Saturday, March 30, 2013

Sabat Sunyi

 Kerumunan di Lorong Yerusalem.

Seandainya saya salah satu kerumunan orang di Yerusalem pada masa perayaan Paskah Yahudi 30 Masehi, akan merasakan juga ketegangan memuncak di kota penuh konflik itu dua ribuan tahun lampau. Saat itu semua orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia memenuhi lorong-lorong sempit Yerusalem. Mereka mendaki menuju bangunan terindah waktu itu: Bait Allah. Temboknya yang serba pualam, saat terkenan matahari musim semi akan terlihat bersinar-sinar bak diselimuti salju.

Kerumunan itu bisa dari mana saja: Heliopolis di Mesir, Etiopia, Persia, Kirene, atau bahkan dari Roma. Dengan penuh khidmat, mereka hendak menyambut peringatan saat dua ribu tahun lalu nenek moyang mereka hijrah dari lembah Gosyen di muara Sungai Nil menuju tanah Kanaan, tempat mereka kini berpijak. Mungkin saat mendaki bukit Sion, ada beberapa yang bersikap seperti peziarah Tibet yang hendak mengunjungi Istana Potala: tiap tiga langkah mereka bersujud ke arah gedung keramat itu. Yang jelas, hiruk pikuk menjelang tanggal 14 bulan Nisan—bulan kuno yang saat itu tidak mereka gunakan secara praktis, karena penguasa Romawi menggunakan penanggalan Julian—sangat terasa, terutama banyak bahasa-bahasa asing bersliweran di telinga penduduk asli Yerusalem.

Namun, di tengah para peziarah itu, setidaknya ada tiga sampai empat batalion tentara Roma disiagakan di benteng Antonia yang menempel di utara kompleks Bait Allah. Satu batalion lainnya disebar ke penjuru kota. Sang wali negara Yudea, Pontius Pilatus, yang sudah empat tahun familiar dengan situasi ini, walau dengan malas terpaksa harus hadir di Yerusalem.Di tengah situasi yang tidak nyaman ini, tentu saja ia merindukan kehangatan pesisir Kaisarea, walaupun sudah ditemani Caludia Procula di sisinya.Sungguh ia sangat malas berurusan dengan orang-orang keras kepala yang bisa setiap saat mengadu ke Roma dan membuatnya harus jadi santapan singa Colosseum.Tetapi, apa daya kerumunan sukaria ini bisa tiba-tiba berbalik arah menjadi kerusuhan yang tak terkendali.

Kesebalan Pilatus ada benarnya juga.Sebab, beberapa kompi pasukan pengawal Bait Allah—prajurit terdiri dari orang-orang Yahudi yang ditugasi Imam Besar untuk mengatur ketertiban kawasan Bait Allah—bisa menjadi musuh dalam selimut jika mendadak para imam yang selama ini menjadi kolaborator Roma, berubah pikiran.Orang-orang tanpa pendirian itu seperti bulu tertiup angin.

Belum lagi, kehadiran Herodes Antipas—anak Herodes-tua-yang-dulu-bertakhta-di-Yerusalem-ini. Sepeninggal Herodes tua, takhtanya oleh Roma dianugerahkan ke saudara si Antipas ini: Arkhelaus. Namun, karena kegilaan si Arkhelaus yang membantai enam ribu orang Farisi, ia dibuang ke Roma. Kini, Antipas turut hadir dalam acara Paskah, padahal tidak ada setetes pun darah Yahudi mengalir dalam tubuhnya. Ayahnya orang Edom, ibunya orang Samaria. Apakah Antipas mengincar takhta Yerusalem? Mungkin Pilatus membatin begitu. Walau ia menguasai Galilea, daerah tersubur dan termakmur wilayah Kanaan, Yerusalem sebagai wilayah Yudea, jauh lebih bergengsi dan metropolit. Syukur-syukur ia bisa menguasai seluruh wilayah Kanaan ini.Sepertinya Antipas ini sengaja datang menunggu Pilatus "kepleset".

Benteng Yerusalem

Yang ditakutkan Pilatus tampaknya terjadi. Pagi-pagi, Mahkamah Agama Yahudi tampak bergerombol di depan istananya. Mereka bahkan tidak mau masuk istananya, najis, kata mereka. Benar-benar kurang ajar benar mereka. Kalau Pilatus tidak mengingat, orang-orang menjijikkan itu punya jaringan di Roma, bakalan ia lempar semua ke penjara dan menggantung mereka di luar tembok kota.

Di tengah wajah-wajah marah itu, ada seorang yang terbelenggu, telanjang, nyaris tanpa pakaian, dan tubuh babak belur. Orang-orang marah itu menuntut laki-laki telanjang itu dihukum mati. "Apa pedulinya," mungkin terlintas di pikiran Pilatus. Kalau urusan internal agama mereka, mengapa ia harus dilibatkan. Ia ingat laki-laki yang sekarang mati hidupnya ada di tangannya, sebagai wakil Roma, hanya ia yang punya hak memberi hukuman mati di wilayah Yudea ini, adalah seorang Galilea. Maka dikirimlah laki-laki itu ke Antipas, rajanya.

Hari itu sehari sebelum Sabat dan gerombolan orang-orang tampaknya makin tak sabar. Namun, mereka mau tidak mau harus menggiringnya kepada Herodes. Herodes yang menerima dengan senang hati karena penasaran dengan manusia yang disebut-sebut titisan Yohanes Pembaptis yang pernah ia penggal kepalanya tiga tahun lalu. Namun, karena orang Nazaret itu diam membisu, Herodes mengembalikannya kepada Pilatus.

Yerusalem Waktu Malam

Akhirnya, Pilatus memilih untuk cuci tangan. Dan, laki-laki berumur 30-an, yang sudah disiksa habis-habisan, harus mengakhiri hidupnya di luar tembok kota Yerusalem—Kota Damai—dengan cara paling menjijikkan waktu itu: disalib. Disalib, bagi orang Yahudi menjadi lambang sang narapidana telah ditolak olah bumi dan langit. Bagi orang Roma, hukuman ini bahkan tidak boleh dikenakan kepada warga negaranya. Si narapidana mati sekitar tiga jam sebelum matahari terbenam, sebelum Sabat dimulai.

Jika saya adalah kerumunan yang hadir hari itu. Peristiwa sehari sebelum Sabat ini tentu bakal menggiring saya untuk mengikuti kehebohan dari pagi hingga sore itu.Dan, tentu saja saya akan menonton kekejaman tiada tara seperti yang tercatat dalam Lukas 23:35 Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Saya tidak tahu apakah sebagai orang yang ikut mencemooh atau yang hanya membatin betapa kejam para penguasa agama itu (Luk. 23:48). Entahlah, saya benar-benar tidak tahu.Sebab, kecuali para perempuan yang menangis di sekitar salib, murid-murid laki-laki yang kemarin-kemarin dipanggil Rabi ini tidak tampak batang hidungnya.Hanya tampak anak remaja yang mungkin masih salah satu famili laki-laki di salib itu, sebab sepertinya orang yang digantung di salib itu berkata-kata kepada si remaja itu.

Dan, saya pun pulang ke penginapan setelah bersama-sama kerumunan itu menikmati makan malam Paskah: roti tak beragi dan daging domba bakar tak berbumbu. Malamnya, tidur di kegelapan tanpa penerangan, karena Sabat tidak boleh ada pelita, dengan was-was. Di tengah penyaliban tadi ada gempa. Jangan-jangan bakal ada susulan.

Dan, Sabat pagi pun begitu sunyi.





Wednesday, March 20, 2013

Mount Sinai Climbing Trip


Mount Sinai climbing trip started from a base of a camel ride. Promptly at 1:00 am, our group started to walk up the mountain is 2,500 meters high. Temperature reaches 0 degrees Celsius to make three layers of clothing wrapped around my body feels like a thin cloth. Teeth chattering sound. And, most made ​​more miserable is the smell of camel dung that was overpowering. However, the journey must be made.

I am the oldest member of the group climbers. When I tried to follow their age is still the head of the two, I just had wheezing. And, the trip was full of misery began.


There are at least five stations resting on this trip. I called the station. Actually it is kind of small shops that provide warmth, hot water, coffee, tea, and snacks. What's interesting is these stations provide branded Indomie instant noodles. Indomie really mate!

Climb through steep cliffs. The stones mixed with sand --- of course mixed with camel dung were disgusting - making roads slippery. Reportedly, during the rain (or snow) climbing definitely canceled. Fortunately, it was early morning moon illuminates our journey. Of course, I was always behind. I have to always take a break to breathe.


Mount Sinai including Egyptian territory. It is said that this mountain is where the people of Israel before the time of Moses receiving the Ten Commandments. We currently live together this way Moses. I myself do not remember whether the trip is done the middle of the night or day. However, the possibility that Moses climbing more dangerous. Therefore, the rows of climbing course unformed as I pass now.








Thursday, March 14, 2013

Rumah Tercantik di Amman Yordania

Di Amman, Yordania terdapat rumah indah berbendera Indonesia. Konon, ini adalah rumah Prabowo Subianto.


Prabowo Subianto House

Wednesday, March 6, 2013

Gadget Menggeser Pola Interaksi Sosial?

Apakah "serbuan" gadget di sepuluh tahun terakhir ini membuat pola interaksi berubah? Apakah gadget-gadget tersebut membuat orang cenderung "autis"? Kata autis untuk menggambarkan kebiasaan  tidak peduli dengan orang lain sebenarnya istilah kejam yang tidak menghormati mereka yang menderita autisme. Lebih tepatnya istilahnya adalah cuek dengan sekitar.

Sebenarnya bisa jadi pola interaksi sedikit berubah. Malah menguntungkan, terutama mereka yang tidak memiliki kemampuan verbal yang bagus. Mereka yang introvert, banyak tertolong dengan gadget ini.


Friday, March 1, 2013

Yesus Nonton Bola


Tulisan ini bukan dalam rangka menyambut bigmatch antara Manchester United dan Real Madrid pada 6 Maret 2013, di Old Trafford, Machester, Inggris.

Salah satu tulisan Pastor Anthony de Mello SJ, dalam bukunya Burung Berkicau, cukup menarik. De Mello, dengan apik menangkap kondisi di sekitarnya, di tempat kelahirannya, Mumbai, India, juga daerah pelayanannya. Yang menarik, tulisannya relevan dengan kondisi di mana pun di dunia. Tulisan tentang Yesus menonton bola ini sangat menarik, begini kisahnya.

Yesus Kristus berkata bahwa Ia belum pernah menyaksikan pertandingan sepakbola. Maka kami, aku dan teman-temanku, mengajak-Nya menonton. Sebuah pertandingan sengit berlangsung antara kesebelasan Protestan dan kesebelasan Katolik.

Kesebelasan Katolik memasukkan bola terlebih dahulu. Yesus bersorak gembira dan melemparkan topinya tinggi-tinggi. Lalu ganti kesebelasan Protestan yang mencetak goal. Dan, Yesus bersorak gembira serta melemparkan topinya tinggi-tinggi lagi.

Hal ini rupanya membingungkan orang yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk pundak Yesus dan bertanya: "Saudara berteriak untuk pihak yang mana?"

"Saya?" jawab Yesus, yang rupanya saat itu sedang terpesona oleh permainan itu. "Oh, saya tidak bersorak bagi salah satu pihak, Saya hanya senang menikmati permainan ini."

Penanya itu berpaling kepada temannya dan mencemooh Yesus: "Ateis!"
Sewaktu pulang, Yesus kami beritahu tentang situasi agama di dunia dewasa ini. "Orang-orang beragama itu aneh, Tuhan," kata kami. "Mereka selalu mengira, bahwa Allah ada di pihak mereka dan melawan orang-orang yang ada di pihak lain."

Yesus mengangguk setuju. "Itulah sebabnya Aku tidak mendukung agama; Aku mendukung orang-orangnya," katanya. "Orang lebih penting daripada agama. Manusia lebih penting daripada hari Sabat."

"Tuhan, berhati-hatilah dengan kata-kataMu," kata salah seorang di antara kami dengan was-was. "Engkau pernah disalibkan karena mengucapkan kata-kata serupa itu."

"Ya --dan justru hal itu dilakukan oleh orang-orang beragama," kata Yesus sambil tersenyum kecewa.

***

Yah, itu sebuah kenyataan yang pahit. Bahkan hingga matinya Romo Tony, pada 1987 lalu, kondisi yang dikeluhkan pria India ini tetep saja masih menghantui dunia yang sudah tua ini. Entah mengapa agama malah menciptakan perpecahan, padahal para pendirinya mengharapkan melalui agama ini, dunia menjadi lebih baik untuk ditinggali.

Mungkin memang naluri manusia untuk saling menghancurkan tidak mungkin dilawan manusia itu sendiri, meskipun didasari keinginan baik sebuah agama. Bahkan, agama menjadi semacam pisau bermata dua yang merusak kemanusiaan.