Wednesday, April 17, 2013

Dunia Pararel: Nyata vs Maya

Kalau jeli mengamati perkembangan dunia media sosial. Kita akan mendapati semacam kondisi pararel yang bersifat paradoks antara kondisi kehidupan nyata seseorang dengan kehidupan media sosialnya. Ada yang rame di dunia nyata, pendiam di media sosial. Kebalikannya juga ada.

Namun, ada juga yang sejajar. Pendiam di dunia nyata, pendiam di media sosial. Namun, ada yang aneh. Seseorang yang kita kenal sering mengeluh dan merasa sering menjadi korban (pembunuhan), tetapi di dunia media sosial Twitter, ia malah jadi seorang motivator. Misalnya, saat ia memotivasi anak-anak yang sedang persiapan Ujian Nasional (UN) kemarin. Padahal, daripada aktif twitter-an, waktu yang terbuang untuk memikirkan kalimat motivasi tersebut mending ia gunakan mengawasi anak buahnya memastikan penyelenggaraan bisa diselenggarakan serempak. Sayang, sudah terlambat. Tapi yah, setidaknya daripada sering mengeluh dan diliput pers, setidaknya ia punya kumpulan kalimat motivasi. Kembali ke laptop (sambil telapak tangan dikerucutkan ke mulut dan bergerak maju mundur).

Beberapa situs pemantau aliran percakapan dunia maya tersebut, ternyata menyimpulkan bahwa hal-hal nyata di dunia nyata bisa ditelusuri dari berbagai percakapan galau dan alay dunia maya.

Jadi, ingat nubuat Andy Warhol.