Friday, March 1, 2013

Yesus Nonton Bola


Tulisan ini bukan dalam rangka menyambut bigmatch antara Manchester United dan Real Madrid pada 6 Maret 2013, di Old Trafford, Machester, Inggris.

Salah satu tulisan Pastor Anthony de Mello SJ, dalam bukunya Burung Berkicau, cukup menarik. De Mello, dengan apik menangkap kondisi di sekitarnya, di tempat kelahirannya, Mumbai, India, juga daerah pelayanannya. Yang menarik, tulisannya relevan dengan kondisi di mana pun di dunia. Tulisan tentang Yesus menonton bola ini sangat menarik, begini kisahnya.

Yesus Kristus berkata bahwa Ia belum pernah menyaksikan pertandingan sepakbola. Maka kami, aku dan teman-temanku, mengajak-Nya menonton. Sebuah pertandingan sengit berlangsung antara kesebelasan Protestan dan kesebelasan Katolik.

Kesebelasan Katolik memasukkan bola terlebih dahulu. Yesus bersorak gembira dan melemparkan topinya tinggi-tinggi. Lalu ganti kesebelasan Protestan yang mencetak goal. Dan, Yesus bersorak gembira serta melemparkan topinya tinggi-tinggi lagi.

Hal ini rupanya membingungkan orang yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk pundak Yesus dan bertanya: "Saudara berteriak untuk pihak yang mana?"

"Saya?" jawab Yesus, yang rupanya saat itu sedang terpesona oleh permainan itu. "Oh, saya tidak bersorak bagi salah satu pihak, Saya hanya senang menikmati permainan ini."

Penanya itu berpaling kepada temannya dan mencemooh Yesus: "Ateis!"
Sewaktu pulang, Yesus kami beritahu tentang situasi agama di dunia dewasa ini. "Orang-orang beragama itu aneh, Tuhan," kata kami. "Mereka selalu mengira, bahwa Allah ada di pihak mereka dan melawan orang-orang yang ada di pihak lain."

Yesus mengangguk setuju. "Itulah sebabnya Aku tidak mendukung agama; Aku mendukung orang-orangnya," katanya. "Orang lebih penting daripada agama. Manusia lebih penting daripada hari Sabat."

"Tuhan, berhati-hatilah dengan kata-kataMu," kata salah seorang di antara kami dengan was-was. "Engkau pernah disalibkan karena mengucapkan kata-kata serupa itu."

"Ya --dan justru hal itu dilakukan oleh orang-orang beragama," kata Yesus sambil tersenyum kecewa.

***

Yah, itu sebuah kenyataan yang pahit. Bahkan hingga matinya Romo Tony, pada 1987 lalu, kondisi yang dikeluhkan pria India ini tetep saja masih menghantui dunia yang sudah tua ini. Entah mengapa agama malah menciptakan perpecahan, padahal para pendirinya mengharapkan melalui agama ini, dunia menjadi lebih baik untuk ditinggali.

Mungkin memang naluri manusia untuk saling menghancurkan tidak mungkin dilawan manusia itu sendiri, meskipun didasari keinginan baik sebuah agama. Bahkan, agama menjadi semacam pisau bermata dua yang merusak kemanusiaan.