yang membuat kita diizinkan untuk tetap jadi anak-anak seumur hidup," — Albert Einstein .

"Ini adalah kebenaran. Anda tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Hidup adalah perjalanan gila, dan tidak jaminan," — Eminem.

Jadi apakah kebenaran itu? Saya kira ada baiknya kita melakukan saran Nabi Muhammad ini, "Berjuanglah selalu unggul dalam kebajikan dan kebenaran." Sebab, " Ada tiga hal yang tidak bisa lama tersembunyi: matahari, bulan, dan kebenaran," kata Sang Buddha.

Kebenaran itu bukan hal statis, kebenaran berkembang.

Saturday, December 1, 2012

Majalah INSPIRASI Edisi Desember 2012

Mewujudnyatakan Kasih Allah, tema INSPIRASI kali ini. Sebagai pribadi dan komunitas orang beriman kita tertantang agar kasih Allah terwujud dalam kehidupan sesama kita. Di masa Natal ini, mari kita simak kiprah saudara seiman yang menwujudnyatakan kasih Allah di negara kita tercinta. Juga, penuturan Irjen (Pol) Benny Mamoto, Direktur Badan Narkotika Nasional tentang peran gereja dalam mencegah pemakaian narkoba di antara generasi muda. INSPIRASI menyajikannya untuk menginspirasi Anda.
Di sudut lain di dunia, Betlehem di waktu Natal menjadi simbol kesatuan orang Palestina dan dunia, apa pun agamanya.
Lalu, mengapa Mikha Tambayong harus merasakan kesedihan di malam Natal karena tidak dapat beribadah. “Saya pulang tengah malam. Semuanya sudah selesai. Kue tinggal sisanya saja. Saya tidak akan lupa pengalaman ini, dan tidak boleh terulang,” kata Mikha serius.
Tips: Mengatur waktu agar produktif. Mengubah hidup dengan reframing. Dahsyatnya doa seorang ayah.