Monday, February 25, 2013

Wisatawan Indonesia di Israel


Indonesian Flag
Bendera Indonesia Berkibar di Danau Galilea

Fajar di akhir tahun 2012 serombongan wisatawan sudah berada di dermaga di pantai Danau Galilea, di pinggiran kota Tiberias. Mereka tak sabar menaiki perahu yang bakal membawa mereka mengarungi danau yang tercatat di Alkitab ini. Mereka adalah peziarah yang telah mengarungi rute yang disebut dalam Alkitab sejak dari Kairo, mendaki gunung Sinai di tengah gurun Sinai dengan gagah berani menghadapi kemungkinan penculikan akibat kondisi Mesir yang kurang kondusif pasca penggulingan Husni Mubarak.

Mereka juga sudah khatam berlari-lari di kawasan kota tua Yerusalem demi mengunjungi sebanyak mungkin lokasi ziarah: Makam Yesus, Markas Pontius Pilatus yang konon di bekas benteng Antonia. Rumah Imam Besar Kayafas, dan ke Betlehem--tempat Yesus dilahirkan.

Ecce Homo Arch
Lengkung "Lihatlah Orang Itu" (tercatat di Yohanes 19:5)

Mereka juga berkunjung tempat mukjizat air menjadi anggur, Desa Kana. Dan, kini bersiap untuk menikmati perahu yang konon jenisnya sama dengan yang dinaiki para rasul Kristus.

Perahu di Danau Galilea

Di tengah hiruk-pikuk tersebut, saya teringat cerita salah seorang pemandu tentang betapa orang-orang Indonesia secara tidak langsung telah menyelamatkan pariwisata Israel. Kisahnya, pada waktu itu terjadi Intifada Kedua, sekitar tahun 2000-an, konflik Palestina-Israel ini bahkan sampai membuat pemimpin Palestina waktu itu, Yasser Arafat harus berlindung di gereja Kelahiran Kristus di Betlehem karena diserbu pasukan Israel.

Karena masalah itu, ditambah penabrakan dua pesawat komersial ke gedung World Trade Center di Amerika Serikat pada 2002, pariwisata Israel jeblok (lihat grafik di bawah). Sebab, negara-negara di Eropa,  Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan yang secara tradisi warga negaranya punya kebiasaan berziarah ke tempat-tempat religius di Israel, takut datang. Bahkan, tanpa travel warning pun mereka takut datang.

Sumber: Kementrian Pariwisata Israel

Anjloknya pariwisata ini tentu saja membuat pemerintah kelimpungan. Namun, konon pada saat kondisi keamanan yang bagi orang-orang Barat dianggap buruk, ternyata di Indonesia, semangat untuk mengunjungi objek-objek wisata di Israel sedang naik daun. Alhasil, orang-orang Indonesia tetap menyusuri Yerusalem dan sekitarnya. Ajaibnya, bahkan saat sampai kini di tengah tiadanya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel.

Konon lagi, wajah-wajah orang Indonesia yang terlihat keluyuran di tengah-tengah berbagai tempat ziarah tersebut ditangkap kamera-kamera TV Israel dan disebarluaskan ke seluruh dunia untuk mengiklankan betapa Israel masih aman dikunjungi. Akibat gencarnya iklan tersebut, pariwisata Israel pun kembali pulih.

Namun, apakah benar demikian, saya kesulitan mencari data valid tentang itu. Hanya, tidak sulit mencari pemandu wisata lokal--beretnis Yahudi atau Arab--yang mampu berbahasa Indonesia secara sempurna.

Betapa tidak, dengan kunjungan yang mencapai 22 ribu orang pertahun orang Indonesia, wisatawan pemberani ini adalah potensi ekonomi yang tidak sedikit. Apalagi, konon orang Indonesia gemar berbelanja.